Kaya, tetapi Miskin

Bismillah

Seri Ramadan kali ini saya tertarik membahas tentang orang kaya dan miskin. Bukan apa-apa, semua catatan ini tentu saya tujukan bagi diri saya sendiri. Jika orang lain dapat mengambil manfaatnya, alhamdulillah sekali.

Dalam tulisan Menjadi Orang Paling Kaya, saya menukil sebuah hadis yang begitu menghunjam dada.

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Alhamdulillah karena saya masih diberi kesehatan, menikmati makanan, dan berteduh dari panasnya matahari dan derasnya hujan yang mengguyur Salatiga malam ini.

Alhamdulillah atas segala nikmat dan rezeki yang telah Allah limpahkan kepada saya dan keluarga.

Saya masih memiliki ketiga hal yang disebutkan dalam hadis tersebut. Itu berarti saya adalah orang kaya.

Pun demikian dengan kalian. Selama masih sehat, bisa makan, dan berteduh dalam rumah (meski mengontrak) maka kalian orang paling kaya yang memiliki dunia dan seisinya.

Kaya, tetapi miskin

Hah? Kaya, tetapi miskin? Jadi, begini, ketika kita sudah memiliki tempat tinggal, bisa makan makanan yang cukup, dan diberi kesehatan, tetapi masih merasa miskin. Sepatutnya kita berhati-hati.

Penyakit kaya, tetapi miskin ini sangat berbahaya. Mengapa? Karena orang yang terjangkit penyakit mental miskin tidak akan merasa puas dengan apa yang dimiliki.

Ya, mereka akan terus berusaha mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bahasa gampangnya nih, segala cara akan mereka halalkan. Ngeri, kan?

Mereka tidak akan peduli bahwa setiap makhluk telah mendapat jatah rezekinya sendiri.

“Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.” (QS. Hud:6)

Ciri orang bermental miskin

Sebagaimana sebuah penyakit yang harus dihindari, mental miskin tentu wajib diwaspadai. Jangan sampai segala amalan kita sia-sia hanya karena bermental miskin.

Lalu, bagaimana ciri-ciri orang bermental miskin?

  1. Selalu merasa kurang. Orang yang bermental miskin tidak akan memiliki rasa qana’ah dalam dirinya. Dia akan selalu merasa kurang. Akibatnya, dia tidak bisa mensyukuri apa yang telah ia miliki. “Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari)
  2. Kikir. Selain selalu merasa kurang, orang bermental miskin biasanya kikir. Dia enggan memberikan sebagian hartanya untuk orang lain. Dia menganggap bahwa dia telah bekerja keras mati-matian maka hanya dialah yang berhak atas hartanya.
  3. Tidak peduli dengan halal atau haramnya ia mendapatkan harta. Tidak mau bersyukur, selalu merasa kurang, dan kikir. Selanjutnya, orang bermental miskin pun akan menghalalkan segala cara agar hasratnya terpenuhi. Dia tak lagi peduli dengan batasan halal dan haram dalam mencari harta. Hal yang ada dalam pikirannya hanyalah uang, uang, dan uang. Segala cara akan ia tempuh demi uang. Hendaknya setiap Muslim memahami bahwa kelak Allah akan bertanya mengenai harta yang kita miliki, dengan cara apa kita mendapatkannya, dan bagaimana kita menggunakannya. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram.” (HR. Ibn Hibban). Dalam hal ini, yang harus kita perhatikan adalah bagaimana memperoleh harta dan wujud barangnya, apakah halal atau haram.
  4. Cinta dunia secara berlebihan. Ciri berikutnya adalah cinta dunia scara berlebihan. Orang bermental miskin biasanya terlalu gengsi. Dia begitu bernafsu pada dunia. Segala sesuatu harus bermerek mahal. Semua itu untuk memuaskan nafsu duniawinya. Dia pun merasa malu jika tidak memiliki benda-benda mahal.
  5. Terlupa bahwa semua hanya titipan dari Allah Ta’ala. Ya, orang bermental miskin tidak akan pernah menyadari bahwa semua harta yang ia milky hanyalah titipan Ilahi. Begitu besar rasa cintanya terhadap dunia hingga dia terlena dan tidak bersyukur kepada Rabbnya.

Apalah arti semua harta dan properti mewah yang kita miliki jika kelak hanya amalan saleh yang kita bawa mati.

Apatah gunanya harta benda bertumpuk jika jiwa terasa lapuk?

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang kaya, tetapi miskin. Aamiin allahumma aamiin.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: Pinterest

#inspirasiramadan

#dirumahaja

#flpsurabaya

#BERSEMADI_HARIKE-19

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment