Memilih dan Memilah Teman Agar Hidupmu Nyaman

Bismillah

Memilih dan memilah teman ibarat memilih pasangan. Bagaimana tidak? Keduanya mampu memengaruhi kehidupan. Salah sedikit saja, rusaklah segalanya.

Kita mungkin terbiasa dengan petuah, “Jangan suka pilih-pilih teman. Bertemanlah dengan siapa saja”. Eits … benarkah demikian?

Saat kita kecil, petuah tersebut mungkin bisa dibenarkan. Namun, seiring tingkat kedewasaan, kita tentu tidak bisa berteman dengan siapa saja dong.

Bayangkan apa jadinya jika kita harus berteman dengan siapa saja, termasuk orang-orang berakhlak buruk. Bukankah teman duduk akan memengaruhi pola pikir dan kebiasaan kita?

Alasan mengapa harus selektif memilih teman

Selektif memilih teman merupakan satu keharusan. Tak jarang kita temui sebagian orang yang berubah menjadi buruk lantaran berteman dengan teman yang buruk pula.

Di sisi lain, ada juga sebagian orang yang berubah menjadi lebih baik karena berteman dengan orang yang berakhlak baik.

Kita tentu tak bisa menyangkal bahwa yang namanya berteman itu akan membawa dampak baik dan buruk. Untuk itulah, kita harus selektif memilih teman dan inilah alasannya.

1. Karakter berkembang lewat pertemanan

Lingkaran pertemanan menjadi faktor penting untuk masa depan, lo. Ya, karena dengan siapa kamu menghabiskan waktu, di situlah karaktermu terbentuk.

Misal, kita berteman dengan orang yang senantiasa menganggap bahwa kopi itu pahit maka perlahan pola pikir kita akan demikian, meski sebelumnya kita menganggap kopi itu tidak pahit.

Sebaliknya nih. Kalau kita berada dalam lingkungan pertemanan yang positif maka pola pikir kita akan terbuka hingga mampu memandang segala sesuatu dari sudut berbeda.

2. Berada dalam lingkungan yang tepat akan membuat potensimu makin melesat

Ini sih sudah enggak bisa diganggu gugat, ya. Tiap orang memiliki potensi berbeda. Nah, jika mereka berada dalam lingkungan yang tepat, potensi mereka juga makin melesat.

Kenapa? Karena dalam lingkungan pertemanan sehat, mereka akan mendorong kita menjadi versi terbaik diri kita sendiri. Mereka akan menjadi support system yang memang dibutuhkan setiap orang.

3. Tidak semua orang berniat baik dalam pertemanan

Ingat, ya, tidak semua orang berniat baik dalam pertemanan. Dengan kata lain, biasanya ada udang di balik batu.

Ada orang yang memilih berteman dengan kita hanya karena harta, kepintaran, atau fisik semata.

Ada pula yang secara zahir (kasat mata) terlihat berteman dengan kita, tetapi tidak dengan hatinya.

Percayalah, toxic people seperti mereka tidak layak mendapat perhatian kita.

4. Teman adalah refleksi diri kita

Yup, teman adalah refleksi diri kita yang sesungguhnya. Citra kita di hadapan khalayak ditentukan oleh seberapa baik lingkaran pertemanan yang dimiliki.

Persepsi orang terhadap kita biasanya berdasarkan dengan siapa kita banyak menghabiskan waktu, misal terbiasa hang out dengan para sosialita maka seperti itulah citra kita di hadapan manusia.

5. Berteman dengan orang yang membawa pengaruh baik tentu lebih utama

Siapa sih di dunia ini yang ingin berteman dengan orang yang tidak baik? Enggak ada, kan? Nah, dalam hal ini, pilih-pilih teman bukan berarti kita tidak menghargai perbedaan. Justru karena pengaruh teman ini sangat kuat, kita harus lebih bijak.

Bertahan dalam pergaulan yang kurang baik, justru sangat merugikan. Orang-orang seperti itu ibarat benalu yang perlahan menggerogoti kualitas hidup kita.

Pandangan Islam tentang pertemanan

Islam adalah agama yang sempurna dan membahas segala sesuatu dengan detail. Tidak terkecuali dengan pertemanan ini.

Pengaruh teman bergaul telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sabda beliau:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”

(HR. Bukhari Muslim )

Banyak orang yang akhirnya berbuat maksiat hanya karena berteman dengan orang berakhlak buruk. Sebagian lain justru mendapat hidayah karena berteman dengan orang berakhlak baik dan saleh.

Nah, dalam hadis tersebut di atas, jelaslah kiranya bahwa ketika seseorang berteman dengan orang yang akhlaknya baik, ia akan memperoleh dua manfaat, yaitu dia akan menjadi baik atau minimal akan memperoleh kebaikan dari temannya.

Saat kita berteman dengan orang saleh, dia akan mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita, dia juga akan senantiasa mengingatkan kita kepada Allah. Nasihat penuh hikmah pun akan dia berikan.

Tak hanya itu, teman yang saleh akan mengajak kita berakhlak yang baik pula. Satu lagi, dia juga akan bersabar atas kekurangan yang ada dalam diri kita.

Masya Allah.

Benar adanya bahwa seseorang akan mengikuti tabiat dan perilaku temannya.

Kebalikan dari berteman dengan orang saleh, saat kita berteman dengan orang yang akhlaknya buruk maka kita juga akan mendapatkan dampaknya, yakni kita menjadi jelek atau mendapatkan kejelekan yang dilakukan teman kita.

Berteman dengan orang yang buruk akhlaknya tentu akan membahayakan diri kita. Perlahan kita akan seperti mereka hingga jatuh dalam kehancuran. Naudzubillah.

Oleh sebab itu, nikmat paling besar bagi seorang hamba adalah saat Allah Ta’ala memberinya taufik berteman dengan orang saleh. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah Ta’ala mengujinya dengan teman yang buruk.

Kualitas seseorang bisa dilihat dari temannya

Kualitas seseorang itu bisa dilihat dari temannya, lo. Dengan kata lain, akhlak kita itu tak jauh dari teman kita. Kok bisa? Iya, coba deh kita tengok hadis di bawah ini.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kita memilih teman bergaul yang baik. Lantas, mengapa kita masih saja mempertahankan teman-teman yang berakhlak buruk?

Menyesal di akhirat karena berteman dengan orang yang buruk

Salah memilih teman akan merusak agama kita. Jangan sampai menyesal di akhirat hanya karena berteman dengan orang yang buruk.

Allah Ta’ala memberi gambaran bagaimana seseorang berteman dengan teman yang buruk selama di dunia hingga akhirnya dia menyesal.

“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an sesudah Al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia”

(QS. Al Furqan:27-29)

Berteman itu tidak hanya sekadar ber-hahahihi atau sibuk membicarakan hal-hal duniawi saja. Namun, lebih dari itu. Berteman itu harus memberi manfaat untuk kehidupan di akhirat. Mengapa? Karena berteman dengan orang-orang berakhlak mulia akan memberi syafaat kelak di negeri akhirat.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga dari pengaruh teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang saleh. Aamiin allahumma aamiin.

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: pinterest

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

6 Comments

  1. MasyaAllah bener banget mbaa. Ngga heran kalau seseorang itu dilihat salah satunya dari “dengan siapa dia bergaul”. Remindernya pas banget.

  2. Masya Allah mb.. thanks remindernya ..

    Mungkin itu sebabnya kita berteman ya mbak.. hehe.. kita kan menyerupai yg kita cintai. Saling mendoakan.. Lalu, dikumpulkan dan dipertemukan di tempat terbaik di sisi Allah kelak.

  3. Bagus artikelnya mengingatkan untuk memilih teman. Sayangnya saya sekarang kok engga cocok ya dengan teman ex SMA dan kuliah. Apalagi heboh pilpres dan berita pandemi, kemarin. Akhirnya saya berteman dengan teman-teman penulis dan blogger saja deh. Lebih nyaman…hehe…

Leave a Comment