Menjadi Orang Paling Kaya

Bismillah

Siapa yang tidak ingin menjadi orang paling kaya? Tentu tidak ada, kan? Aduhai enaknya menjadi orang kaya. Hidupnya bak raja yang bergelimang harta.

Semua orang pun berlomba-lomba menumpuk harta. Tentu saja, demi mendapat predikat dan julukan sebagai orang paling kaya.

Bagi sebagian orang, definisi kaya hanyalah berupa deretan angka di rekening tabungan. Makin banyak nominalnya, makin besar peluang disebut orang paling kaya.

Jika memang benar demikian, tidak semua orang bisa disebut sebagai orang kaya, padahal dari segi syariat, kita pun berpeluang menjadi orang paling kaya, lo.

Orang paling kaya menurut syariat

Teringat bagaimana dulu kedua orang tua saya rahimahumullah mendidik anak-anaknya untuk selalu nrimo ing pandum (baca: menerima segala pemberian dari Yang Mahakuasa).

Mereka mengajarkan untuk menerima apa pun yang saat ini tersaji di hadapan tanpa menuntut di luar batas kemampuan. Ya, menerima apa yang ada dan tidak mencari apa yang memang tidak ada.

Sebuah pelajaran hidup yang terus saya yakini hingga detik ini.

Orang tua saya mungkin bukanlah orang yang menguasai agama, tetapi apa yang mereka ajarkan ternyata berjalan beriringan dengan syariat.

Sebagaimana kita tahu bahwa orang yang paling kaya adalah mereka yang senantiasa bersikap qana’ah. Qana’ah berarti menerima apa pun yang diberikan Allah Ta’ala.

Satu hal yang perlu diingat bahwa qana’ah bukanlah berdiam diri tanpa berusaha. Namun, tetap bekerja dalam koridor syariat, lalu menerima hasil yang didapat.

Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedikit atau banyak yang ia terima, ia bersyukur, bersabar dan tidak mengeluh.

Jika saat ini kita merasa aman meski hanya di rumah saja, kita tidak merasakan sakit sebagaimana mereka yang terbaring di rumah sakit, dan kita memiliki makanan untuk dimakan, itu artinya kita adalah orang paling kaya.

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.”

(HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Bukankah ketiga hal tersebut sudah lebih dari cukup? Adapun yang lainnya, hanyalah pelengkap saja.

Mendidik hati agar senantiasa qana’ah

Sebagaimana dulu kita selalu dipaksa untuk salat, hingga akhirnya kini menjadi satu kebiasaan yang telah mendarah daging maka mendidik hati agar senantiasa qana’ah pun perlu dipaksa.

Bagaimana caranya?

Paksa hati agar menerima semua pembagian dari Rabb Yang Maha Memberi Rezeki.

Allah telah mengatur jatah rezeki kita. Ibarat kata, jika sudah mentok di angka 8, ya sudah, itulah yang kita terima. Tidak peduli kita mati-matian bekerja, hasilnya tetap saja di angka 8.

“Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.”

(QS. Hud:6)

Didik pula hati kita agar senantiasa mencari rezeki dari jalan yang halal. Mengapa? Karena semua itu akan berpengaruh terhadap diri kita sendiri.

Ingatlah nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“Sesungguhnya, seseorang di antara kalian tidak akan mati kecuali setelah dia mendapatkan seluruh rezeki (yang Allah takdirkan untuknya) secara sempurna. Maka, janganlah kalian bersikap tidak sabaran dalam menanti rezeki.  Bertakwalah kepada Allah, wahai manusia! Carilah rezeki secara proporsional, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”

(HR. Al-Hakim; dari Jabir; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Apa sih manfaat qana’ah?

Qana’ah memang bukan perkara mudah. Namun, ketika kita mampu melakukannya, manfaatnya luar biasa.

Qana’ah membuat hati tak mudah iri. Ya, karena hatinya telah terisi sebuah keyakinan bahwa Allah-lah yang memberikan rezeki hingga dirinya merasakan ketenangan batin.

Seseorang yang qana’ah tidak akan pernah tergiur untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain. Dia menerima keadaan dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya.

Qana’ah menempa jiwa untuk selalu bergantung kepada-Nya. Qana’ah akan menempa jiwa kita untuk senantiasa mengadu dan mengharap belas kasihan Rabb Yang Mahakaya. Dunia dan seisinya ini milik Allah, kan? Untuk itulah, adukan saja semua kesedihan dan kegundahan kepada-Nya.

🌿🌿🌿

Menjadi orang paling kaya adalah dengan bersikap qana’ah, yakni berikhtiar lalu menerima apa pun hasilnya.

Semoga kita menjadi seorang Muslim yang senantiasa qana’ah. Aamiin allahumma aamiin.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: Pinterest

#inspirasiramadan

#dirumahaja

#flpsurabaya

#BERSEMADI_HARIKE-18

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment