kebijakan pendidikan kala pandemi corona

Menyikapi Kebijakan Pendidikan Kala Pandemi Corona

Pandemi Covid-19 memang belum usai. Di berbagai belahan bumi lainnya, virus ini masih menggurita meski di beberapa negara tertentu, seperti New Zealand, Covid-19 tak berkutik di tangan Perdana Menteri Jacinda Kate Laurell Ardern.

Tak ayal, negara yang (untuk sementara) aman dari Covid-19 pun mulai ‘membuka diri’, seperti yang pernah saya baca di akun Facebook Mbak Savitri Icha Khairunnisa bahwa Norwegia mulai membuka sekolah. Keputusan ini pun disambut gembira, termasuk diri saya. Yah, meski saya tidak tinggal di Norwegia, rasanya senang mendengar berita bahagia tersebut.

Different pond, different fish. Kalau di Norwegia, kabar dibukanya sekolah setelah Corona mereda, disambut gembira, di sini justru terjadi pro kontra. Sebagian orang tua setuju ‘mengirim’ anaknya kembali ke sekolah dengan alasan sang anak (dan orang tua) bosan jika berada di rumah saja, sedangkan sebagian lainnya menolak karena melihat buah hati berhadapan dengan Corona saja sudah cukup menyayat jiwa.

Petisi menunda tahun ajaran baru

Masalah anak memang tidak main-main. Untuk anak kok coba-coba, kira-kira demikian. Petisi menunda tahun ajaran baru pun digulirkan. Boom! banyak orang menandatangani petisi ini. Rupanya tak sedikit orang tua yang khawatir jika anak kembali bersekolah. Wajar sih, grafik kasus Covid-19 kian hari kian naik, bahkan puncaknya saja belum terlihat. Orang tua mana yang rela anaknya berada dalam ‘medan pertempuran’ bersama si Corona?

Bayangkan, kasus Corona di Indonesia menempati urutan pertama di Asia Tenggara. Wow, pencapaian yang luarrrr biasa, kan? Alasan itulah yang mendasari petisi menunda tahun ajaran baru menyeruak di tengah-tengah masyarakat.

Akhirnya, kita menempati posisi nomor satu. Bravo!

Tak hanya itu, IDAI pun menyarankan agar kegiatan pendidikan anak usia sekolah dan remaja tetap dilakukan melalui belajar dari rumah. Pembelajaran jarak jauh menjadi salah satu kunci mencegah penyebaran virus Corona, apalagi anak-anak termasuk kelompok usia yang paling rentan.

Keputusan terbaru terkait kebijakan pendidikan

Gayung bersambut, pemerintah seolah membaca kegelisahan para orang tua, hingga akhirnya pada tanggal 15 Juni 2020, Mendikbud Nadiem Makarim menggelar konferensi pers virtual.

Apa isinya?

Bapak menteri mengeluarkan keputusan kebijakan pendidikan yang menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka pada tahun ajaran baru 2020/ 2021 hanya akan dibuka di wilayah berstatus zona hijau atau aman dari penyebaran Covid-19.

Sounds cool? Hang on.

Selain membuka KBM tatap muka di wilayah zona hijau, ada tambahan keputusan bagi sekolah yang akan mengadakan KBM, yaitu:

  • Harus seizin pemerintah daerah dan komite nasional,
  • Jika orang tua tidak setuju anaknya kembali bersekolah, siswa berhak untuk tetap belajar di rumah.

Saya membaca inkonsistensi dalam hal ini. Ada perasaan galau di sana. Terus terang saja, keputusan seperti ini jelas membingungkan. Kalau kata orang Jawa, nek iyo, iyo, nek ora, oranek bukak yo bukak, nek tutup yo tutup, ojo mbukak sing kudune ditutup. Intinya adalah, harus ada keputusan yang jelas, bukan keputusan gegana (baca: gelisah galau trus akhirnya bikin merana).

Bukankah akan lebih enak kalau dikatakan, “Fix. Sekolah ditutup selama pandemi.” Selesai perkara. Namun, jika keputusan enggak jelas, orang tua, guru, dan siswa juga bingung keleusss.

Solusi yang ditawarkan pemerintah, menurut saya, bukanlah sesuatu yang efektif. Tidak jelas mau dibawa ke mana hubungan kita. Kurikulum darurat dan segala pernak-pernik terkait protokol kesehatan juga belum disiapkan dengan baik.

Lagipula, siswa yang berada dalam zona hijau pun belum tentu bebas Corona, kan? Coba, siapa yang bisa menjamin?

Pusat pendidikan adalah keluarga

Sebagai seorang guru dan orang tua, sungguh saya sangat menyayangkan sikap dan kebijakan yang diambil pemerintah. Tidak ada strategi yang jelas dan akurat dalam menghadapi pandemi. Semua terkesan gagap, galau malau, hingga akhirnya meracau.

Pemerintah menyediakan kanal pembelajaran di stasiun TV nasional, lalu menganggap semua itu sudah cukup. Sekarang, kebijakan pendidikan pun seolah diambil secara serampangan. Tidak ada jaminan anak-anak yang kembali bersekolah akan aman. Nyawa satu orang anak dibuat mainan.

Anak-anak itu cukup bersekolah di rumah saja selama pandemi. Orang tua menyiapkan pembelajaran yang ringan, seperti mengasah life skill. Mengajarkan anak bercocok tanam demi ketahanan pangan pun tidak ada salahnya. Belajar tidak melulu berkutat dengan buku atau ruang kotak.

Kalau menuruti rasa bosan, semua orang juga merasakan hal yang sama. Bagaimana mengatasinya? Sesekali mengganti model pembelajaran di rumah.

Jika saja mau berpikir jernih, sebenarnya pusat pendidikan adalah keluarga. Dari keluarga-lah, seorang anak belajar memahami dunianya. Fitrah sang anak terbentuk sempurna di dalam keluarga.

Tantangannya adalah bagaimana memaksimalkan fungsi keluarga, yakni fungsi reproduksi, ekonomi, edukasi, sosial, protektif, rekreatif, afektif, dan religius.

Adapun tugas negara, memastikan bahwa ketahanan keluarga terjaga, sehingga mampu menghasilkan generasi berkualitas. Negara juga berperan mengatur serangkaian kebijakan yang tentu saja tidak bertentangan dengan hukum syariat. Negara memastikan tiap warga terjamin segala kebutuhannya.

Saya rasa setiap keluarga akan merasa tenang mendidik anak-anak tatkala kebutuhan dasar mereka terpenuhi.

Saat pilar keluarga sebagai madrasah bagi anak berdiri kuat dan negara menjamin kebutuhan pokok keluarga, seperti kesehatan, keamanan, dan keberlangsungan hidup maka Insya Allah bangsa ini akan mampu menghadapi semua badai.

Keluarga itu sebagai tonggak peradaban. Salah sedikit saja, rusak semuanya. Terlebih suasana pandemi dan ketidakpastian yang terus menghampiri.

Semoga Allah Ta’ala membukakan hati para pemimpin negeri ini bahwa tanggung jawab mereka teramat tinggi sehingga setiap kebijakan yang diambil seharusnya untuk kepentingan rakyat. Aamiin allahumma aamiin.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: English Learn Online

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

5 Comments

  1. semoga semua lekas membaik 🙂
    sepertinya pandemi ini memang membuat kacau semuanya.

    Dan kembali lagi, tempat aman dan terbaik adalah keluarga. Ketika kebijakan untuk di rumah aja menjadi yg terbaik, semua kegiatan di rumah aja harusnya bisa lebih optimal ya kalau seluruh anggota keluarga saling mendukung. Ya semoga memang keadaannya demikian di setiap keluarga.

Leave a Comment