Renita Oktavia

I read to write

February 10, 2020

Pentingnya Sinergi Antara Sekolah dan Orang Tua

Bismillah

Hari Sabtu kemarin, bertepatan dengan tanggal 14 Jumadilakhir 1441 atau 8 Februari 2020 merupakan salah satu hari bersejarah bagi saya. Apa pasal? Saya dipercaya sebagai pembawa acara sekaligus moderator dalam seminar parenting yang diadakan oleh PAUD Sahabat Muslim, tempat saya menimba ilmu bersama teman-teman baru.

Seminar kali ini mengambil tema “Menjalin Kerja Sama Antara Asatizah dan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak”. Tema yang pas hingga membuat saya antusias.

Kali ini, izinkan saya berbagi ilmu yang saya ambil dari Ibu Wida Azzahida.

Mengubah Cara Pandang

Selama ini, sebagian orang tua memiliki mindset yang cenderung keliru mengenai sekolah. Apa itu? Sebagian orang tua menganggap bahwa sekolah yang berhasil adalah sekolah yang lulusannya bisa calistung (membaca, menulis, dan berhitung).

Orang tua hanya akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang memang bisa menghasilkan anak-anak yang cakap dalam calistung. Wajar saja sih pemikiran seperti itu karena memang dunia pendidikan di negara kita menuntut hal yang demikian.

Tatkala ditanya sebenarnya apa sih harapan kita terhadap anak-anak? Apakah kita menginginkan mereka pandai dalam hal akademik saja? Tentu saja tidak, kan?

Bukankah anak sebagai investasi akhirat, amanah, sekaligus ujian. Lantas mengapa kita hanya berkutat dalam bidang akademis?

Pernahkah kita berpikir bahwa ada hal-hal yang jauh lebih penting daripada sekadar cakap dalam calistung? Apa itu?

1. Akhlak.

Sepandai dan secakap apa pun anak kita, tetapi akhlaknya buruk, ia takkan disukai. Did you know? Akhlak seorang anak berkaitan dengan ketuntasan motoriknya.

2. Motorik.

Kemampuan motorik seorang anak, memegang peranan penting dalam tumbuh kembangnya. Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa baik buruknya akhlak seorang anak dipengaruhi oleh ketuntasan motoriknya.

Kita ambil contoh kegiatan mewarnai. Kelihatannya sepele, tetapi ini penting bagi anak. Anak akan belajar bagaimana agar menyelesaikan masalah. Ia juga akan belajar bagaimana hasil pekerjaannya rapi.

Indikator Keberhasilan Pendidikan

Ibu Wida mengatakan bahwa indikator keberhasilan pendidikan ada dua, yaitu:

1. Ada perubahan perilaku anak.

Anak yang ketika berada di rumah kasar, lalu setelah bersekolah ia menjadi anak yang lemah lembut. Itu artinya sekolah telah berhasil mendidiknya.

Ingat, ya, indikator keberhasilan bukan diukur dari berhasil tidaknya seorang anak menguasai calistung.

2. Anak menjadi lebih bersemangat.

Anak yang semangat belajar, beribadah, senang membaca, dan hal-hal positif lainnya juga menjadi salah satu indikator keberhasilan pendidikan.

Kata kuncinya adalah anak senang membaca dan BUKAN anak bisa membaca. Mengapa? Karena anak yang senang membaca, maka ia bisa membaca. Namun, sebaliknya, anak yang bisa membaca belum tentu senang membaca.

Bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak? Orang tua harus rajin membacakan cerita.

Unsur Pembentuk Karakter

Ada satu peribahasa Afrika yang sangat bagus, yaitu it takes a village to raise a child. Mendidik anak itu tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua meskipun porsi orang tua ini mendominasi.

Pada dasarnya, unsur pembentuk karakter anak itu dipengaruhi oleh tiga hal, yakni:

1. 20% sekolah,

2. 20% lingkungan,

3. 60% keluarga (dalam hal ini, orang tua)

Mendidik anak, tidak bisa kita lakukan sendirian. Tenaga, waktu, dan ilmu kita berbatas. Ketiga unsur tersebut harus saling berpegangan tangan.

Orang tua memegang setidaknya 60% dalam pembentukan karakter seorang anak. Orang tua adalah role model terbaik yang anak miliki. Untuk itulah, jangan jadikan gadget sebagai pengganti.

Ibu yang menjadi sekolah pertama bagi sang anak pun harus diperhatikan. Rasanya egois jika kita menyalahkan seorang ibu hanya karena sikap anaknya yang kurang baik. Mengapa? Karena dalam ilmu psikologi, misal jika seorang anak pundungan, maka biasanya akan dirunut, “Dulu sewaktu hamil, apa yang dialami sang ibu?” Oh, ternyata dulu ketika hamil si ibu disakiti oleh mertua dan keluarga suaminya. Nah, ini yang biasanya tidak disadari. Ibu hamil yang merasa tertekan tentu akan memengaruhi sang anak. Untuk itu, para mertua hendaknya pandai menjaga hati si ibu hamil.

Selain itu, lingkungan yang baik juga akan membentuk karakter anak. Bagaimana mungkin kita menempatkan anak-anak di lingkungan yang buruk? Bukankah salah satu hak anak dalam Islam adalah mendapatkan lingkungan yang akhlaknya bersih bagi fitrah sang anak?

“Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya (lingkungan pergaulannya). Oleh karena itu hendaknya kalian perhatikan siapakah yang kalian jadikan sebagai teman dekatnya” (HR Abu Daud, dinilai hasan oleh al Albani).

Telah jelas pula bahwa sebagai seorang Muslim, kita wajib mendidik dan memperhatikan pendidikan keluarga.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taahrim: 6)

Sinergisme Orang Tua dan Sekolah

Sebuah penelitian mengatakan bahwa sinergisme orang tua dan sekolah memberikan dampak yang sangat baik, yaitu:

1. Prestasi anak meningkat,

2. Karakter anak menjadi lebih baik,

3. Tercapainya tujuan pendidikan.

Mengapa orang tua dan sekolah harus bersinergi?

1. Untuk menciptakan kemitraan aktif. Ingat, sekolah adalah mitra orang tua. Kita sebagai orang tua, tidak boleh memasrahkan anak begitu saja kepada sekolah tanpa ada pendampingan orang tua.

2. Ada interaksi antara sekolah dan orang tua.

3. Ada sesi sharing.

4. Saling tahu kurikulum.

5. Saling bekerja sama.

Duhai para orang tua, ketika anak pulang sekolah, jangan sampai kita bersikap cuek. Cobalah tanyakan bagaimana perasaan anak ketika berada di sekolah, hari ini di sekolah ada kegiatan apa, dan sebagainya.

Program sekolah yang tersinergi dengan orang tua pun akan mencapai titik keberhasilan. Jangan sampai program-program yang telah dijalankan di sekolah, dimentahkan oleh orang tua di rumah.

Misal:

– Anak dilarang memakai gawai di sekolah, tetapi di rumah ia bebas bermain gawai sesuka hati.

– Sekolah mempunyai program makan makanan sehat, tetapi di rumah, orang tua memberinya junk food.

Sinergisme ini penting agar kurikulum sekolah bisa dikembangkan di rumah. Selanjutnya, tentu saja, agar anak peka dengan dunia luar.

Unsur Pembangun Sinergisme

Lebih lanjut, Ibu Wida berpesan bahwa sinergisme orang tua dan sekolah terbentuk dari tiga hal, yaitu:

1. Ada kesepakatan bersama antara orang tua dan sekolah.

2. Orang tua percaya dengan sekolah.

3. Pihak sekolah siap meneima masukan.

Jika tidak ada sinergisme, maka tujuan pendidikan akan sulit dicapai dan kedua belah pihak akan saling menyalahkan.

Refleksi

Pendidikan seorang anak, sejatinya berada di tangan orang tua sepenuhnya. Namun, kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa peran lingkungan, sekolah, dan negara juga sangat penting.

Keberhasilan pendidikan dimulai dengan adanya kerja sama dari semua pihak.

It takes a village to raise a child. Let’s make a village!

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: crbusa.com

SHARE:
Adab 3 Replies to “Pentingnya Sinergi Antara Sekolah dan Orang Tua”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

3 thoughts on “Pentingnya Sinergi Antara Sekolah dan Orang Tua

    Author’s gravatar

    Alhamdulillah di sekolah kita (Baitul Izzah) benar-benar ditanamkan kalau soal akhlak dan sinergi antara sekolah dan orangtua

    Author’s gravatar

    Detail banget. Thanks mba 🌼

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *