Renita Oktavia

I read to write

November 23, 2018

Khadijah Binti Khuwailid: Teladan Muslimah Sepanjang Masa

 
 
 
Bismillah
Tulisan ini ku persembahkan untuk saudariku…
 
Yang sedang mencari suri tauladan,
 
Yang ingin berpartisipasi menyusun bata demi bata bagi sebuah bangunan bernama peradaban Islam,
 
Ummahat yang tak pernah lelah menyiapkan generasi mukmin terbaik.
Dan untuk mengingatkan diri sendiri….
 
——–
 
Di antara kekurangan yang dimiliki para wanita Muslimah zaman sekarang adalah kurangnya perhatian mereka pada perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sulit bagi mereka mengingat siapa saja istri, putra, dan putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi begitu mudahnya mengingat nama artis dan jalan hidup mereka.
Tapi, alangkah patutnya kita kaum muslimin dan muslimat di zaman ini, di saat keteguhan telah hilang dan hati telah rusak, untuk membicarakan para penghulu kita yang pertama. Mereka yang telah membangun bagi kita warisan kemuliaan. Dengan harapan agar kita dapat mengambil pelajaran dan mengikuti jejak mereka.
Para wanita Muslimah pada permulaan Islam tidak kalah teguhnya saat memperjuangkan dien-nya daripada laki-laki. Mereka korbankan segala yang mereka miliki untuk Islam, serta menganggap enteng segala musibah yang menimpa mereka baik berupa kesewenang-wenangan, intimidasi, bahkan syahid dalam mempertahankan aqidahnya.
Kali ini saya akan mengajak kalian menyusuri Sirah Nabawiyah seri Shahabiyat
KHADIJAH BINTI KHUWAILID
Putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushal bin Kilab al-Qursyiyah al-Asadiyah.
Beliau mendapat julukan ath-Thahirah yang berarti suci atau bersih. Pada awalnya, beliau dinikahi oleh Abi Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua anak bernama Halah dan Hindun. Lalu Abu Halah meninggal dan beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Mahzumi. Namun, akhirnya keduanya bercerai.
Khadijah binti Khuwailid memiliki paras dan akhlaq yang rupawan, sampai-sampai banyak dari pemuka Quraisy yang menginginkan beliau. Namun, semuanya beliau tolak dengan halus. Beliau lebih memprioritaskan diri untuk mendidik putra putrinya, juga mengurusi perniagaan.
Perjumpaannya dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimulai ketika beliau meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya. Allah menjadikan perdagangan tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah pun merasa sangat gembira. Ketakjubannya kepada kepribadian Muhammad pun semakin besar hingga tumbuh perasaan aneh dalam dirinya.
Sahabat Khadijah, Nafisah binti Munabbih, menangkap adanya rasa cinta Khadijah kepada Muhammad. Ia pun mengutarakan hal ini kepada Muhammad. Muhammad pun setuju untuk menikahi Khadijah yang berusia 40 tahun.
Mereka pun menikah dengan dihadiri Halimah Sa’diyah, wanita yang telah menyusui Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Khadijah memberinya hadiah 40 ekor kambing untuk ibu yang telah menyusui suaminya tercinta.
Allah memberikan karunia terhadap rumah tangga tersebut dengan nikmat dan kebahagiaan yang melimpah. Allah Ta’ala mengaruniakan kepada mereka putra putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum, dan Fathimah. Namun Allah menakdirkan putra-putra Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal ketika masih kanak-kanak.
Allah menjadikan Muhammad orang yang suka berkhalwat (menyendiri). Khadijah, istri tercinta, tidak pernah merasa keberatan tatkala harus berpisah jauh dari suami, ia tak pernah mengusir kegalauannya dengan berbagai pertanyaan. Ia justru membantu suaminya dengan menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus ia kerjakan di rumah.
Sampai pada suatu saat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang dari gua Hira’ setelah menerima wahyu dari Jibril ‘Alaihis Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang dalam keadaan takut, khawatir, dan menggigil seraya berkata, “Selimuti aku…selimuti aku….” Khadijah pun bertanya mengenai peristiwa yang dialami suaminya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menjawab:
 
“Wahai Khadijah, sesungguhnya aku mengkhawatirkan diriku.”
Apa yang kemudian dilakukan Khadijah? Ia istri yang cerdas dan lemah lembut, ia pun menenangkan suaminya dengan penuh percaya diri seraya berkata, “Wahai suamiku, Allah akan menjaga kita, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh aku berharap agar Anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya Anda telah menyambung silaturahmi, jujur dalam berkata, menyantuni anak yatim, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.”
Khadijah lalu membawa suaminya pergi menemui putra pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal. Ia mengatakan bahwa Muhammad adalah Nabi bagi umatnya dan orang-orang yang mengingkarinya akan mengusir, menyakiti, dan mengintimidasi Beliau.
Perjalanan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun dimulai. Di saat banyak orang mendustakan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Khadijah lah orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.
Khadijah selalu mendampingi, menguatkan, dan menolong suaminya dalam menghadapi kerasnya gangguan. Setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa sedih atas penolakan dan pendustaan yang Beliau terima, Khadijah lah yang menghibur, melapangkan hati Beliau, meneguhkan pendiriannya, membenarkannya, dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada Beliau.
Khadijah adalah seorang mujahidah. Beliau bersabar atas segala ujian dan musibah. Semakin bertambah berat ujiannya, semakin bertambah pulalah kesabaran dan kekuatan beliau. Beliau meninggalkan kampung halaman bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin selama tiga tahun demi menempa kesabaran.
Sampai akhirnya sayyidah mujahidah tersebut wafat pada bulan Ramadhan tahun 10 kenabian dalam usia 65 tahun sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu berusia 50 tahun. Dan ujian yang menimpa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun semakin meningkat seiring meninggalnya sang istri tercinta.
Sosok Khadijah merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selama seperempat abad hidup bersamanya, dia senantiasa mendampingi Beliau dalam rintangan jihad yang amat pahit dan selalu membela Beliau baik dengan jiwa maupun hartanya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu mengenang hal itu. Beliau sering bertutur, “Dia telah beriman kepadaku saat manusia kufur (ingkar) kepadaku, dia membenarkanku di saat manusia mendustakan, dia berikan kepadaku hartanya di saat manusia tidak mau memberikannya kepadaku, Allah mengaruniaiku anak darinya sementara Dia tidak menganugerahkannya dari istri yang lain.” (HR. Ahmad).
Dialah wanita yang mendapat salam dari Rabb-nya dan Jibril. Allah bahkan telah menyiapkan rumah bagi beliau di surga dimana tidak ada rasa letih, kesedihan, dan hiruk pikuk (Shahih Bukhari dan Muslim).
Ibrah/ pelajaran apa yang bisa kita ambil dari salah satu ummahatul mukminin tersebut?
 
1. Seorang wanita diperbolehkan menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh laki-laki yang shalih dan baik akhlaqnya, baik secara langsung maupun melalui perantara kerabat/ temannya,
 
2. Bahwa seorang istri hendaknya senantiasa mendukung suami untuk berdakwah dan tidak menyakiti suaminya,
 
3. Seorang istri hendaknya menjaga harta dan kehormatan suami.
Semoga Allah Ta’ala memberikan balasan yang paling baik karena jasa beliau terhadap Islam dan kaum Muslimin. Aamiin Allahumma Aamiin.
 
Referensi:
 
1. Mereka Adalah Para Shahabiyat oleh Mahmud Mahdi al-Istanbuli,
 
2. Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung Muhammad oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.
Barakallahu fiik
 
 
🌱🌿🌱🌿
SHARE:
Sirah Nabawiyyah 14 Replies to “Khadijah Binti Khuwailid: Teladan Muslimah Sepanjang Masa”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

14 thoughts on “Khadijah Binti Khuwailid: Teladan Muslimah Sepanjang Masa

    Author’s gravatar

    Thank you sister for in cooperating my request.
    The page can now be translated to English.

    With love From PB
    Nigeria

    Author’s gravatar

    Heyyy Polar Bear, nice to find you here lil bro.

    I do hopr one day I can write an article in English.

    Author’s gravatar

    Masya Allah..Terima kasih sudah membagikan kisah ini lagi Mbak. Sungguh banyak yaa yang bisa kita teladani dari Umahtul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Semoga bisa menjadi panduan kita untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi 🙂

    Author’s gravatar

    Masya Allah, bergetar rasanya. Bermanfaat banget mbak untuk mengecas kembali hati saya yang sedang merasa sedikit down dalam rumah tangga… trims mbak

      Author’s gravatar

      Sama-sama mbak 😘😘

      Ups and downs pasti terjadi dalam rumah tangga, semangat! 💪💪😘💗💗

    Author’s gravatar

    MasyaAllah, Khadijah adalah contoh tauladan bagi perempuan muslim. Seorang pengusaha yang sukses dan kaya raya namun di dalam rumah senantiasa hormat kepada Rasulullah SAW, suaminya.

    Tokoh-tokoh seperti inilah yang semestinya kisahnya senantiasa kita baca untuk sebagai pengingat untuk diri sendiri. Sayang sekali, saya nggak selalu bisa hadir di dalam kajian di kota kami karena bekerja. Padahal materinya MasyaAllah menambah wawasan kita dan InsyaAllah keimanan kita. Terima kasih sudah menuliskan kisah ini ya, Mbak.

      Author’s gravatar

      Sama-sama mbak 😘😘

      Betul sekali, membaca kisah para generasi terbaik Islam itu seperti memberi suntikan semangat

    Author’s gravatar

    Membaca tulisan Mbak bagaikan mendapat insight lagi dan lagi. Banyak hal yang kupikirkan atas peranku sebagai istri. Hiks. Ah, kangen sama suami.

      Author’s gravatar

      Peluuuuukkkk 😘😘😘
      Ini pun nulisnya sambil sesekali matanya berembun, betapa kadang diri ini merasa kurang

    Author’s gravatar

    Sebenarnya panduan menjadi istri shalihah bisa langsung berkaca pada istri-istri nabi saja ya, tapi aku sering lpa dan malah mencari figur yang lain. Astaghfirulloh. Semoga kita semua para perempuan bisa meneladani kemuliaan Ibu KHadijah

    Author’s gravatar

    Aku membaca ini pelan-pelan sekali, sambil meresapi. kebetulan waktu IBF kemarin habis membeli buku tentang keluarga nabi. Aku sendiri sangat tertarik dan takjib dengan profil Bunda Khadijah, semoga kita dapat masuk ke syurga yang sama dengannya ya mbak

      Author’s gravatar

      Maaf mbak cantik, itu tulisannya jadi amburadul karena habis pindah rumah dari BP 🙏🙏 maapkeun atas ketidaknyamanannya dalam membaca.

      Aamiin Allahumma Aamiin.
      Saya juga mengagumi sosok beliau, membaca lalu menuliskannya di sini bikin baper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *