Mengapa Harus Terlihat Sempurna, Bu?

Bismillah

Pernah merasa sedih ketika melihat para ibu profesional terlihat begitu sempurna di media sosial? Setiap saat ibu-ibu tersebut mengunggah ‘keberhasilan’ mereka membuat bento dan berbagai aparatus belajar anak.

Bagaimana dengan saya? Alih-alih rajin membuat bento dan media pembelajaran bagi anak, saya memilih membeli makanan di kawan saya yang memang memiliki usaha catering harian. Adapun media belajar anak … saya memilih membeli seadanya.

Ketika Merasa Tak Berguna

Perasaan gagal biasanya kerap mengganggu pikiran seorang ibu. Wajar karena tuntutan dunia media sosial yang mengharuskan ibu tampak sempurna.

Terlebih, bagi sebagian orang, ibu itu harus kuat dan bisa melakukan apa saja. Akibatnya, ia akan merasa tertekan dan tidak berguna jika realita berbeda dengan ekspektasinya.

Tidak mudah menjadi seorang ibu. Di tengah perjuangannya, ia dituntut begini dan begitu. Mulai dari MPASI yang harus buatan sendiri, tidak boleh memberi susu formula, hingga harus selalu tampil cantik dan menawan.

Baca juga: Persembahan Untukmu, Bu

Belum lagi beberapa ibu yang ‘kejam’ terhadap dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan rumahnya kotor meski hanya setitik. Ia tidak bisa membiarkan makanan berceceran di mana-mana. Ia tidak tidur sebelum pekerjaan rumah selesai. Ia pun berubah layaknya super mom yang perfeksionis.

Ibu Tangguh

Sebagian orang menganggap bahwa ibu tangguh adalah ibu yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Ibu tangguh adalah ibu yang melakukan semua dengan sempurna tanpa cela. Benarkah?

Bagi saya pribadi yang telah berusaha pensiun dari supermom, ibu tangguh adalah ibu yang fleksibel, tidak kaku, tidak perfeksionis, mampu menerima keadaan dirinya yang memang tidak bisa sempurna, dan tidak memaksakan sesuatu yang memang berada di luar kendalinya.

Tidak selamanya ibu tangguh itu harus berjuang sendiri. Adakalanya ia tetap membutuhkan bantuan orang lain. Adakalanya ia harus berani berkata, I need a help”.

Ibu tangguh bukan berarti ia selalu benar dan tanpa cela. Melainkan berani belajar dari kesalahannya.

Ibu tangguh itu bukan ibu yang ‘kejam’ terhadap dirinya sendiri. Melainkan ia yang meluangkan waktu untuk istirahat, merawat, dan menyayangi dirinya sendiri.

Baca juga: Ini Dia 7 Manfaat Me Time

Ibu tangguh adalah mereka yang mampu memaafkan diri sendiri saat mereka terjebak dalam bayang-bayang kesempurnaan ibu lain.

Ibu tangguh tidak harus selalu berhasil dan tampil sempurna di hadapan ibu lain. Adakalanya ia kalah, tetapi tak pernah berhenti melangkah.

Happy Mommy, Happy Kids

Menjadi ibu bahagia memang gampang-gampang susah. Kuncinya hanyalah belajar menerima keadaan. Jika lelah, maka beristirahatlah. Pun tak perlu membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Bu, dunia tidak membutuhkan ibu yang sempurna. Dunia hanya membutuhkan ibu yang bahagia agar bisa membersamai anak; agar tercipta bonding yang kuat hingga tumbuhlah ia menjadi generasi hebat.

Tak perlu membuktikan di hadapan khalayak betapa hebatnya kita. Tak masalah kalau kita menangis, sedih, atau bahkan tertawa. Cukuplah anak-anak kita yang tahu bahwa kita ibu hebat dan kuat bagi mereka.

***

Motherhood is indeed hard as hell. The mother guilt is real. But remember, it has shaped you, so stay happy and drink coffee.

Barakallahu fiikum.

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Indscript Writing “Perempuan Menulis Bahagia”

Photo credit: pixabay

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment