Acceptance untuk Membangun Mindset Positif Selama Karantina

Bismillah

“Sebaik-baik menanti kemudahan setelah kesulitan adalah dengan bersabar.”

Pemberitaan virus Corona di Indonesia yang begitu mengkhawatirkan, tentu menimbulkan kecemasan dan ketakutan bagi sebagian orang. Ketidakpastian keadaan ekonomi pun memicu keresahan masyarakat.

Tidak ada yang tahu kapan ujian pandemi ini akan berakhir. Resesi ekonomi pun menjadi bayang-bayang yang menakutkan jika pandemi tidak segera diatasi. Untuk itulah, mindset positif sangat diperlukan dalam hal ini.

Acceptance sebagai bagian dari membangun mindset positif

Semenjak karantina diberlakukan beberapa waktu silam, perlahan stay at home terasa membosankan. Rumah yang dulunya terasa lapang dan megah, kini berubah. Ya, hidup layaknya berada dalam penjara karena segala sesuatunya dikerjakan di rumah saja. Setidaknya itulah yang saya rasakan.

Baca juga: Saat Rumah Laksana Penjara

Sebenarnya, saya tipe orang ‘rumahan’ alias bisa betah berlama-lama di rumah. Namun, melihat perkembangan situasi yang makin hari kok makin bikin keki, jalan-jalan keluar rumah sungguh ngeri sekali. Urusan belanja keperluan rumah tangga saja, sekarang saya delegasikan ke suami. Saya tidak mau mengambil risiko terpapar virus mematikan ini.

Jujur saja, awalnya, saya merasa, “Duh, ini gimana, ya?” ketika Ramadan datang di tengah pandemi Corona. Sempat cemas dan khawatir. Saya pun berusaha melakukan acceptance; menerima bahwa ujian pandemi Corona ini sebagai bagian dari takdir Allah. Bukankah setiap orang akan diuji?

Baca juga: Memaknai Ramadan di Tengah Pandemi Corona

Sebagai bentuk ikhtiar, saya berusaha memberikan yang terbaik untuk menjaga imunitas keluarga, misalnya menyajikan makanan yang sehat dan bergizi. Pun, menjaga kebersihan rumah dan diri sendiri dengan rajin cuci tangan setiap saat. Bahkan, saya mengajari batita saya cara mencuci tangan yang baik.

Apa itu acceptance?

Secara singkat, acceptance itu berarti menerima keadaan diri sendiri. Tentu saja acceptance ini sangat penting. Terlebih ketika seseorang mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, baik secara fisik maupun psikis.

Sebagian orang mungkin bisa menerima keadaan tersebut. Namun, sayangnya, selebihnya tidak bisa melakukannya.

Acceptance sebagai kemampuan seseorang menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri akan memberi kesempatan pada kita untuk melihat dua sisi yang berbeda. Jadi, tidak hanya sisi negatifnya saja, tetapi juga sisi positif.

Nah, kaitannya dengan pandemi, disadari atau tidak, menerima diri sendiri itu sulit, lo. Jika kita dapat menerima realita dengan lapang dada, semuanya akan lebih mudah diatasi.

Ya, kita harus menerima bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari ujian, kan? Kita harus menerima bahwa diri ini hanyalah makhluk lemah, lantas apa gunanya bersikap pongah seolah kita tidak akan bisa dikalahkan? Buktinya, virus Corona yang sekecil itu pun bisa menghancurkan segalanya.

Tak hanya itu, kita pun harus menerima bahwa kesabaran memang diperlukan dalam menghadapi pandemi Corona. #DengarkanHatimu Bukankah sebaik-baik menanti kemudahan setelah kesulitan adalah dengan bersabar?

8 Aktivitas yang saya lakukan selama masa karantina

Aktivitas selama masa karantina sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Sedikit yang membedakan, mungkin kali ini ada suami yang turut membantu mengasuh buah hati.

Ya, kehadiran suami setelah tempatnya mengajar memutuskan untuk work from home, setidaknya membuat saya bernapas lega. Kami pun berbagi tanggung jawab mengurus si kecil.

Nah, aktivitas apa saja, sih, yang saya lakukan selama masa karantina?

  • Memasak

Meski tidak pandai memasak, bukan berarti saya tidak mau belajar. Masa karantina memaksa saya merencanakan menu masakan untuk keluarga. Menu sederhana saja, seperti tumis buncis, capcay kuah, kare sayuran, dan sebagainya.

Bonusnya, suami memuji hasil masakan saya yang katanya enak sekali. Hihihi. Entahlah, saya tidak tahu itu pujian yang tulus atau hanya sekadar menyenangkan hati saya saja.

  • Bermain bersama anak

Porsi bermain bersama anak selama masa swakarantina ini ternyata lebih besar dibanding biasanya. Si kecil tahu kalau abah dan mamanya jadi punya banyak waktu untuk dia.

Apalagi beberapa waktu yang lalu, saya membelikannya buku dwibahasa 25 Kisah Nyata Nabi dan Rasul. Dia senang bukan kepalang.

Usianya baru 3,5 tahun, tetapi dia selalu menagih untuk dibacakan kisah para nabi dan rasul.

  • Bersih-bersih rumah bersama pasangan

Kalau biasanya saya yang mengerjakan aktivitas ini seorang diri, kini semenjak ada suami, kami berbagi tugas. Eh, tapi kadang justru dia yang melakukan semuanya. Kata dia, “Kamu jangan terlalu capek, biar aku aja yang bersihin rumah.”

  • Ngaji bareng suami

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang kawan saya, Mbak Marati Husna, dalam Ramadhan 2020 Couple Goals-nya, ngaji bareng suami itu punya greget tersendiri. Kalau saya, ngeri-ngeri sedap, deh. Hahaha. Ustaznya galak kalau saya, mah. Tajwidnya salah dikit saja, doi langsung berdehem. Hahaha. Belum lagi makharijul huruf-nya. Ampuuuun.

  • Membaca

Sebenarnya saya punya target membaca buku-buku agama yang belum sempat tersentuh. Hanya saja, karena kesibukan, target tidak terpenuhi dengan sempurna. Ditambah pula, saya tipe pembaca yang berprinsip “Beli bukunya aja dulu, bacanya nanti”. Hahaha.

  • Mengikuti kelas menulis online

Sebagai seorang penulis pemula, saya merasa perlu mengasah ilmu kepenulisan. Meski telah mengikuti beberapa kelas berbayar dan berakhir dengan proyek antologi, saya tetap ingin belajar, dong.

Kali ini saya berencana mengikuti kelas membuat e-book bersama Joeragan Artikel dan kelas fiksi bersama Mbak Fissilmi Hamida, salah satu author kesayangan.

Baca juga:  [Book Review] Autumn Leaves:  Kisah di Balik Daun Musim Gugur

  • Mengikuti blog challenge

Saat ini, saya sedang mengikuti blog challenge berhadiah bersama FLP Surabaya. Frankly speaking, saya masih penasaran dengan Forum Lingkar Pena karena semenjak kuliah pada tahun 2001 silam, saya belum bisa menjadi salah satu anggotanya.

Ditambah lagi, blog challenge kali ini ada hadiahnya. Hehehe. Lumayanlah untuk menambah uang saku.

  • Menyunting naskah di Indscript Creative

Alhamdulillah, saya tergabung dengan penerbit Indscript Creative pada bulan Maret 2020. Detik itu juga langsung diminta menyunting beberapa naskah antologi dan juga guidance book. Alhamdulillah pekerjaan paruh waktu saya sebagai editor benar-benar menggembirakan.

Setidaknya, kini saya memiliki penghasilan sendiri meski tidak begitu banyak, sih. Besar atau kecil, tetap harus disyukuri. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush shalihaat.

Sekarang jadi lebih mudah kalau ingin jajanan. Hihihi. Dulu selalu minta suami dan harus berpikir ribuan kali sebelum membeli, kini bebas mau beli apa aja. Eh, tapi tetap harus berhemat di masa pandemi seperti ini.

Baca juga: Ini Dia 5 Cara Atur Keuangan Rumah Tangga Saat Ramadan di Tengah Pandemi Corona

Work from home pun ternyata bikin penat

Meski terlihat sepele, nyatanya work from home pun bikin penat. Belum lagi, agenda berpuasa Ramadan juga padat. Selain work from home, saya juga harus memastikan kualitas ibadah saya tidak sia-sia. Ya, kita tidak pernah tahu berapa lama kita hidup di dunia, kan?

Didera oleh rasa penat dan setumpuk tugas, tak jarang saya mengalami gangguan kesehatan, terutama pada rambut. Stay at home tidak lantas membuat rambut bebas masalah. Apalagi sedari dulu, masalah rambut rontok selalu sukses bikin saya gondok.

Berbagai macam cara pun sudah saya lakukan. Hasilnya, tetap saja nihil. Rambut rontok menjadi mimpi buruk yang membuat saya stress.

Stres berkepanjangan ternyata juga tidak baik untuk kesehatan mental. Untuk itulah, saya melakukan me time.

Me time saya nggak perlu mahal-mahal, kok. Cukup dengan bisa mandi dan keramas selama yang saya inginkan. Tentu saja tanpa ada gangguan dari si kecil.

Perawatan rambut rontok dengan Emeron Nutritive Hair Fall Control

Bagi sebagian orang, rambut rontok menjadi momok. Sering kali rambut saya rontok ketika bangun tidur, menyisir, mengikat rambut, dan sebagainya.

Perawatan rambut rontok memang tidak bisa sembarangan, sih. Setidaknya, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, seperti:

  • Mencuci rambut dua hari sekali

Mencuci rambut secara teratur dapat menjaga kulit kepala dari tersumbatnya folikel rambut dari debu dan berbagai kotoran.

  • Tidak keramas dengan air panas

Kadang kalau mandi memakai air hangat, rasanya segar, sih. Namun, ternyata keramas dengan air bersuhu panas justru akan merusak rambut. Hiks.

  • Menggunakan shampoo yang tepat

Memilih shampoo yang tepat memang gampang-gampang susah. Alhamdulillah, kini saya memakai Emeron Nutritive Hair Fall Control.

Kenapa harus Emeron?

Shampoo Emeron sudah terkenal sejak zaman dulu. Bahkan, ketika saya memutuskan untuk memakai Emeron, suami sempat bertanya, “Emeron itu shampoo yang dulu itu, kan?” Yap, kualitasnya tidak diragukan lagi.

Nah, Emeron Nutritive Hair Fall Control ini dilengkapi dengan formula active provit amino yang diperkaya dengan nutrisi lidah buaya. Kombinasi tersebut akan menstimulasi pertumbuhan rambut baru serta menguatkan rambut dari akar sampai ujung. Memiliki rambut kuat, tebal, dan halus pun kini tak lagi sekadar angan-angan kosong belaka. Alhamdulillah.

Sstt … tak hanya itu, rambut saya jadi lebih harum sekarang, lo. Suami sampai memuji. Hihihi.

Bebas dari masalah rambut dengan Emeron Complete Hair Care

Masalah rambut yang dihadapi wanita itu beragam dan tentunya bikin khawatir. Eits … nggak ada salahnya kita mencoba Emeron Complete Hair Care lainnya, lo. Sesekali memanjakan diri selama pandemi, nggak masalah, kan?

how to stay positive during quarantine

Saatnya memanjakan rambut dengan berbagai perawatan lengkap dari Emeron meski hanya di rumah saja, seperti:

  • Emeron Black and Shine memiliki kandungan bahan alami urang aring untuk menutrisi rambut, mengembalikan hitam alami rambut, dan tampak hitam berkilau.
  • Emeron Soft and Smooth memiliki kandungan bahan alami sunflower untuk mencegah kerusakan rambut, menjaga kelembaban rambut sehingga rambut terasa lebih halus dan lembut.
  • Emeron Damage Care memiliki kandungan bahan alami alpukat untuk memperbaiki kerusakan kutikula, melapisi, dan melembabkan permukaan helai rambut.
  • Emeron Hijab Nutritive Shampoo Clean and Fresh, khusus rambut berhijab yang diperkaya dengan moc perfume dan tea tree oil dan formula active profit amino. Menjaga rambut tidak apek, lebih kuat, dan wangi.

Tuh, kan, lengkap banget? Perawatan rambut nggak harus mahal, kok. Meski pandemi memaksa kita #DirumahAja perawatan rambut tetap menjadi prioritas. Tentu saja agar tetap ‘waras’.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat, ya.

Barakallahu fiikum.

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

2 Comments

Leave a Comment