Pelajaran Berharga dari Seekor Bughats

Bismillah

Ramadan di tengah pandemi, memang cukup membuat miris hati. Belum lagi, keadaan ekonomi yang makin hari makin tak pasti.

Ramadan kali ini, kita pun diuji secara bertubi-tubi. Hingga akhirnya kita bertanya-tanya, “Duh Gusti, kapankah ujian yang Engkau berikan kepada kami berakhir?”

Riuh rendah berita di berbagai media betapa sebagian orang kesulitan makan. Tak jarang, ada pula yang berbuat curang. Naudzubillah.

Manusia akan selalu diuji

Wajar saja bila seseorang takut kekurangan harta, kelaparan, dan berbagai keadaan sempit lainnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Namun, bukan berarti kita mati-matian mengumpulkan sesuatu yang tidak dibawa mati.

Bukan berarti kita menghalalkan segala cara hanya agar perut kita kenyang. Bukan pula terlupa bahwa ada Dia yang menjamin rezeki hamba-Nya.

“… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin rezekinya”. (QS. Hud : 6)

Ayat tersebut telah jelas dan tidak ada satu pun hamba-Nya yang meragukan firman Allah di atas.

Tentang bughats

Segala sesuatu yang diciptakan Allah Ta’ala, pasti akan memberikan satu pelajaran berharga bagi makhluk lainnya. Demikian pula dengan bughats.

Bughats adalah nama anak burung gagak yang baru saja menetas. Bayi burung tersebut tidak memiliki warna bulu yang sama seperti induknya. Melainkan, kulitnya berwarna putih.

Karena memiliki warna yang berbeda dengan sang induk, bayi burung gagak ditinggal sendirian di sarang. Induknya tidak sudi memberi makan dan minum.

Sang induk pun melihat bughats dari kejauhan saja.

Burung kecil yang malang itu tentu akan sangat kelaparan, kan? Ia bahkan belum bisa bergerak. Bagaimana mungkin ia bisa makan?

Allah Yang Maha Memberi Rezeki telah menanggung kehidupan si burung kecil karena Dia-lah yang telah menciptakannya.

Allah Ta’ala pun menciptakan aroma khas yang menguar dari tubuh si burung kecil sehingga mengundang beberapa serangga ke sarangnya.

Ulat dan serangga tersebut pun berdatangan. Si burung kecil akhirnya bisa makan.

Perlahan, bulu sang burung kecil tumbuh dan kini ia memiliki warna yang sama dengan induknya.

Pada saat itulah, sang induk baru mengakui si anak. Aroma yang keluar dari tubuh bughats pun menghilang seiring dengan makin dewasa dirinya.

Belajar dari bughats

Lihatlah, Allah Yang Maha Menjamin Rezeki telah menanggung kehidupan sang bughats. Lamtas mengapa terkadang kita menyangsikannya?

Rezeki akan tetap mendatangi kita di mana pun kita berada. Selama nyawa masih ada dalam kerongkongan maka selama itu pula rezeki ada.

Pun, selama kita bertakwa dan bertawakal kepada Allah Ta’ala, Insya Allah rezeki takkan ke mana.

Dari Ibu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani)

Sungguh, sangat disayangkan ketika ada sebagian orang yang menjemput rezeki dengan cara bermaksiat kepada Allah.

Bughats yang selemah itu saja dijamin rezekinya oleh Allah. Lalu mengapa kita yang diberi akal, tidak mampu mengambil pelajaran?

Tidak pantas bagi seorang Muslim mencari nafkah dengan mengabaikan kehalalan sumber pendapatannya karena halalnya harta yang kita cari akan memengaruhi akhlak keluarga.

Bukankah Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan agar kita mencari dan memakan harta yang halal?

Bukankah harta halal meski sedikit jumlahnya, lebih membawa berkah dan ketenangan jiwa?

Tidak ada salahnya jika kita ‘menguliti’ dan introspeksi diri sendiri, apakah harta yang selama ini mati-matian kita cari sudah sesuai dengan apa yang Allah tetapkan atau belum.

Introspeksi diri barangkali selama ini kita lalai dalam mencari rezeki.

Introspeksi diri barangkali kita telah menjadi budak dunia. Naudzubillah.

“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karunia-Mu sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)

Selamat menjemput rezeki dari jalan yang diridai.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: pixabay

#inspirasiramadan

#dirumahaja

#flpsurabaya

#BERSEMADI_HARIKE-16

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

2 Comments

Leave a Comment