Renita Oktavia

I read to write

September 19, 2019

(P)ujian

Bismillah

Adakah di antara kita yang tidak suka jika dipuji? Saya kira semua orang pasti suka dipuji, terlepas dari tingkat kegombalan dan kenorakannya. 

Tapi, sebenarnya nih, pujian itu termasuk ujian lho. Kok bisa? Ya iyalah. Sadar nggak kalau pas ada orang memuji kita, biasanya kita akan cenderung besar kepala, merasa kagum terhadap diri kita sendiri? Yep, kita menjadi sombong akibat pujian.

Lebih parahnya lagi, pujian juga bisa membuat kita lupa diri. Kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita miliki itu adalah sebagian dari nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Akibatnya, kita tidak bersyukur, kita merasa keberhasilan kita disebabkan oleh kehebatan diri kita sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan, yaitu tamak lagi kikir, mengikuti hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan, dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR. At-Thobroni, Shahih)

Kita sebenarnya lebih membutuhkan doa yang bisa membawa kebaikan kepada kita, dan bukan hanya sekedar pujian belaka. 

Jangan Memuji Berlebihan

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Bahwa nama seorang laki-laki disebut di depan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu seorang laki-laki memujinya dengan kebaikan, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher kawanmu’. Beliau mengulanginya beberapa kali. (Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan). ‘Bila salah seorang di antara kalian harus memuji, maka hendaknya berkata, ‘Aku menyangka demikian demikian,’ bila dia melihatnya memang demikian, dan Allah yang menghisabnya agar dia tidak menyucikan seseorang mendahului Allah’. (Muttafaq ‘alaih)

Hadis tersebut melarang kita memuji secara berlebihan, kalau dalam bahasa kita, gak boleh lebay. Mengapa? Karena dikhawatirkan orang yang kita puji merasa takjub. Dan pujian itu akan mencelakakannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan dengan tegas menyuruh seseorang menghukum orang yang senang memuji secara berlebihan dengan melempari wajahnya dengan tanah.

Dari Hammam bin al-Harits, dari al-Miqdad radhiyallahu ‘anhuma:
“Bahwa seorang laki-laki menyanjung Utsman radhiyallahu ‘anhu, lalu al-Miqdad menuju orang itu, lalu berlutut dan melempari wajah orang itu dengan pasir, maka Utsman bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Dia menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bila kamu melihat orang-orang yang menyanjung, maka lemparilah wajah mereka dengan tanah’.” (HR. Muslim)

Kapan Boleh Memuji?

Sah-sah saja jika ingin memuji seperti menaburkan garam secukupnya pada makanan. Kita boleh memuji dan menyanjung seseorang selama orang tersebut memiliki keimanan dan keyakinan yang sempurna, jiwanya terlatih, ilmunya sempurna dimana ia takkan tergoda dan goyah imannya, serta jika pujian tersebut dimaksudkan untuk memberi motivasi. Maka memuji di hadapannya, boleh. Tetapi bila ia bukan orang yang seperti itu, maka memuji di depannya tidak boleh.

Jawablah Pujian dengan Doa

Sebenarnya nih, ketika orang lain memuji kita, mereka tidak tahu keadaan kita sebenarnya. Allah dan kita-lah yang tahu. 
Ada doa yang sebaiknya kita ucapkan ketika ada yang memuji:

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.

Jangan Cari Muka dan Pujian

Hendaknya seorang Muslim, dalam melakukan suatu amalan, selalu didasari oleh niat ikhlas mengharap rida Allah semata, bukan pujian manusia. Karena yang demikian itu, tentu lebih menenangkan. 

***

Gengs, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, pujian manusia itu tak ada artinya. Pujian berlebihan malah menyengsarakan. Jangan sampai kita tertipu dengan pujian manusia, karena sama sekali tidak ada manfaatnya.


Pun kalau kita ingin memuji, memujilah ala kadarnya. Jangan sampai pujian kita malah mencelakakan saudara kita.

Barakallahu fiik

Semoga bermanfaat

Referensi:
 
1. Riyadush Shalihin oleh Imam An-Nawawi

2. Artikel Rumaysho (Bahaya Memuji Orang Lain dan Gila Pujian)

SHARE:
Adab 2 Replies to “(P)ujian”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

2 thoughts on “(P)ujian

    Author’s gravatar

    Cakep idenya…
    jika ada yng memuji balas saja.. aamiin, semoga Allah membalas kebaikanmu 😀

    Author’s gravatar

    MasyaAllah. Terimakasih tulisannya. Sebagai pengingat dan nasihat untuk diri sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *