Kenikmatan yang Melenakan

Bismillah

Kata siapa dunia ini tidak melenakan. Nyatanya ada banyak orang yang terlena kala diberi kenikmatan.

Tak sedikit yang jatuh dalam jurang kemaksiatan saat berada di puncak. Namun, tak jarang pula yang tetap bersyukur hingga tak sampai tersungkur.

Hakikat dunia yang penuh ujian

Hidup ini penuh ujian. Ya, kalau nggak pengin ribet dengan segala ujian dunia, berhenti menjalani kehidupan saja.

Toh, saat mati, belum tentu juga kita akan terbebas dari segalanya. Justru yang ada hanyalah penyesalan karena lalai kala di dunia.

Satu kesalahan besar yang selama ini diyakini sebagian orang adalah ujian dan cobaan hanya terbatas pada kesempitan dunia. Segala sesuatu yang tidak menyenangkan dianggap sebagai ujian.

Benarkah demikian? Tidakkah kita memperhatikan ayat berikut ini?

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Dalam tafsir Al-Muyassar, Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna ayat tersebut adalah Kami akan menguji kalian dengan kesengsaraan dan kesejahteraan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, haram dan halal, ketaatan dan kemaksiatan, serta hidayah dan kesesatan. Yakni agar Kami melihat bagaimana rasa syukur dan sabar kalian. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. Kemudian Kami akan membalas kalian atas amal perbuatan kalian.

Ringkasnya begini.

Kehidupan kita sudah diatur oleh Allah Ta’ala. Allah ingin melihat kesungguhan kita dalam beramal. Untuk itulah, Allah menguji kita dengan berbagai hal, termasuk kelapangan dan kesempitan.

Ya kali kita akan dibiarkan begitu saja mengaku beriman tanpa ujian. Kita mengaku cinta Allah, tetapi tidak diuji sama sekali? Enak banget!

Melalui ujian kenikmatan dan kesempitan itulah, Allah akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang tidak, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.

Menyikapi ujian

Ada sebagian orang yang mengeluh dan berputus asa tatkala ditimpa kemalangan. Dia pun terus meratapi nasib.

Di sisi lain, ada pula orang yang diberi kenikmatan dan kesenangan hidup berlimpah, tetapi ia justru lalai dalam beribadah kepada Allah. Rasa sombong memenuhi dadanya.

Bahkan, ada juga nih, ujian berupa kenikmatan dunia tersebut yang justru membuat seorang hamba merasa semua itu akan kekal abadi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara seorang muslim menyikapi ujian?

Satu hal yang perlu kita yakini, yaitu bahwa setiap ujian dan cobaan yang menimpa kita, pasti ada kebaikan di dalamnya.

Mungkin kebaikannya belum tampak saat ini. Namun, percayalah, suatu saat kita akan menyadarinya.

Pun demikian saat kita diberi kenikmatan hidup. Kemudahan dan kesenangan bisa kita dapatkan dengan mudah. Jika kita bersyukur, Allah Ta’ala akan menambah nikmat tersebut. Sebaliknya, jika kita kufur nikmat dan menggunakannya untuk bermaksiat, nikmat tersebut akan tercabut.

Mensyukuri nikmat itu tidak hanya sekadar ucapan di lisan semata, tetapi juga lewat hati dan perbuatan. Maksudnya, tanamkan dalam hati bahwa semua nikmat adalah pemberian Allah Ta’ala. Lalu, memuji Allah untuk setiap pemberian. Terakhir, memanfaatkan nikmat tersebut untuk beramal saleh.

Kenikmatan dunia bukanlah ujian yang ringan

Tahu nggak? Kalau kita diberi ujian berupa kesempitan dan kemelaratan, kita mungkin bisa bersabar. Namun, saat semua kenikmatan dan kesenangan hidup diberikan pada kita, sanggupkah kita berada dalam track yang lurus dan benar?

Rasulullah Shallallahu ”Alaihi wa Sallam bersabda:

“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hari ini, kita telah berada pada masa yang sangat jauh dari kenabian. Tentunya kita bisa melihat bagaimana orang-orang berlomba mendapatkan dunia.

Mereka tak lagi peduli bagaimana cara mendapatkannya. Ambisi dunia telah menyita seluruh waktu, tenaga, dan pikiran. Segala kemampuan ia curahkan hanya demi menyandang gelar sebagai orang paling kaya.

Sayangnya, ia lupa beramal untuk akhiratnya. Ia lupa mendatangi majelis ilmu untuk belajar agama. Ia hanya sibuk dengan harta dan tak punya waktu sedikit pun untuk kehidupan yang lebih kekal.

Macam-macam kenikmatan yang melenakan

Sebenarnya ada banyak kenikmatan yang melenakan, seperti hal-hal di bawah ini:
1. Keuangan yang stabil, bahkan berlebih kadang membuat kita lupa melihat ke bawah dan mensyukurinya, lalu tanpa sadar memamerkannya sehingga menimbulkan hasad. Tak jarang, kita pun mengolok-olok mereka yang tidak mau bekerja keras.

2. Anak-anak yang sehat, cerdas, dan membanggakan terkadang membuat kita berlebihan menganggap diri ini sebagai ibu paling sempurna, lalu merendahkan ibu lain.

3. Memiliki orang tua dan mertua yang pengasih terkadang membuat kita merasa sempurna hingga mencela mereka yang qadarullah diuji lewat orang tua dan mertua dengan sebutan anak durhaka, tidak tahu diri, dan sebagainya.

4. Memiliki pasangan yang setia dan tidak neko-neko terkadang membuat kita terlena untuk memperbaiki akhlak, hingga begitu mudah kita mencela pasangan lain yang bermasalah.

5. Kehamilan, proses melahirkan, dan menyusui yang mudah terkadang membuat kita terlalu cepat menghakimi orang lain yang qadarullah belum bisa hamil dan bermasalah.

6. Kemudahan dalam beribadah, sedekah milyaran, salat yang tak pernah putus, umrah dan haji berkali-kali terkadang membuat kita merasa paling bertakwa, hingga lupa duduk si majelis ilmu dan bergaul dengan pendosa.

7. Memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi terkadang membuat kita enggan belajar lagi, lalu meremehkan orang yang berada di bawah kita.

Setiap nikmat akan ditanyakan

Jangan sampai kita mengira bahwa semua kenikmatan yang kita peroleh hari ini, tidak akan ditanyakan. Big NO.

Nikmat itu bukan pemberian cuma-cuma. Ada harga dan tanggung jawab yang harus kita bayar kelak pada Hari Kiamat.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)

Kemudahan memang melenakan. Tak jarang kita pun memamerkannya, hingga menimbulkan penyakit hati pada saudara kita sendiri. Untuk itu, bijaklah menyikapi setiap kemudahan dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah Ta’ala.

Semoga kita termasuk orang-orang ynag senantiasa bersyukur saat mendapat nikmat, bersabar saat menghadapi musibah, dan beramal saleh. Aamiinallahumma aamiin.

Barakallahu fiikum.
Photo credit: Pinterest

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment