you are not alone

You are (indeed) Not Alone

Hai, apa kabarmu?

Pandemi covid-19 sudah berjalan sejak setahun silam. Kalau kau bertanya kapan ini semua akan berakhir, well aku pun taktahu.

Akhir-akhir ini, aku merasa sedih. Aku merasa seperti bukan diriku. Aku enggan melakukan berbagai aktivitas. Kalaupun aku melakukan beberapa pekerjaan, ya, itu karena aku merasa sudah kewajiban dan agar kondisi keuanganku tidak goyah.

Terkadang aku lelah menjalani semua ini. Aku lelah dengan berita-berita kehilangan yang hampir setiap hari datang silih berganti. Aku lelah. Bahkan awal bulan ini saja, aku terhenyak dengan berita kematian keluarga terdekat.

Aku … entahlah. Takada yang bisa kujelaskan. Lihatlah, halaman buku ini saja hampir tidak pernah terisi karena aku tidak tahu harus menulis apa. Kepalaku memang terasa riuh, tapi aku tak sanggup menuliskannya.

Aku tak sanggup menuangkannya, kecuali dalam setiap gambar yang selalu kubuat di aplikasi menggambar. Ada rasa hampa yang diam-diam menyelinap. Ada rasa takut yang entah bagaimana bisa membuatku begitu menciut.

Aku tahu aku tidak sendirian. Semua orang mengatakan demikian. Betapa terkadang aku ingin menghilang saja. Enyah dari pandangan. Hei, mungkin aku bisa memulainya dari sini saja.

Apakah kau merindukan seseorang?

Entahlah. Siapa yang lebih berhak kurindukan, selain kedua orang tua dan keluargaku tersayang?

Apa kabar mereka? Semoga doa-doaku berhasil menyapa dan membuat hari-hari mereka tak lagi digelangi nestapa.

Adakah yang membuatmu gusar?

Mungkin saja. Kematian begitu dekat tak bersekat. Apa yang harus kulakukan selain berusaha mengumpulkan bekal. Namun, aku merasa bekalku belum sempurna.

Bukankah kau hanya perlu berusaha semampumu?

Ya, aku tahu, tapi bagaimana jika dosaku tak terampuni? Sedangkan diri ini jauh dari kata “salihah”.

Tak mengapa, setidaknya kau sudah berusaha. Hei, cobalah untuk merawat dirimu sendiri.

Bukankah sudah kukatakan bagaimana aku menjalani hari-hari? Aku seperti tak memiliki energi. Bahkan, kopi yang selalu kuseduh setiap hari, tak mampu mengembalikan apa yang pernah begitu kuyakini.

Aku memang masih hidup, tapi rasanya jantungku seperti tak lagi berdegup.

Adakah teman yang bisa kauajak bicara?

Aku rasa … tidak ada. Aku hanya akan dihakimi dan dilabeli. Jadi, untuk apa? Bukankah lebih baik aku menyimpannya sendiri?

Berbicaralah kepadaku agar hatimu tak lagi membiru.

Ya, kau memang satu-satunya yang mengerti aku.

Pergilah mempercantik dirimu sendiri hari. Belilah apa pun yang kau inginkan.

Ya, tentu saja. Aku akan membelinya dengan uangku sendiri. Hei, aku tidak salah ucap, kan? Aku membeli barang kesukaanku dengan uangku sendiri.

Tidak. Kau tidak salah ucap. Kau hebat. Tersenyumlah. Kau bisa menghasilkan uang dengan keringatmu sendiri. 🙂

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment