Mendulang Kenangan

Bismillah

Good times become good memories and bad times become good lesson.

Kutipan di atas benar adanya. Saat-saat terbaik akan menjadi kenangan terindah, sedangkan yang buruk akan menjadi pelajaran penuh hikmah.

Setiap kali teringat masa yang telah lalu, sebagian orang akan tergugu. Adapun selebihnya akan tertawa karena merasa lucu.

Siapa yang tak memiliki kenangan? Bahkan mereka yang telah berkalang tanah pun, dahulu hidupnya dipenuhi memori.

Berbicara tentang kenangan … saya memilikinya bersama orang tua, keluarga, sahabat, dan tentu saja dia yang tercinta.

Kenangan masa kecil begitu membekas di hati. Semuanya seperti rentetan film yang diputar ulang di bagian otak yang bernama hippocampus.

Sepertiketika saya sewaktu kecil dahulu menyambut kepulangan Bapak rahimahullah dari kantor. Atau ketika kali pertama belajar mengaji bersama Bapak. Pun ketika membonceng sepeda Ibuk rahimahallah tatkala beliau berangkat kerja sebagai seorang guru PNS.

Kenangan saat piknik bersama Bapak dan Ibuk atau ketika Renita kecil tahu untuk tidak meminta mainan karena keadaan ekonomi yang memaksanya demikian.

Susah payah Bapak dan Ibuk berusaha memenuhi kebutuhan kami sekeluarga. Nerimo ing pandum, begitu yang selalu mereka ajarkan. Mungkin karena itulah, saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak terlalu ngoyo dalam menginginkan sesuatu.

Semua kenangan tersebut memberi pengalaman berharga, betapa terkadang nilai-nilai yang dulu diajarkan Bapak dan Ibu bisa menjadi pijakan untuk mendidik buah hati terkasih.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: Pinterest

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

1 Comments

  1. Aku suka bagian kalimat mbak “pribadi yang tidak terlalu ngoyo dalam meginginkan sesuatu”. Memang di dunia itu kadang ada ambisi yg ingin aku kejar tapi begitu ambisi itu tak tercapai akhirnya aku merenung sendiri dan menjadi tidak ingin ngoyo lagi. Nrimo ing pandum juga seperti tamparan utkku, hehehe.

Leave a Comment