muslimah dan peradaban

Muslimah dalam Bingkai Peradaban

Bismillah

Pembahasan tentang wanita–khususnya Muslimah–dan peradaban dunia rasanya tak pernah ada habisnya. Mengapa? Karena memang wanita merupakan pilar; pondasi masyarakat. Mempersiapkanya berarti mempersiapkan generasi hebat.

Peran Muslimah tak bisa dianggap sebelah mata. Merekalah garda terdepan dalam mendidik anak-anak. Mereka pula yang menjaga harta dan kehormatan suami tercinta.

Adalah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha, teladan Muslimah sepanjang masa. Beliau seorang istri, pebisnis, dan ibu yang istimewa. Seluruh hidupnya ia gunakan untuk mendampingi suami terkasih. Ia kuatkan sang suami saat tiada yang percaya kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari rahimnya pula terlahir anak-anak yang berkarakter mulia.

Baca juga: Khadijah binti Khuwailid; Teladan Muslimah Sepanjang Masa

Ibunda Para Ulama

Kejayaan Islam di masa lalu, tak pernah lepas dari campur tangan para Muslimah. Sejarah mencatat bagaimana para ulama dididik oleh wanita-wanita hebat. Mereka menanamkan dasar-dasar agama dan aqidah yang kuat hingga sang anak menjadi anak-anak akhirat.

Sebut saja Ibunda Imam Malik bin Anas. Sewaktu Imam Malik masih kecil, ibundanya senantiasa memakaikan pakaian dan imamah untuk putranya. Sang ibu lantas mengantarkan beliau untuk menuntut ilmu kepada Rabi’ah bin Abi Abdirrahman. Tak lupa sang ibu berpesan kepada Imam Malik kecil untuk memelajari akhlak dan adab dari sang guru sebelum belajar hadis dan fiqih darinya.

Tahu Imam al-Bukhari, ahli hadis yang dijuluki Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin orang-orang beriman dalam ilmu hadis)? Karya monumentalnya menjadi rujukan kaum Muslimin sepanjang zaman. Ibundanyalah yang membentuk kepribadian beliau. Pada usia 16 tahun, sang ibu meninggalkannya di Mekkah agar beliau belajar bersama para ulama. Berkat bimbingan dan doa sang ibu, kita pun mengenal Imam al-Bukhari seperti hari ini.

Kemudian, ada Ummu Sulaim, ibunda shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Wanita yang dikenal dengan mahar keislaman sang suami, Abu Thalhah saat mereka menikah. Kecintaan Ummu Sulaim kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuatnya menghadiahkan Anas bin Malik ke hadapan beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun berkhidmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga akhir hayat. Ummu Sulaim dikenal sebagai wanita penyabar dan pemberani. Ibunda Anas bin Malik tersebut juga meriwayatkan empat belas hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tiada berbeda dari para wanita hebat sebelumnya, ibunda Imam asy-Syafi’i pun menjadi wanita mulia di belakang sang putra. Keterbatasan materi yang ia miliki tak membuatnya menyerah untuk mendidik sang anak dengan pendidikan terbaik. Saat berumur 15 tahun, Imam asy-Syafi’i diizinkan berfatwa oleh sang guru. Ibunya tentu bukan sembarang orang, melainkan Muslimah yang cerdas dan paham ilmu agama.

Baca juga: Ibu, Setinggi Apa Cita-Citamu untuk Buah Hatimu

Al-Khansa, Tumadhar binti Amr bin al-Harits … dialah ibunda para mujahid mulia. Dia merelakan keempat putranya berjihad di jalan Allah hingga gugur dan syahid. Perang Qadisiyah merenggut nyawa anaknya, tetapi sang ibu tak gentar. Sungguh, dadanya telah dipenuhi keimanan kepada Allah Ta’ala sehingga ketika kehilangan pun, dia tidak berkecil hati.

Ibunda Abdurrahman As-Sudais pun patut dijadikan teladan. Lihatlah bagaimana seorang ibu yang ketika marah, dia mendoakan kebaikan luar biasa bagi putranya. Hingga bisa kita saksikan Syaikh Abdurrahman As-Sudais menjadi Imam Besar Masjidil Haram berkat doa sang ibu.

Islam Memuliakan Wanita

Islam begitu menjaga dan memuliakan wanita. Mengapa? Karena wanita merupakan sosok yang menjadi penentu baik buruknya satu generasi bangsa. Ia ibarat pilar yang sedikit saja ia rapuh, maka hancurlah seluruh bangunan.

Lihatlah bagaimana Islam mengatur agar Muslimah senantiasa terjaga kehormatan dan kemuliaannya. Perintah menutup aurat, menundukkan pandangan, tidak memakai wewangian, dan berdiam diri di rumah merupakan syariat agung yang ditetapkan bukan tanpa alasan.

“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

“Tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliyah terdahulu.” (QS Al Ahzab: 33)

Saat Islam diterapkan, urusan wanita sangat diperhatikan. Semua itu tentu saja demi kebaikan mereka sendiri dan demi berlangsungnya tatanan kehidupan yang jauh dari perilaku menyimpang.

Bayangkan jika tidak ada aturan yang mengikat, entah bagaimana jadinya pergaulan laki-laki dan perempuan. Kerusakan masyarakat pun tentu tak dapat dihindarkan.

Hak-Hak Wanita

Di antara kelemahan sebagian Muslimah saat ini adalah begitu mudahnya mereka meyakini embusan pemikiran dan stigma negatif yang disematkan terhadap ajaran Islam. Dikatakan bahwa Islam mengekang kebebasan wanita. Poligami, pembagian harta warisan, kepemimpinan, dan segudang hukum Islam lainnya digugat.

Emansipasi wanita dan kesetaraan gender menjadi umpan empuk untuk menjerat sebagian Muslimah keluar dari batasan syariat. Sayangnya, justru mereka mendukung hancurnya diri mereka sendiri.

Andai mereka tahu bahwa wanita memiliki hak yang sama sebagaimana kaum pria. Agama, harta, akal, dan kehormatannya terjamin dalam Islam. Apa contohnya? Wanita memiliki hak yang sama dalam beribadah dan mendapatkan pahala.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa: 24)

Wanita berhak mendapat warisan sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nisa: 11-13. Hal ini justru bertolak belakang dengan apa yang terjadi di masa jahiliyah ketika wanita tidak mendapat apa-apa.

Wanita juga memiliki hak yang sama untuk menuntut ilmu sebagaimana laki-laki. Inilah keagungan Islam. Pengajaran terhadap kaum wanita pun dicontohkan pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau sendirilah yang mengajar kaum wanita. Para Muslimah kala itu pun bersemangat menuntut ilmu karena memang ilmu tidak didapat hanya dengan jasad yang santai.

Baca juga: Sebab Ilmu Takkan Didapat dengan Jasad yang Santai

Wanita dalam Islam juga berhak dilibatkan dalam musyawarah mengenai masa penyusuan. QS Al-Baqarah ayat 233 secara khusus menjelaskan hal tersebut.

Dalam hal peradilan pun, wanita berhak mengadukan masalahnya kepada hakim. Kita bisa melihat penjelasannyadalam QS. Mujadilah ayat 1.

Satu lagi, wanita dan laki-laki, mereka bersama-sama beramar makruf nahi munkar dan ibadah-ibadah lain sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 71.

Allah juga berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 228:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menjelaskan hak wanita atas laki-laki sebagaimana laki-laki berhak atas wanita. Masing-masing dari keduanya wajib menunaikan hak yang lainnya dengan cara yang makruf. Inilah sanjungan atas hak-hak wanita yang amat istimewa.

***

Itulah sekelumit tentang wanita Muslimah dan peradaban yang dimulai darinya. Bagi seorang Muslimah, Islam adalah satu-satunya agama yang memberi hak istimewa bagi wanita.

Islam bukanlah agama diskriminasi sebagaimana yang didengungkan oleh para kaum liberal dan feminis. Hanya dengan Islamlah kodrat dan fitrah wanita terjaga sempurna bak mutiara.

Untuk itu, Saudariku. Mari kita berletih-letih menuntut ilmu agama agar agama ini kembali jaya. Sebab anak-anak kita tidak membutuhkan ibu yang gemar menonton film India, hafal berbagai nama artis Korea, dan sebagainya. Namun, lebih dari itu, anak-anak kita butuh ibu yang mengerti agama.

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Referensi:

  • Rumaysho(dot)com
  • Kisah Muslim
  • Muslim(dot)or(dot)id

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Indscript Writing “Perempuan Menulis Bahagia”

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment