Golput

4 Alasan Kenapa Pemilih Tidak Menggunakan Hak Pilihnya atau Golput

Apa itu golput? Golput atau golongan putih merupakan istilah yang seringkali muncul ketika pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah akan diselenggarakan. Golput selalu diidentikkan dengan sikap apatis, cuek, dan tidak peduli dengan kondisi politik. Berakibat seseorang tidak akan memberikan hak suaranya dengan tidak hadir di TPS pada hari pemungutan suara. 

Istilah golput telah muncul sejak Pemilu 1971. Dimana ada sekelompok mahasiswa, pelajar, dan pemuda memenuhi Balai Budaja Djakarta pada hari kamis 3 Juni 1971, sebulan sebelum hari pemungutan suara pada pemilu pertama di Era Orde Baru. Kelompok ini memproklamirkan berdirinya “Golongan Putih” sebagai suatu gerakan moral. Arief Budiman selaku salah seorang eksponen golput menyuarakan bahwa, dengan adanya gerakan ini tidak untuk mencapai kemenangan politik, melainkan untuk melahirkan tradisi di mana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apapun. 

Menurut situs aclc.kpk.go.id, angka golput pada pemilu 2019 merupakan angka terendah dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, sejak pemilihan secara langsung diselenggarakan pada tahun 2004. Menurut Badan Statistik tercatat, jumlah masyarakat yang memilih untuk golput pada 2019 sebanyak 34,7 juta atau sekitar 18,02 persen dari total pemilih yang terdaftar. Sementara untuk pemilu 2014, jumlah golput sebanyak 58, 61 juta orang atau setara dengan 30,22 persen. 

Pada pemilu 2024 mendatang, daftar pemilih didominasi oleh pemilih muda. Sesuai dengan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), tercatat 56,4 persen pemilih muda yang akan mengikuti pemilu 2024, artinya jumlah tersebut telah melebihi setengah dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Penyebab Golput

Melihat tren golput yang menurun dari tahun ke tahun, namun tidak menutup kemungkinan untuk pemilu 2024 ini trennya akan lebih menurun atau justru meningkat. Ada beberapa penyebab kenapa seseorang memilih untuk golput atau tidak memberikan suara pada saat hari pemungutan suara. Berikut ini adalah beberapa alasan penyebab golput:

  • Faktor Ketidakpercayaan dan Sikap Apatis dengan Politik Indonesia

Sikap apatis dapat diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang tidak peduli dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya hingga meliputi lingkup yang lebih luas. Sedangkan sikap apatis terhadap politik adalah suatu sikap tidak peduli terhadap situasi politik di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu penyebab tingginya angka golput di Indonesia. Sikap ketidakpedulian dan rasa tidak percaya dari masyarakat akan kondisi politik Indonesia, muncul karena masyarakat merasa tidak mendapatkan dampak positif yang terjadi setelah pemilu. Sementara itu, aksi korupsi masih saja terjadi yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Hal tersebut yang semakin meningkatkan sikap apatis terhadap pejabat dan politik.

  • Faktor Pekerjaan atau dalam Kondisi Tidak Sehat

Selain karena sikap apatis diatas, ada faktor lainnya yang membuat masyarakat tidak bisa menggunakan hak suaranya. Yaitu, seseorang yang sedang melakukan perjalanan dinas atau pekerjaan sehingga ia tidak berada di tempat domisili dimana namanya terdaftar sebagai DPT, atau juga seseorang yang sedang sakit sehingga tidak bisa mendatangi TPS. Faktor ini juga memiliki kontribusi terhadap jumlah orang yang tidak memilih saat pemilu. Namun, untuk kasus seperti faktor pekerjaan, Anda bisa mengajukan pindah memilih sesuai dengan tempat Anda bekerja saat pemilu berlangsung.

  • Faktor Kurangnya Sosialisasi

Kurangnya sosialisasi mengenai pemilu juga bisa menjadi faktor penyebab kenapa pemilih tidak memilih saat pemilu. Meskipun era digital seperti saat ini yang memungkinkan informasi tersebar lebih mudah dan meluas, namun hal tersebut tidak bisa menjadi jaminan seluruh masyarakat bisa mendapatkan informasi tersebut. Contohnya seperti para orang tua lansia, yang tidak terbiasa dengan gawai, mereka pasti menjadi salah satu orang yang kurang mendapatkan informasi mengenai pemilu, seperti kapan tanggal pasti diadakan pemilu dan tata cara selama pemilu.

Pemerintah mengharapkan partisipasi dari masyarakat untuk memberikan hak suaranya pada pemilu 2024. Agar dapat meluruhkan sikap apatis sebagian masyarakat, pilihlah pemimpin yang memiliki karakter yang baik, berintegritas dan antikorupsi. Sehingga kehidupan berpolitik di Indonesia menjadi lebih ideal dan sehat.

Untuk mengetahui informasi lengkap mengenai golput dan artikel anti korupsi, silakan kunjungi situs https://aclc.kpk.go.id/

About admin

Check Also

ASUS Vivobook S 15 Bape

ASUS Vivobook S 15 Bape: Hadir Sebagai Pelengkap Gaya Hidup Mobile

Saat ini mobilitas semua orang semakin meningkat, apalagi dengan berbagai kemudahan yang ada, seperti jenis …