Perjalanan Membaca Seorang Renita

Bismillah

Bicara tentang buku membuat memori saya berputar ke masa lalu. Masa ketika belajar mengenal buku dari Bapak dan Ibu. Betapa saya bersyukur memiliki orang tua yang gemar membaca dan bercerita. Entah apa jadinya jika saya tak dilahirkan di tengah-tengah mereka.

Buku pertama yang saya baca saat masih sangat belia, yaitu buku kisah Nabi Adam alaihissalam. Untuk anak seorang guru PNS zaman dahulu, buku berwarna seperti itu, sudah membuat hati berbunga-bunga tak menentu. Saya senang bukan kepalang. Terlebih, saat itu, saya sedang dalam fase suka membaca. Segala macam tulisan, saya baca. Lantang. Ya, Bapak dan Ibu mengajarkan untuk membaca secara lantang. Katanya, biar tahu letak kesalahannya.

Sebenarnya, Bapak memiliki koleksi komik tentang Petruk, tetapi beliau lebih suka memberikan kisah para nabi kepada saya. Meski akhirnya setelah dewasa, saya tetap membaca komik tersebut wkwkwkw.

Belajar membaca Al-Qur’an

Renita kecil termasuk anak yang kepo; ingin tahu segala hal (sekarang pun, masih sama sih). Perjalanan membaca buku pertama membuat saya tak berhenti begitu saja.

Saat Bapak rahimahullah membaca Al-Qur’an di kamar depan, saya penasaran dong. Bapak lagi baca apa sih, begitu pikir saya.

Saya dekati beliau. Saya bergeming. Mencoba mendengarkan sampai selesai. Setelah itu, Bapak bertanya apakah saya juga ingin belajar membaca Al-Qur’an? Mata saya berbinar. Dengan penuh suka cita, saya menirukan Bapak membaca surah Al-Fatihah. Beliau terus mengulangnya.

Perjalanan membaca saya pun, dimulai.

Setiap sore, Bapak mengajari saya mengaji. Saat itu, entah mengapa beliau hanya membacakan surah Al-Fatihah. Kini setelah saya dewasa, baru saya sadari tujuan beliau mengajarkan membaca surah tersebut. Ya, bukankah surah tersebut selalu dibaca tiap kali kita salat? Bukankah orang yang mengajarkannya akna mendapat pahala setiap kali orang yang diajari mengamalkan apa yang ia peroleh?

Bagaimana dengan ibu saya? Beliau saat itu memang tidak mengajari secara langsung, tetapi beliau meminta saya ikut mengaji bersama Bu Kahar, guru ngaji yang diundang khusus ke rumah.

Intisari dan Jayabaya menjadi teman saat remaja

Jika kebanyakan remaja pada zaman saya, disibukkan dengan membaca majalah Gadis, Aneka Yes, dan beberapa majalah remaja yang sedang populer saat itu, saya justru sebaliknya.

Sayangnya, saya bukan termasuk anak yang gaul saat itu. Saya lebih suka ‘melahap’ majalah Intisari dan Jayabaya yang sengaja dipesan Bapak setiap bulannya. Tidak satu edisi pun yang terlewat untuk saya baca.

Saya masih ingat betul, kali pertama mengenal blog pada tahun 2001 itu berkat membaca Intisari. Saya juga mengenal platform menulis cerbung di kemudian(dot)com, juga dari Intisari.

Adapun Jayabaya, membuat saya mengenal cerita berbahasa Jawa lebih dalam meski kini Jayabaya entah masih ada ataukah telah pamit undur diri. Satu pengalaman menarik bersama Jayabaya adalah keberhasilan saya memenangkan lomba menulis bahasa Jawa di majalah tersebut. Saat itu, hadiahnya berupa uang tunai Rp25.000,00 yang dikirim via wesel. Saya girang sekaligus bangga dong karena wesel tersebut dialamatkan ke sekolah. Lumayanlah, sedikit terkenal di SMP gara-gara menang lomba wkwkwkwk.

Berawal dari semua itu, saya ketagihan membaca. Novel Burung-Burung Manyarkarya Y.B. Mangunwijaya, Kering karya Iwan Simatupang, dan beberapa novel N.H. Dini koleksi kakak perempuan saya, begitu menarik perhatian.

Waktu bergulir, hingga akhirnya saya mengenal Habiburrahman El Shirazy dan Laa Tahzan milik Aid al-Qarni. Dua penulis itulah yang menjadi dua di antara sekian banyak penulis buku yang saya gandrungi.

Oh, ada dua buku lagi yang begitu menyita perhatian saya, yakni A Cup of Hot Coffee for Psycho karya Lisa Gopar dan Hikmah dari Seberang (Kumpulan Kisah dan Artikel Berhikmah oleh Pengarang tak Dikenal).

Buku-buku dengan genre motivasi, pengembangan diri, dan romance menjadi genre buku favorit saya. Tak ayal, saya ingin menulis buku solo tentang hal tersebut. Ngimpi dulu, yeee.

Aktivitas membaca setelah menikah

Perjalanan kehidupan seseorang yang penuh drama, terkadang mengantarkan seseorang menjadi lebih bijak memandang sesuatunya. Begitu juga dengan diri saya. Setelah memutuskan berhijrah, lalu menikah, tentu saja orientasi membaca saya turut berubah.

Kali ini, pilihan buku favorit saya berkembang. Berkembang bukan berarti kini tak dibaca lagi, lo, ya. Artinya, sampai saat ini, saya masih membacanya, hanya saja intensitasnya tidak seperti saat kali pertama.

Saya masih menyukai karya Kang Abik dan Aid al-Qarni, tetapi kini saya menambah koleksi buku favorit lagi. Apa itu?

Episode pencarian jati diri untuk menjadi lebih baik, mengantarkan saya pada buku-buku karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Salah satu kutipan beliau yang menghunjam dada, salah satunya, adalah “O you who are patient, bear a little more, just  a little more remains”.

Kata-kata itu tak sengaja saya lihat di salah satu wall teman Facebook saya dari India. Seorang muslim, tentu saja. Entah kenapa, kata-kata tersebut selalu terekam di kepala. Tiap kali saya dihadapkan pada sesuatu yang menguras emosi, saya teringat kutipan tersebut. Sungguh, semoga Allah Ta’ala merahmati kawan saya tersebut. Aamiin allahumma aamiin.

Selain itu, karya Ibn Qayyim lainnya yang kini masih tersimpan rapi adalah Roh, Manajemen Qalbu, Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, Fawaidul Fawaid, dan Hanya Untukmu Anakku.

Mungkin, saya tidak membacanya setiap hari, tetapi saya memiliki impian, suatu saat bisa mengumpulkan semua kutipan penggugah hati milik Ibn Qayyim al-Jauziyyah tersebut.

Bagaimana dengan novel milik Mbak Mimi?

Saya membaca novel-novel beliau untuk menghibur diri saya sendiri. Diksi-diksi manis itu tentu saya pelajari dari Mbak Mimi. Pengin sih bikin novel sad romance, outline-nya sih sudah ada, hanya saja belum tahu kapan dieksekusi wkwkwkw.

Untuk review-nya sudah pernah saya tulis, kan, ya? Jadi, nggak perlu ditulis lagi, ya. Kalau pun penasaran, beli bukunya sendiri xixixi.

OK, that’s all there is.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: Pinterest







About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment