Renita Oktavia

I read so I write

Oktober 6, 2019

Jaka Tarub: Lelaki dalam Senja Toyawening

Bismillah

Jaka namaku, Jaka Tarub … pemuda sebatang kara yang entah bagaimana, takdir membawaku kepada seorang wanita. Cantik parasnya membuat ombak bergulung di hatiku, terlebih ketika netranya bersirobok denganku. Sungguh, sepasang mata sendu itu mampu merobohkan segenap sekat yang membelenggu.

Nawang Wulan … demikian nama wanita yang membuat hatiku tertawan. Wanita dengan mata kecil terduduk di bawah alisnya yang tipis, dengan bibir yang mampu menghasilkan senyuman mematikan.

Dua tahun kuarungi bahtera cinta bersamanya. Hingga lahirlah Nawangsih, buah cinta yang memagut sukma.

Kau tentu tahu bagaimana kisahku di masa lalu, kan? Kau pun pasti menganggap akulah penyebab perginya Nawang Wulan. Padahal, tidak demikian. Dia sendiri yang memutuskan menuju kahyangan, meninggalkanku bersama putri semata wayang kami dan tentu saja … kenangan.

“Aku harus pergi, Mas!” ucapnya kala itu. Kuraih tangannya lalu kukecup mesra.

“Tidak bisakah kau tinggal di sini bersamaku? Lihatlah putri kita. Ia sangat membutuhkanmu.” Ia mendekati Nawangsih yang terlelap dalam buaianku. Diciuminya wajah mungil itu.

“Tinggallah,” rintihku sekali lagi. Tetapi kali ini, Nawang Wulan tak peduli. Ia berkemas dan bersiap pergi.

“Maaf, Mas.”

Aku berusaha menggenggam jemarinya, tetapi ia melepasnya begitu saja.

Ia berbalik arah. Selendang merah jambu itu membuat kecantikannya semakin tak terbilang. Angin bertiup kencang. Kudekap Nawangsih dalam pelukan.

“Nawang Wulan, katakan bagaimana caranya agar aku bisa menemuimu,” tanyaku setengah berteriak sambil terus memeluk buah hatiku.

Ia menoleh ke arahku, “Engkau tahu di mana harus menemuiku, Mas.”

Wuz.

Nawang Wulan melesat jauh bersama gemintang malam.

=========

Dua belas purnama berlalu semenjak peristiwa memilukan itu. Aku yang terus menunggu, tetapi Nawang Wulan tak pernah sekali pun muncul di hadapanku.

Betapa setiap hari aku menanti di balik pintu. Berharap kekasihku datang dan menuai rindu. Tetapi apa dayaku. Memandang wajahnya saja aku tak mampu. Apalagi menuntaskan rindu yang terus menderu.

“Sayang, aku rindu,” rintihku pilu.

Ah, Nawang Wulan. Kau tidak pernah gagal menanam benih rindu yang membuai menghujam kalbu. Sekeras apa pun aku menepis rasaku, ia selalu berjejalan di kepalaku. Terus begitu.

Nawang, jika rinduku padamu kutumpahkan pada lautan, akankah ia sanggup menampungnya? Sedangkan aku di sini terapung dalam genangan air mata dan kenangan kita.

Anganku seketika melayang, melesak pada memori beberapa tahun silam, saat hatiku yang rapuh dibasuh embun kesejukan bersama hadirnya Nawang Wulan.

===

Danau Toyawening, beberapa tahun silam.

Lelah berjalan seharian setelah berjualan, aku beristirahat sejenak di pinggir danau. Terlihat tiga bangku kayu panjang berjajar di bawah cabang pohon yang menjerungkau.

Aku memilih duduk di bangku paling tengah. Lalu kukeluarkan seruling dari balik bajuku. Seruling itulah satu-satunya temanku kala dirundung pilu. Aku mendesah. Gelisah tak terarah.

Kumainkan seruling. Kunikmati setiap alunannya. Hingga tanpa kusadari, ada sosok yang tiba-tiba saja telah duduk menemani.

“Kamu pintar bermain seruling, ya?” Suara itu mengagetkanku. Kuhentikan permainan serulingku.

“Kamu siapa?” tanyaku sambil memicingkan mata, seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Wanita dengan wajah bak bulan purnama. Cantik sempurna. Sejenak aku merasa seperti ada aliran listrik yang membuatku tersengat.

“Oh, maaf. Kebetulan tadi aku sedang menikmati keindahan danau ini. Sampai kudengaar suara serulingmu yang bersimfoni.” Matanya menatapku. Teduh. Dan aku menikmati setiap tatapannya.

Hening. Hanya terdengar suara angin.

“Hey …,” katanya sambil menggerakkan telapak tangannya di depan mataku.

“Kok ngalamun, sih. Belum pernah melihat wanita secantik aku, ya.” Dia mulai menggoda.

“Namaku Jaka. Jaka Tarub. Siapa namamu?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang ayu. Dia beringsut duduk si dekatku. Jantungku berpacu. Jujur saja, ini pertama kalinya dalam hidupku, duduk berduaan dengan seorang gadis yang membuat napasku naik turun tak menentu.

“Aku Wulan … Nawang Wulan”, jawabnya. Mata kami beradu pandang. Hening. Kami bergeming.

“Mmm … kamu tinggal di mana?” telisikku. Aku perlu tahu hal ini, kan? Hei … jangan curiga kepadaku, aku hanya ingin mengetahui asal-usulnya. Itu saja.

Gadis ayu itu tertunduk. Kelopak matanya terkulai. Perlahan ia bangkit dari duduknya. Tangannya sibuk memilin ujung selendang merah jambu yang ia kenakan.

“Aku lari dari kahyangan.” Suaranya kali ini terdengar berbeda. Tunggu dulu. Kahyangan? Aku tidak salah dengar, kan?

“Aku hendak dijodohkan,” lanjutnya.

“Bukankah akan sangat menyenangkan jika memiliki pasangan?” tukasku. Dia menoleh dan berjalan ke arahku. Sial. Kini ia benar-benar berada di hadapanku menyisakan satu jengkal.

“Kamu pikir menikah dengan orang yang tidak kamu cintai itu mudah? Sedangkan diam-diam di hatimu menyimpan asa untuk seseorang yang tak mungkin kaugenggam?”. Selarik garis muncul antara alisnya. Aku tersentak. Dia galak juga, ya, pikirku.

Kulihat matanya menggenang. Duh, aku salah apa, ya? Betapa aku ingin menenangkan hatinya. Pasti di dalam sana ada gemuruh yang tak terkira rasanya.

“Aku minta maaf.” Ngeri juga melihat wanita cantik marah-marah. Tapi, debar di hatiku benar-benar tak mampu kusembunyikan. Ah, perasaan apakah ini?

Aku bangkit dari tempat dudukku. Mata kami beradu. Ah, kautahu bagaimana rasanya, kan? Dalam hati, debur kian menjadi.

Kuajak ia bertongkat tebu menyusuri tepian danau yang berwarna biru . Aku mencoba mencairkan suasana agar ia tak lagi berkelindan duka. Semua cerita mengalir sempurna. Aneh. Aku seperti telah mengenalnya sejak lama.

Hingga saat senja mulai tiba, aku beranikan diri melukiskan aksara.

“Nawang ….” Aku menghelas napas. Berharap semoga ia tak tahu betapa sulit bibirku mengungkap segala rasa yang membelenggu.

“Ya,” jawabnya sambil terus menatapku. Ah, mata itu. Sejenak kunikmati keindahan matanya yang sendu. Berlebihankah jika aku menginginkan dirikulah yang ada di dalam mata itu?

“Maukah, kau menikah denganku?”

“Kau ingin menikahiku?” ucap Nawang Wulan kala itu. Pandangan mataku dan Nawang pun beradu. Jelas terlihat ia tersipu malu.

“Iya, memangnya kenapa? Aku salah jika memintamu menjadi istriku?” selidikku.

“Bukankah kita baru saja bertemu?”

“Masalahnya di mana? Aku ingin menikahimu karena aku jatuh cinta kepadamu, karena aku ingin menjadikanmu kekasih halalku,” tukasku. Kulihat bibirnya mengulum senyuman.

“Membangun mahligai rumah tangga tidak hanya cukup dengan jatuh cinta saja, Mas. Tapi …”

“Iya, kamu benar. Pernikahan dibangun atas dasar komitmen untuk membangun cinta bersama,” selaku. “Jadi, Nawang Wulan, maukah kau membangun cinta bersamaku?” pintaku.

Kamu mungkin menganggapku gila. Bagaimana bisa seorang lelaki sepertiku hendak melamar bidadari sepertinya. Entahlah. Aku memang sudah gila … gila sejak bertatap mata dengannya, sejak aku merasa debur di hatiku semakin riuh.

“Datanglah kepada ayahandaku. Kepadanyalah engkau harus meminta restu, Mas. Esok akan kuajak kau menemui ayahku.”

Sehari setelah pertemuan itu, Nawang mengajakku ke kahyangan demi bertemu orangtuanya. Aku memperkenalkan diri sebagai lelaki yang jatuh hati pada seorang putri. Kukatakan pada ayahnya bahwa aku ingin membahagiakan putri semata wayangnya.

“Kau boleh menikahi putriku. Namun, ada satu syarat yang harus kaupenuhi. Jika kalian memiliki seorang anak, maka saat itulah, putriku harus kembali ke sini sebab tak mungkin baginya tinggal di bumi,” titah sang ayah. Berat. Namun, aku tak mampu menolak.

===

Pesta pernikahan pun dilaksanakan. Sederhana memang, karena itulah yang Nawang inginkan.

Kutatap bola matamu

Tetap kamu

Kamu yang dulu

Yang kukhitbah ketika belum mampu

Bermodalkan cinta seutuhnya untukmu

Lalu kuucapkan qobiltu

Nikahahha

Kalimat yang mengguncang singgasana

Mengikat insan menuju nirwana

Tabaarokalladzii

biyadihil mulku wahhuwa ‘alaa

kulli syain qodiir …

Dengan kalimat yang menyatukan hati

Menjalani hari

Membangun ruh surgawi

Dalam gelombang kehidupan ini

Wahai engkau yang bermata sendu

Teruslah pegang lenganku

Bersandarlah di dadaku

Jangan lepaskan walau pilu

Jangan …

Sebab kita telah menjadi satu

Kami bertatap mata. Wajah Nawang Wulan yang bak pualam seketika merona. Netraku tak mampu menyembunyikan betapa aku mengagumi kecantikannya. Senyum terkulum di wajah Nawang Wulan. Ini kali pertama bagi kami. Hatiku berdesir saat tanganku memegang jemarinya.

“Kita salat Sunnah dulu, yuk? Kamu sudah wudu tadi?” tanyaku

Nawang Wulan terlihat salah tingkah. Ah, menggemaskan.

“Mmm … eh … iya, sudah, Mas,” jawabnya tergagap.

“Oh, belum batal, kan, sayang?”

Nawang Wulan menggeleng. Rupanya ia masih terbawa suasana. Bergegas ia mengenakan mukena. Kami pun menghaturkan sembah sujud pada Rabb Sang Pemilik Cinta. Pada-Nya kami gantungkan asa demi bahtera yang baru saja kami bina.

Sepuluh menit berlalu.

Sejenak kekasihku berganti busana. Rambut hitamnya yang panjang kini tergerai memperlihatkan leher jenjang pemiliknya. Tubuhnya terbalut baju berbahan lace dengan aksen renda dan pita. Sungguh, aku terpana dibuatnya.

Lagi-lagi, ombak bergulung di hatiku. Kutatap netra bening istriku penuh suka cita. Bahagia membuncah. Kami pun beradu pandang.

“Mas …,” Nawang membuka percakapan sambil membelai lembut pipiku. “Tahukah engkau? Diam-diam aku jatuh cinta padamu sejak pertemuan kita di danau kala itu,” lanjutnya.

“Sungguh? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah baru sekali itu kita bertemu?” jawabku tak percaya.

“Eh … jangan salah. Alunan serulingmu-lah yang membuatku datang kepadamu. Sejak saat itu, setiap kali kau berada di danau itu, aku memandangmu dari kejauhan dan diam-diam menjatuhkan pilihan” sambungnya. Mulutnya melengkung membentuk senyuman.

Kukecup lembut kening istriku. Kuucap doa memohon keberkahan dari Sang Maha Pengasih. Kuhujani bingkai wajah Nawang Wulan dengan kecupan penuh cinta. Genderang di hatiku mengalun merdu bersahutan. Biduk cinta telah menepi sempurna. Rindu telah disulam dan dirayakan dengan suka cita.

===

Di sinilah aku. Tergugu disayat sembilu.

Sajadah yang kini terbentang di hadapanku itu menjadi saksi atas segala cucuran air mata. Terbentang jarak tak pernah menyurutkan nyaliku untuk mengeja namamu, Nawang.

Sajadah itu boleh saja usang dan bosan. Karena yang ia dengar hanya satu nama saja. Tetapi tahukah engkau, Nawang? Mencintaimu dalam diam tak pernah membuatku bosan. Aku selalu bisa melakukannya. Hanya saja, terkadang sulit menahan rindu yang membuncah.

Aku yang pasrah di atas sajadah. Terkadang ingin semua rahasia terdedah. Agar hati tak lagi gelisah. Namun, apatah arti berjuang jika tabir tersingkap sebelum waktunya? Sungguh nikmat menantimu kala semua jalan seolah tertutup.

Nawang … kembalilah. Kembalilah pada lelaki yang mencintaimu sepenuh hati ini.

Aku yang bersarak serasa hilang, bercerai serasa mati.

===

Kahyangan

Kupandangi lelakiku dari kejauhan. Betapa ingin aku merengkuhnya.

Aku tak mengerti mengapa aku bisa begitu mencintainya, mulai dari kali pertama mengenal dirinya hingga detik ini saat kami tak bisa bersama.

Untuk lelakiku … aku tetap mencintaimu.

🌿🌿🌿

Cerita ini adalah hasil imajinasi penulis semata, untuk diikutkan dalam tantangan pekan keempat ODOP Batch 7.

Barakallahu fiik.

Photo credit: pexels.com

SHARE:
Random Thought 7 Replies to “Jaka Tarub: Lelaki dalam Senja Toyawening”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

7 thoughts on “Jaka Tarub: Lelaki dalam Senja Toyawening

    Author’s gravatar

    Keren Kak Renita 😭
    Terharu

    Author’s gravatar

    Jaka Tarubnya shaleh, aku suka! Hihi. Masyaa Allah, gemas bacanya Mbaa, suka juga dengan diksinya! Nice Umm <3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *