Momen Berkesan Selama Kehamilan dan Melahirkan?

Bismillah

Bagi setiap wanita yang telah menikah, momen kehamilan dan melahirkan tentu menjadi momen yang takkan terlupakan. Pasalnya, perjalanan menjadi seorang ibu akan segera dimulai.

Tak bisa dipungkiri bahwa momen membahagiakan bagi seorang ibu hamil adalah mengetahui perkembangan janin, mendengar detak jantung buah hati, merasakan tendangan-tendangan dari tubuh mungilnya, dan berbagai perubahan luar biasa lainnya.

Tak hanya itu, perhatian dan kasih sayang orang terdekat pun akan menambah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu hamil. Dengan kata lain, support system yang baik tentu akan berdampak baik bagi ibu dan buah hatinya.

Sayangnya, tidak semua orang paham betapa seorang ibu hamil itu membutuhkan dukungan yang luar biasa. Alih-alih diperhatikan, yang ada malah sebagian ibu hamil mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan, padahal sang ibu sedang menggenggam dunia dalam rahimnya.

Lihatlah Maryam binti Imran

Kita tentu tahu dong bagaimana kisah salah satu wanita pemuka wanita ahli surga yang bernama Maryam? Beliau adalah putri Imran, seorang lelaki saleh dari Bani Israil.

Lihatlah kisah beliau tatkala mengandung Nabi Isa alaihissalam. Dalam satu kajian ustaz Budi Ashari, saya pernah mendengar bahwa kehamilan, dalam Islam itu sangat penting. Saking pentingnya, Al-Qur’an membahasnya dengan sangat detail.

Dalam kisah kehamilan Maryam binti Imran, Al-Qur’an juga menceritakan setiap detailnya. Hingga berujung pada satu kesimpulan utama, yaitu ibu hamil tidak boleh sedih.

Setuju enggak kalau ibu hamil tidak boleh sedih? Hanya orang yang tidak waras saja yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Next ….

Maryam binti Imran, wanita suci yang belum bersuami, tiba-tiba hamil. Bisa dibayangkan betapa sedihnya beliau, kan? Saking sedihnya, sampai-sampai beliau meminta kematian saat hendak melahirkan Nabi Isa alaihissalam.

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.” (QS. Maryam: 23)

Sedih saat hamil itu tidak diperbolehkan. Untuk itulah, Allah Ta’ala menghibur Maryam. Lihat … lihatlah, Maryam menyatakan rasa sedih luar biasa dalam satu ayat, tetapi Allah menghiburnya dengan tiga ayat sekaligus! Sedihnya satu ayat, hiburannya tiga ayat! Masya Allah. Kenapa begitu? Ya, karena memang ibu hamil dalam keadaan sedih itu TERLARANG, Ferguso!

Mau tahu bagaimana Alah Ta’ala menghibur Maryam?

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

(QS. Maryam: 24 – 26)

Dalam tafsir Al-Muyassar disebutkan tafsir ayat 24 – 26 sebagai berikut:

Kemudian Jibril memanggilnya dari tempat yang lebih rendah dari tempat Maryam untuk meringankan cobaannya dan memberinya kabar gembira dan pengajaran: “Hai Maryam, janganlah kamu bersedih, Allah telah menciptakan aliran air di bawahmu dan mengalir di depanmu, dan goyangkanlah batang pohon kurma itu agar berjatuhan kepadamu kurma segar dan matang. Hal ini agar kamu dapat makan dan minum, dan menenangkan matamu dengan tidur, serta menentramkan hatimu dari kesusahan. (ayat 24 – 25)

Agar kamu dapat makan kurma yang bermanfaat, minum air tawar, dan jiwamu menjadi tentram dengan kehadiran anak ini. Dan jika seseorang bertanya kepadamu tentang anak ini, maka jawablah: “Aku bernazar kepada Allah untuk tidak berbicara dengan seorang pun.” (ayat 26)

See? Memperlakukan ibu hamil dengan cara yang tidak semestinya hingga membuatnya bersedih dan depresi, sungguh tidak dibenarkan. Teringat pesan bapak saya rahimahullah bahwa seseorang (siapa pun itu) yang membuat sedih seorang ibu hamil, maka ia telah merusak satu generasi emas suatu bangsa. Ngeri, ya?

Namun, memang demikianlah adanya. Ibu hamil yang didera kesedihan luar biasa, akan berakibat fatal pada sang bayi.

Stres karena mitos tentang ibu hamil

Ibu hamil memang rentan stres, ya. Suami salah sedikit aja, udah sensi deh, wkwkwwk. Tingkat stres tiap orang memang berbeda, tetapi jangan sampai hal tersebut membuat kita mudah menjatuhkan stigma kalau si ibu A lebay, dan sebagainya.

Baca juga: Musik Klasik Bisa Mencerdaskan? Mitos atau Fakta?

Ada kalanya, seorang ibu hamil akan merasa stres karena dilarang ini dan itu. Tujuannya sih baik, agar proses kehamilan dan melahirkan nantinya lancar jaya. Sayangnya, mitos tentang ibu hamil ini justru mengganggu.

Biasanya, mitos-mitosnya tuh seperti ini:
🍁 Ibu hamil tidak boleh makan nanas.
Pengalaman saya semasa hamil dulu, saya pernah makan nanas sekali, itu pun karena pengin banget. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa karena memang kakak perempuan dan bapak saya bilang enggak apa-apa asal maknnya jangan terlalu banyak.

🍁 Minum air kelapa biar kulit bayinya putih.
Ini sih dulu saya sering minum. Bukan karena apa-apa, tetapi memang minum air kelapa itu menyegarkan dan bisa mengurangi risiko dehidrasi.

🍁 Calon bapak tidak boleh membunuh binatang selama istrinya hamil.
Kalau ini, kurang tahu kebenarannya wkwkwk. Hanya saja, kata Bapak, orang yang sedang hamil itu ibarat berpuasa untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang (dari sisi syariat). Bukan hanya sang ibu, melainkan juga sang bapak. Tujuannya agar kelak anaknya menjadi anak saleh. Nah, terkait membunuh binatang, masih kata bapak saya, kalau hewannya membahayakan diri kita, ya, boleh dibunuh, tetapi jangan lupa untuk mengucap basmalah terlebih dahulu.

🍁 Ibu hamil dilarang ‘mbatin’ atau bergumam sesuatu yang jelek.
Bapak saya dulu sering banget mengingatkan hal ini. Rekaman suara saat beliau menelepon tentang ini pun, masih saya simpan.

Kata beliau (kalau diterjemahkan begini), “Dek Reni, ingat, jangan suka bergumam yang jelek, misal, eh orang itu kok wajahnya gitu. Mending langsung menghindar, banyak istigfar, banyak dzikir.”

Bapak … sebegitu perhatiannya beliau padaku.

🍁Ibu hamil dilarang duduk di tengah pintu rumah karena akan membuat proses persalinan susah.
Saya enggak sepenuhnya percaya sih, cuman kata Bapak (lagi-lagi beliau yang memberi petuah), duduk di tengah pintu itu enggak sopan, menghalangi orang yang hendak masuk rumah. Dikhawatirkan, orang tadi akan mendoakan keburukan. Gitu kata bapak saya.

Dampak ibu hamil yang stres dan sedih

Dilansir dari halodoc, Association for Psychological Science meneliti bahwa janin berusia 6 bulan mampu merasakan emosi sang ibu. Jadi, ketika sang ibu stres atau menangis karena sedih, janin juga akan mengalami kecemasan. Kok bisa? Karena saat ibu stres, tubuh menghasilkan hormon stres yang disalurkan ke janin melalui plasenta.

Makin sering ibu hamil stres, makin besar pula hormon stres yang dihasilkan. Akibatnya, hal-hal berikut akan terjadi:
🍁 Memengaruhi kondisi psikis janin
Ibu hamil yang stres berkepanjangan akan memengaruhi kondisi psikologis janin. Apa pun yang dirasakan sang ibu, janin akan turut merasakannya. Bila sejak dalam kandungan janin mengalami stres sebagaimana ibunya, si kecil pun bisa jadi akan tumbuh menjadi anak yang cengeng dan penakut.

🍁 Perkembangan fisik janin terganggu
Menangis membuat aliran darah ke bayi terganggu, akibatnya perkembangan fisik janin pun terhambat.

🍁 Risiko lahir prematur
Stress berkepanjangan dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur karena aliran darah yang bertugas mengangkut nutrisi ke bayi, berkurang.

If you ask about my feeling …

Jujur saja, momen kehamilan dan melahirkan,  bagi saya, memang tak bisa dilupakan begitu saja. Bagaimana mungkin melupakan raut wajah suami yang terlihat pucat saat menghadapi pengalaman pertama istri melahirkan wkwkwk. Pun bagaimana terlupa pada Bapak rahimahullah yang selalu menghibur diri ini tatkala mertua tak peduli.

Saya ingat betul betapa bahagianya Bapak mendengar berita kehamilan saya. Hampir setiap hari beliau meminta kakak-kakak menelepon dan menanyakan keadaan saya. Tak lupa, Bapak juga bertanya, “Kamu pengin maem apa, Nduk?”

Begitu saya menyebut beberapa makanan khas Cepu yang begitu saya inginkan, Bapak dengan serta merta langsung mengirimnya ke Salatiga.

Saya bahagia luar biasa. Benar jika ada yang berkata, “Joy and sorrow are inseperable. They come up together. And when one of them sits alone by your side, bear in mind that another one is asleep under your bed.”

Bapak menjadi pengobat lara saat mertua tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya. Saya kecewa. Bagaimana tidak, kala itu adalah kehamilan pertama saya, Ibuk saya telah lama tiada, sedangkan mertua masih muda dan sehat dua-duanya. Namun, mereka benar-benar tidak punya rasa.

Saya iri dong tiap kali melihat teman-teman saya bercerita betapa bahagianya memiliki mertua yang perhatian wkwkwk, eh, tapi sekarang biasa aja, enggak ngaruh. Segala macam pernak-pernik bayi disediakan oleh sang mertua. Adapun saya? Jangankan membelikan perlengkapan bayi, menanyakan kabar saja tidak, atau minimal memberi wejangan kehamilan pun tidak, padahal pernah hamil, kan? wkwkwkwwk.

Oleh sebab itu, saya menolak keras saat suami menginginkan saya tinggal bersama mertua selama kehamilan sampai melahirkan. Wew … bagaimana mungkin saya bisa hidup bersama dengan orang-orang yang tidak peduli dengan saya? Saya lebih memilih tinggal bersama Bapak dan saudara-saudara di Cepu.

Masih segar dalam ingatan bagaimana saya menangis histeris karena zahirnya sih saya punya mertua, tetapi seperti tidak punya mertua wkwkwkwkw. Yah, kalau dibuat judul FTV sih jadinya Antara Ada dan Tiada. Hingga saat saya melahirkan pun, sikap mertua tetap demikian. Kisah kehamilan dan melahirkan yang sempat membuat saya depresi ini telah saya abadikan dalam satu antologi Perjalanan Menjadi Ibu.

Antologi pertama saya yang telah terjual 500 eksemplar
So proud of myself

Kini baru saya sadari, stres saat hamil telah berpengaruh buruk terhadap anak saya. Dia tumbuh menjadi anak yang mudah menangis dan sensitif. 😞

Sungguh, saya tidak bisa memaafkan mereka. Saya menganggap mereka tidak pernah ada. Hahaha. Jahat, ya? Bodo amat.

Be a good support system for an expecting mommy

Tidak pernah terlintas dalam benak bahwa saya akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan selama proses kehamilan dan melahirkan. Pengalaman kakak ipar yang selalu mendapatkan perhatian ibuk saya rahimahallah ketika dia hamil dan melahirkan, membuat saya berpikir kelak saya juga akan diperhatikan oleh mertua. Namun, nyatanya meleset, Esmeralda, wkwkwkw.

Tidak masalah. Toh, saya belajar banyak dari mertua. Ya, saya belajar bahwa kelak ketika saya memiliki menantu perempuan, saya harus memperlakukannya dengan sangat baik karena saya tahu betul bagaimana memiliki mertua yang bikin mengelus dada lebih sering wkwkwkw.

Saya juga belajar bagaimana menjadi support system terbaik untuk orang-orang terdekat. Saya benci orang-orang yang membuat sedih ibu hamil dan melahirkan. Orang-orang seperti merekalah yang menjadi salah satu sumber kehancuran satu generasi dan harga diri seorang ibu.

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: Pinterest













About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment