Menulis Sebagai Self-Healing Therapy

Bismillah

Sebagian orang mengatakan bahwa menulis itu membutuhkan bakat khusus. Bahwa menulis itu hanya untuk para penulis. Benarkah demikian?

Tahukah kalian? Pada hakikatnya, kita semua terlahir sebagai penulis. Menulis bisa sangat bermanfaat bagi kita. Menulis bisa dijadikan self-healing therapy. Mengapa? Karena melalui kegiatan menulis, kita mampu mengeksplorasi perasaan dan mengungkapkan apa yang terpendam dalam pikiran.

Menulis itu ibarat kita sedang berbicara kepada diri kita yang lain. Saat otak terasa ‘gaduh’, menulis bisa dijadikan terapi mengurai ‘kegaduhan’. Adakalanya kita merasa kesulitan mengungkapkan sesuatu secara lisan.

The Power of Writing

Kita cenderung menyimpan energi-energi negatif dalam diri kita. Namun, ketika kita mencoba menuliskannya, maka secara tidak langsung hal tersebut justru ‘menyembuhkan’.

Saya akan memberi contoh tentang bagaimana menulis bisa memberikan efek luar biasa bagi tubuh. Kita tentu tahu betapa berat bapak Habibie menjalani hari-hari tanpa ibu Ainun.

Dikutip dari Liputan 6, pria yang pernah menjadi presiden Republik Indonesia ketiga tersebut mengalami Psikosomatik Malignant. Beliau mengalami depresi setelah kepergian sang istri tercinta.

Saat itu, tim dokter mengajukan 4 opsi pemulihan, yakni harus masuk rumah sakit jiwa, tinggal di rumah dengan pengawasan dokter, curhat ke orang terdekat, atau beliau menyelesaikannya sendiri. Beliau pun akhirnya memutuskan untuk memilih opsi keempat, menyelesaikannya sendiri.

Pak Habibie menuliskan semua romansa yang beliau alami bersama sang istri. Tentu tidak mudah menuliskannya. Perasaan beliau sudah dipastikan mengalami pasang surut.

Namun, akhirnya beliau bisa melewati masa-masa tersebut. Beliau menulis puisi-puisi untuk mengurangi beban depresi yang menghimpit karena kehilangan kekasih hati. Beliau ungkapkan semua perasaan yang beliau rasakan lewat tulisan. Dan ternyata, hal itu sangat ampuh.

Mulai Menulis

Lalu, bagaimana jika kita ingin menulis tetapi tidak tahu apa yang harus ditulis? Kita bisa melakukan tiga hal ini:

Menulis bebas

Tulis saja apa yang saat ini kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan. Kita tidak perlu menyortir apa-apa yang tidak semestinya kita tulis. Pokoknya tuliskan saja, entah itu perasaan bahagia, sedih, marah, bahkan benci sekali pun.

Contoh, “Hari ini aku terbangun dengan perasaan kacau. Aku tidak menemukan suamiku di sampingku. Aku lantas mencarinya ke mana-mana. Betapa kagetnya aku ketika di meja makan, aku menemukan secarik kertas bertuliskan ‘Sayang, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Hari ini aku berangkat kerja lebih awal. Love you’. Aku tersenyum.”

Atau bisa juga: “Aku benci orang-orang itu. Mereka selalu menyudutkanku. Aku tidak pernah dianggap berarti. Aku yang harus selalu memahami mereka.”

Inti dari menulis adalah mengungkapkan uneg-uneg agar hati merasa lega. Saya juga suka menulis tentang perasaan saya atau hal-hal yang sekiranya pernah dialami orang-orang terdekat saya.

Saya lalu mencoba memosisikan diri saya berada di posisi mereka. Setelah itu, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Seperti ketika seseorang harus kehilangan kekasih yang sangat dicintainya. Saya mencoba berempati dan merasakan penderitaannya. Kemudian, lahirlah satu tulisan.

Menulis puisi

Kelihatannya sih sulit, tetapi tidak ada salahnya dicoba. Menulis puisi tidak harus sesuai pakem. Kita bisa menulis puisi di luar aturan-aturan yang ada.

Apa yang bisa kita lakukan untuk memulainya? Cobalah untuk merekam kejadian-kajadian saat kita masih kecil. Lalu tuliskan apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan saat kenangan tersebut terlintas. Tuliskan dalam beberapa kata yang tidak terlalu panjang.

Menulis surat

Saya teringat seorang kawan yang memiliki pengalaman cukup menarik tentang ini. Dia jatuh cinta dengan sahabatnya, tapi ia takut mengungkapkan perasaan. Apa yang terjadi? Dia mencoba menulis surat untuk orang yang dicintainya.

Teman saya mengungkapkan semua perasaan lewat surat tersebut. Namun, dia tidak pernah mengirimkan surat cinta kepada sahabatnya. Dia simpan surat itu di suatu tempat yang tidak akan bisa dia temukan.

Apa yang terjadi setelah itu? Dia merasa lebih lega.

Saat kita mengalami hal-hal buruk, tulis saja sepucuk surat tanpa harus mengirimkannya ke orang yang bersangkutan.

Satu-satunya kunci agar menulis bisa menjadi bagian dari self-healing therapy adalah dengan jujur kepada diri sendiri. Jangan pernah membohongi perasaan kita. Pun, jangan menyangkalnya.

Menulis … mungkin hanyalah kegiatan remeh, tetapi dia bisa menjadi sumber kekuatan ketika kita menuliskan apa yang ada dalam pikiran kita.

So, what’s in your mind?

Barakallahu fiik

Photo credit: pexels.com

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

5 Comments

  1. Iya ya. Menulis dari apa yang kita liat, kita dengar dan kita rasakan. Di tulis dengan perasaan yang jujur Bener banget bisa bikin hati tuh jadi lebih lega. Alhamdulillah

    Jadi makin semangat menulis nih, setelah diceritakan soal self healing sama Ummu ‘Aashim.

    1. 😍
      Saking sepakatnya sampai sy tidak bisa mengatakan apa-apa. Benar sekali Mbak. Menulis bisa jadi self healing therapy. Salah satunya dengan cara jujur pada diri sendiri.

      Eum, tapi ngomong-ngomong. Untuk penulisan bapak atau ibu yang disertai nama, bukan kah diawali huruf kapital?

      Terimakasih sudah berbagi Mbak Ree… 😘

Leave a Comment