Menjadi Muslim Futuristis dengan Seni Hidup Minimalis

Bismillah

Apa yang kalian bayangkan ketika membaca atau mendengar “seni hidup minimalis”? Mmm … mungkinkah tentang tinggal di rumah minimalis? Memakai baju dan jilbab minimalis? Hidup irit? Ataukah memiliki pemikiran minimalis?

Hidup minimalis menjadi sesuatu yang sangat populer saat ini. Ya, Francine Jay, seorang ahli penata rumah yang memperkenalkan metode STREMLINE-nya dalam buku Seni Hidup Minimalis, setidaknya telah mengubah sebagian orang untuk memulai hidup secara minimalis.

Jay mengatakan bahwa hidup minimalis itu tidak hanya sekadar tinggal di rumah minimalis bercat putih dan perabotan tanpa ornamen. Namun, lebih dari itu, baginya, hidup minimalis itu adalah bagaimana pola pikir kita dalam menyingkirkan berbagai hal yang mengurangi rasa syukur.

Metode STREMLINE Ala Jay

Apa saja sih metode STREMLINE yang diperkenalkan oleh Francine Jay dalam bukunya tersebut?

Start over (mulai dari awal)

Trash, treasure, or transfer (buang, simpan, atau berikan)

Reason for each item (alasan setiap barang)

Everything in its place (semua barang pada tempatnya)

All surfaces clear (semua permukaan bersih)

Modules (ruangan)

Limits (batas)

If one comes, one goes out (satu masuk, satu keluar)

Narrow down (kurangi)
Everyday maintenance (perawatan setiap hari)

Secara garis besar, metode STREMLINE mengajarkan bahwa makin sedikit barang yang kita miliki, makin rendah pula tingkat stres kita. Selain itu, kita pun tak lagi terobsesi memajang tiruan dunia luar di dalam rumah kita sendiri.

Bukankah tidak semua barang yang kita miliki itu berguna selamanya? Bukankah kita harus pandai memilih dan memilah apa-apa yang memang kita butuhkan agar tidak menjadi beban?

Saat seseorang memilih gaya hidup minimalis, menurut buku ini, maka ia telah terbebas dari siklus “bekerja dan mengonsumsi”. Sehingga, hidupnya jauh lebih berkualitas karena terlepas dari segala hiruk pikuk barang-barang kekinian.

Minimalisme dalam Islam

Sebagai seorang Muslim, kita tentu paham bahwa hidup itu tak hanya tentang dunia. Namun, lebih dari itu, ada kehidupan abadi yang harus kita pikirkan di kemudian hari.

Ya, rasanya egois kalau hidup berkutat dengan dunia hingga melupakan akhirat. Bukankah akhirat itu kehidupan kita yang sesungguhnya?

Berbicara tentang minimalisme, minimalisme berarti hidup dengan tidak berlebihan; sesuai dengan kadarnya. Minimalisme kebalikan dari budaya konsumerisme.

Minimalisme … telah lama diajarkan oleh Islam. Kita mengenalnya dengan zuhud.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)

Dari ayat di atas, Imam al-Junaid dalam kitab Madarij as-Salikin mengatakan bahwa orang yang zuhud itu tidak bangga atas dunia yang dimilikinya. Pun, mereka tidak bersedih jika kehilangan.

Syaikhul Islam, Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

Sementara itu, Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Bukanlah zuhud itu dengan makan makanan yang kasar dan mengenakan pakaian yang usang. Namun zuhud adalah pendek angan-angan dan menanti kematian.”

Zuhud Tidak Selalu Miskin

Sebagian orang salah dalam memahami zuhud. Mereka menganggap bahwa orang zuhud itu miskin, berpakaian compang-camping, meninggalkan harta, dan menjadikan kefakiran sebagai tujuan hiduo. Padahal tidak demikian.

Hanya Allah semata yang bisa menilai kezuhudan seseorang. Apa yang tampak dari luar, tidak bisa kita justifikasi seseorang zuhud atau tidak. Namun, satu yang pasti, hakikat zuhud tidaklah dengan menolak harta duniawi, apalagi meninggalkan keluarga dan berbagai hal yang bermanfaat untuk menambah ketaatan kepada Allah.

Orang yang hartanya berlimpah, bukan berarti ia tidak zuhud. Kekayaan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam tak terhitung jumlahnya, tetapi beliau adalah orang zuhud.

“Kami anugerahkan anak kepada Daud yang namanya Sulaiman. Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia awwab (orang suka kembali kepada Allah).” (QS. Shad: 30)

Tips Zuhud

Setelah memahami pengertian dan hakikat zuhud, lalu bagaimana tips agar kita bisa zuhud?

Saya teringat nasihat Hasan al-Bashri rahimahullah tentang hal ini. Beliau mengatakan bahwa tips zuhud itu meliputi:

1. Aku yakin bahwa rizkiku tidak akan diambil orang lain, sehingga hatiku tenang dalam mencarinya.

2. Aku yakin bahwa amalku tidak akan diwakilkan kepada orang lain, sehingga aku sendiri yang sibuk menjalankannya.

3. Aku yakin bahwa Allah selalu mengawasi diriku, hingga aku malu melakukan maksiat.

4. Aku yakin bahwa kematian menantiku. Sehingga aku siapkan bekal untuk bertemu Allah.

Semoga kita menjadi seorang Muslim yang futuristis dengan gaya hidup minimalis seperti yang telah dicontohkan oleh generasi salafush shalih.

Barakallahu fiikum

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

3 Comments

Leave a Comment