Renita Oktavia

I read so I write

Agustus 6, 2019

Belajar Membandingkan Diri Sendiri

Bismillah

Ada yang pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Pasti pernah lah ya. Ibarat kata, “rumput tetangga terlihat lebih menarik, lebih hijau, dan lebih segar dibanding milik kita”. Sehingga memicu kita untuk membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain.

“Fulanah kok bisa lebih cantik daripada aku ya sekarang, padahal dulu dekil methekil lho”

“Si fulan itu lho, sekarang hartanya banyak banget. Aku kerja dari dulu kok cuman segini aja, nggak kaya-kaya”

Yada yada yada …

Tidak ada yang salah sih, karena memang sifat manusia ya begitu itu, sukanya membandingkan satu hal dengan hal lainnya. Melihat si fulan yang berlimpah harta, kita mulai membandingkannya dengan keadaan kita. Kita bekerja keras membanting tulang, namun tetap saja tidak berubah.

Lalu kita melihat anak si fulanah pinter banget dalam pelajaran Matematika, kita pun mati-matian menyuruh anak kita les Matematika ke sana kemari hanya untuk bisa menyamainya, padahal anak kita lebih berbakat di bidang lain. Si A beli mobil, kita pun ikut-ikutan. Segala hal selalu dibandingkan, mulai dari yang remeh sampai ke urusan yang lebih besar. Saking gemarnya membandingkan, akhirnya kita sebagai ibulah yang stress.

Namun, sob, pernah nggak sih kita mencoba membandingkan keadaan agama kita dengan orang-orang saleh yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala? Orang-orang yang teguh berjalan di atas Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meski badai ujian datang silih berganti?

Tik tok tik tok tik tok …

Belum pernah?

Baiklah. Tapi, coba deh sesekali bandingkan diri kita yang fakir ilmu agama ini dengan mereka yang paham dengan agamanya. Bandingkan bagaimana mereka menyempatkan diri untuk hadir di majlis ilmu di tengah-tengah kesibukannya, sedangkan kita? Bandingkan betapa gigihnya mereka menjaga agama Allah, sementara kita?

Sobat, membandingkan kehidupan duniawi kita dengan orang lain, tidak akan pernah ada habisnya. Yang ada, kita hanya akan merugi. Kenapa merugi? Karena hati kita menjadi tidak tenang, selalu merasa ada yang lebih baik daripada kita. Pun, hati kita akan sangat sakit melihat orang lain kelihatan lebih beruntung dibanding kita.

Sedangkan membandingkan kehidupan beragama kita dengan mereka yang lebih saleh, akan membawa keberuntungan bagi dunia dan akhirat kita. Kita akan termotivasi untuk lebih giat beramal saleh, kita akan bersemangat duduk dalam majlis ilmu, sebagaimana Allah memotivasi kita dalam QS. Al-Baqarah ayat 148:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan”

Ada kutipan yang sangat menenangkan dari Al Hasan Al Bashri. Beliau mengatakan,

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunya, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Berhentilah membandingkan duniamu, bandingkan saja keadaan agamamu dengan mereka yang lebih berilmu.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fiik

SHARE:
Random Thought 11 Replies to “Belajar Membandingkan Diri Sendiri”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

11 thoughts on “Belajar Membandingkan Diri Sendiri

    Author’s gravatar

    Bener banget kak.. jangan selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain karena seseorang pasti memiliki kelebihannya masing-masing..

      Author’s gravatar

      Kecuali mmebandingkan keadaan agama kita dengan mereka yang lebih berilmu, hal itu akan membuat kita bersemangat untuk belajar agama ☺

    Author’s gravatar

    Benar banget mbak. Kadang klo lihat postingan orang-orang yang anaknya juara 1, atau diterima di universitas favorit, atau sekarang hidup di atas garisvrsta rata rasanya juga pengin seperti itu. Tetapi pas ketemuborang yang kualitas agamanya jauh lebih baik dari saya, rasanya itu malu plus nyesek.then say im nothing.

      Author’s gravatar

      Iya, mbak Wid. Kata2 Hasan Al Bashri itu mungkin bisa menenangkan. 😊

    Author’s gravatar

    Baca ini jadi malu sama diri sendiri yang masih sering khilaf liat keadaan diri saya dengan keadaan orang lain, lantas membanding-bandingkan hingga muncul berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, dsb . Astaghfirullaah. .b.

    So, tulisan Mbak Renita ini jadi reminder juga bagi saya pribadi agar tak membanding-bandingkan diri dengan orang lain palagi bila yang dibadingkan itu hanya yang berkaitan dengan hal keduniawian.

    Author’s gravatar

    Bener bgt mbak, sebuah renungan yg jleb buat saya. Melihat duniawi org lain memang tdk ada habisnya.. Fastabiqul khoirot mari berlomba dalam kebajjkan, dan juga dlm ibadah tentunya

    Author’s gravatar

    MasyaAllah jadi merasa tertampar baca ini mbak. Emang bener kita selalu berlomba lomba mengungguli orang lain di bidanh duniawi tpi kok ga berusaha lebih dalam masalah agama.baiklah ku harus lebih baik lagi ya. Semangatt

    Author’s gravatar

    Nasehat yg baik utk semua orang. Perlahan pasti bisa diikuti. @perempuankopi

    Author’s gravatar

    Reminder buat diri sendiri. Berlomba-lomba dalam kebaikan saja dan tetap bersyukur yang banyak. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal iri

    Author’s gravatar

    Menurutku bandingkannya dgn diri kita sendiri saja..

    Apakah kita yg sekarang lebih baik dari kita yg dulu

    Melihat keberhasilan orang lain jangan terintimidasi tapi harus terinapirasi 🙂

    Author’s gravatar

    Padi itu semakin berisi akan semakin merunduk. Makin kita tau banyak hal, makin sadar kalau kita itu tidak tau apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *