Orang Kaya Berarti Disayang Tuhannya?

Bismillah

Kalau kita diminta memilih antara menjadi kaya atau miskin, mana yang akan kita pilih?

Yep, semua orang lebih memilih menjadi kaya. Wajar saja karena memang tidak ada yang menginginkan kemiskinan.

Memiliki kekayaan berlimpah, tentu sangat menyenangkan. Dunia serasa dalam genggaman. Apa pun yang kita inginkan bisa terwujud dalam sekejap mata.

Sebaliknya, bergelimang dalam kemiskinan, tentu menyedihkan. Tidak ada yang menginginkannya.

Kaya dan miskin sesuai dengan kadarnya

Apa jadinya jika dunia ini hanya berisi orang-orang kaya? Atau bagaimana jika orang miskin saja yang menjadi penduduk dunia. Tentu tidak seimbang, kan?

Kaya dan miskin memang sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala. Semua sudah ada kadarnya kok. Tidak ada yang mulia, apalagi hina.

Namun, sebagian orang menganggap bahwa orang kaya berarti Allah sayang kepadanya. Sebaliknya, ketika sedang dalam kemiskinan, mereka menganggap Allah menghinakannya.

Pernah berpikir demikian? Atau mungkin pernah beranggapan, “Mengapa Allah memberi kekayaan berlimpah kepada orang-orang kafir? Mengapa justru orang Islam, yang beriman kepada Allah, hidupnya melarat?”

“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan dan diberi kesenangan oleh-Nya maka dia akan berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali, tidak (demikian)! ….”

(QS. Al-Fajr: 15–17)

Ketahuilah bahwa dalam pandangan orang-orang kafir, banyak sedikitnya hartalah yang menentukan kemuliaan hidup seseorang.

Bagi mereka, makin banyak harta yang dimiliki, makin mulia kehidupannya.

Kekayaan bukanlah pertanda kemuliaan

Dalam QS. Al-Fajr ayat 15 – 17 menegaskan bahwa Allah Ta’ala menguji hamba-Nya dengan memberikan kenikmatan dan kelapangan rezeki. Tak hanya itu, Allah juga menguji dengan kesempitan.

Kelapangan dan kesempitan rezeki merupakan ujian yang ditimpakan bagi manusia.

Seseorang hanya akan mencapai derajat mulia tatkala ia mampu menggunakan hartanya di jalan Allah.

Allah juga menyanggah bahwa terbukanya pintu rezeki seorang hamba berarti Allah memuliakannya dan sempitnya rezeki berarti Allah menghinanya. Bukan. Bukan demikian!

Terkadang, Allah menyiksa hamba-Nya dengan nikmat dan memberikan nikmat dengan segala cobaan.

Bagaimana bisa?

Lihatlah orang yang bergelimang harta, tetapi hidupnya sama sekali tak bahagia. Jiwanya terasa hampa meski dunia dan seisinya telah ia genggam.

Kegelisahan menyelimuti hatinya hingga perlahan ia bermaksiat kepada Rabb-nya. Dia pun tak merasa bersalah, apalagi berdosa. Itulah siksaan yang Allah berikan.

Adapun mereka yang kekurangan harta, terkadang hatinya sungguh sangat lapang. Ia sama sekali tak khawatir dunia terlepas dari genggaman karena memang ia rida dengan keadaan yang demikian.

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya)’, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

(QS. Saba: 36)

Dari sini terlihat, Allah Ta’ala memberi kekayaan pada mereka yang dicintai dan yang tidka dicintai-Nya. Allah juga memberi kesempitan pada siapa pun yang Dia kehendaki.

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa landasan masalah ini adalah bagaimana seorang hamba berada dalam ketaatan ketika ada dalam kondisi lapang dan sempit. Jika berlimpah harta, hendaknya ia bersyukur. Pun jika kekurangan harta, ia bersabar.

Pentingnya introspeksi diri

Harta tak selalu memberi kebahagiaan bagi pemiliknya. Ada kalanya, harta membawa kehancuran jika tidak digunakan di jalan yang semestinya.

Untuk itulah, sebagai seorang Muslim, hendaknya senantiasa bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan berupa harta. Betapa semua yang ia dapatkan semata-mata karena kemurahan dan kasih sayang Allah kepadanya.

Namun, ketika hidupnya terasa sempit, hendaknya bersabar sambil terus mengharap pahala dari Allah Ta’ala. Selain itu, hendaknya seorang hamba mengintrospeksi diri sendiri bahwa semua kejadian yang menimpanya disebabkan oleh dosa-dosa yang telah diperbuat.

Ajukan pertanyaan dalam hati, seperti, “Mengapa Allah memberiku semua harta ini? Pasti Allah menginginkan agar aku bersyukur kepada-Nya.” Atau pertanyaan seperti, “Mengapa Allah mengujiku dengan semua kesempitan ini? Ah, Allah pasti menginginkan agar aku bersabar karena Dia sangat menyayangiku.”

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, Insya Allah kita tidak akan berburuk sangka kepada-Nya.

Kekayaan dan kemiskinan merupakan ujian agar manusia bersyukur dan bersabar. Jika kita bisa melakukannya, pahala besar siap menanti di depan mata.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

(QS. Al-Anfal: 28)

Ingatlah, Wahai diriku sendiri … Rabb-mu tidak hanya mengujimu dengan musibah dan hal-hal.yang yang tidak menyenangkan, tetapi Dia juga mengujimu dengan kenikmatan dan harta yang berlimpah.

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang kufur nikmat dan cinta dunia. Aamiin allahumma aamiin.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: gosulsel.com

#inspirasiramadan

#dirumahaja

#flpsurabaya

#BERSEMADI_HARIKE-17

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

2 Comments

Leave a Comment