junub saat puasa

Udah Waktu Subuh, Tetapi Masih Junub? Puasanya Batal Nggak, ya?

Bismillah

Disclaimer: tulisan ini HANYA ditujukan bagi mereka yang telah menikah. Penulis tidak bertanggung jawab untuk hal-hal di luar kuasa.

🌼🌼🌼

Ada yang sudah tahu bagaimana jika seseorang dalam keadaan junub, tetapi belum mandi junub saat masuk waktu subuh?

Mandi junub biasanya dilakukan setelah jima’ atau berhubungan badan. Hukumnya, tentu saja, wajib, ya.

Masalahnya adalah bagaimana jika sudah memasuki waktu subuh, tetapi belum mandi junub. Apakah puasanya akan batal?

Setiap kali Ramadan menyapa, pertanyaan tersebut selalu terselip karena tidak semua orang mengetahuinya.

Namun, sebelum membahasnya lebih lanjut, kita harus tahu bagaimana jima’ yang bisa membatalkan puasa.

7 Pembatal puasa

Ada tujuh hal yang menjadi pembatal puasa, yaitu:

1. Jima’ (bersetubuh) pada siang hari,

2. Haidh dan nifas,

3. Keluarnya mani dengan sengaja,

4. Berniat membatalkan puasa,

5. Makan dan minum dengan sengaja,

6. Muntah dengan sengaja,

7. Murtad.

Jima’ atau berhubungan badan secara sengaja dengan istri yang dilakukan pada siang hari merupakan salah satu pembatal puasa. Tak hanya itu, sengaja bersenggama pada siang hari di bulan Ramadan juga termasuk dosa besar.

Kafarat pembatal puasa pada poin pertama adalah dengan membebaskan budak. Jika tidak bisa, berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Jika tak mampu, memberi makan 60 orang miskin. Namun, jika semua itu tidak mampu dilakukan, seseorang tersebut tidak dikenakan kewajiban apa pun.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “Wahai, Rasulullah, celaka !” Beliau menjawab,”Ada apa denganmu?” Dia berkata,”Aku berhubungan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.” (Dalam riwayat lain berbunyi : aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab,”Tidak!” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab,”Ttidak.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi : “Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Rasulullah diam sebentar. Dalam keadaan seperti ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi satu ‘irq berisi kurma –Al irq adalah alat takaran- (maka) Beliau berkata: “Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab,”Saya orangnya.” Beliau berkata lagi: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!” Kemudian orang tersebut berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: “Berilah makan keluargamu!”

Jima’ pada bulan Ramadan

Meski bulan Ramadan, bukan berarti aktivitas jima’ dihentikan, ya. Hanya saja, sudah diatur bagaimana ketentuannya. Nah, ada di mana aturannya? Di dalam firman Allah Ta’ala:

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. “(QS. Al Baqarah : 187)

Belum mandi junub saat masuk subuh

Perlu diketahui bahwa syarat sah berpuasa bukanlah suci dari hadas besar ataupun kecil. Tidak seperti saat kita melaksanakan salat atau tawaf di Ka’bah yang mengharuskan seseorang suci dari hadas.

Adapun puasa, tentu berbeda. Sekali lagi, suci dari hadas bukanlah syarat sah puasa. Tidak bisa dibayangkan jika salah satu syarat sah puasa harus suci dari hadas. Merepotkan sekali, bukan?

Untuk itulah, orang yang masih junub dan dia belum mandi saat sudah memasuki waktu subuh pada bulan Ramadan, puasanya tetap sah, kok. Iya, puasanya enggak batal.

Dalilnya adalah hadis dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian, beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari dan Turmudzi).

Sahur dalam keadaan junub? Boleh?

Lalu, bagaimana jika seseorang sahur dalam keadaan junub?

Tentu saja boleh, selama tidak melebihi waktu subuh. Ingat, ya, batas akhir sahur adalah waktu subuh. Jadi, kalau sahurnya melebihi waktu subuh, ya, tetap aja batal.

Namun, yang perlu diingat, sebelum sahur dan tidur, hendaknya berwudu terlebih dahulu.

Berdasarkan keterangan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudu sebagaimana wudu ketika hendak shalat.” (HR. Muslim)

Tetap mandi jika ingin salat Subuh

Ketika seseorang dalam keadaan junub, bukan berarti ia melalaikan kewajiban salat Subuh. Dia tidak boleh beralasan malas mandi, lalu meninggalkan salat. Mengapa? Karena meninggalkan salat termasuk dosa besar.

Jadi, sebelum salat Subuh, sebaiknya mandi dulu.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Jika kalian dalam keadaan junub, bersucilah ….” (QS. Al-Maidah: 6)

Nah, itu dia pembahasan junub saat puasa Ramadan. Semoga bermanfaat, ya.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: lowtechmagazine

#inspirasiramadan

#dirumahaja

#flpsurabaya

#BERSEMADI_HARIKE-8

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment