Jejak Mohammad Natsir untuk Bangsa

Bismillah

Siapa yang tak mengenal Mohammad Natsir? Saat belajar Sejarah dahulu, kita mengenalnya sebagai perdana menteri Indonesia kelima.
Seorang tokoh politik, ulama, dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Kiprah beliau dalam pendidikan Islam dan kebangsaan, patut dijadikan teladan. Tak hanya itu, Mohammad Natsir juga dikenal dengan keteguhan hatinya dalam berdakwah. Ya, baginya, berdakwah bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi juga perbuatan nyata.

Keputusannya berkhidmat untuk Islam dimulai sejak remaja. Beliau bercita-cita mengangkat derajat masyarakat yang kala itu dijajah. Sebagai langkah awal, ia berperan aktif dalam dunia pendidikan karena meyakini bahwa kemunduran dan kemajuan suatu bangsa dimulai dari pendidikan.

Kegundahan Mohammad Natsir menyaksikan pendidikan ala Barat saat itu, membuatnya berpikir keras bagaimana menciptakan sistem pendidikan yang lebih ‘berisi’. Tidak mengherankan, alasannya sederhana, yaitu pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda hanya mengisi otak, tetapi jiwa sang anak dibiarkan kosong melompong.

Di sisi lain, pendidikan pesantren memang mengisi jiwa anak, lulusannya pun berakhlak mulia, tetapi tak mampu mengikuti perkembangan dunia dan penguasaan bahasa asing. Sesuatu yang kontradiktif.

Natsir pun menginginkan satu pendidikan komprehensif yang memadukan pendidikan pesantren dengan pendidikan ala Barat. Berawal dari situlah, Pendidikan Islam lahir berkat Mohammad Natsir.

Pendidikan Islam ala Natsir

Natsir mengusung pendidikan berlandaskan tauhid. Sesuatu yang luar biasa. Baginya, tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup, yakni menyembah Allah semata.

Natsir berpandangan bahwa pendidikan tauhid hendaknya diberikan sejak dini, selagi muda dan masih bisa dibentuk. Mengapa? Karena jika bercampur dengan ideologi dan pemahaman lain sebelum landasan tauhid tertanam kuat, hasilnya pun ambyar.

Tanpa tauhid, tidak peduli sepintar dan sehebat apa pun seseorang, ia akan hancur.

Bagi Natsir, penghambaan kepada Allah Ta’ala justru akan membuat si hamba merasa bahagia karena pada hakikatnya, penghambaan tersebut tidak memberi keuntungan bagi yang disembah, melainkan si penyembah. Penghambaan itu akan memberi kekuatan bagi si hamba.

Mosi Integral

Kita tentu tak merasa asing dengan polemik dua pribadi hebat, yaitu Soekarno dan Natsir dalam memandang negara. Pemikiran Soekarno yang tertuang dalam Islam, Marxisme, dan Nasionalisme yang ditulisnya pada tahun 1926, mengisyaratkan betapa beliau memisahkan agama dan negara. Sesuatu yang ditentang keras oleh Natsir.

Meski keduanya berbeda pandangan, Soekarno dan Natsir nyatanya saling mengisi. Keduanya membangun Indonesia. Soekarno menjadi orang nomor satu, sedangkan Natsir memimpin Partai Islam Terbesar, Masyumi.

Indonesia bak bayi baru lahir yang dipenuhi persoalan demi persoalan rumit. Kedaulatan bangsa terancam karena agresi militer Belanda. Indonesia terpecah menjadi beberapa bagian sebagai akibat Konferensi Meja Bundar pada tahin 1949.

Kegelisahan rakyat Indonesia pun ditangkap oleh Natsir. Di hadapan parlemen RIS, Natsir mengajukan mosi integral.

“Memperhatikan: Suara-suara rakyat dari berbagai daerah, dan mosi-mosi Dewan Perwakilan Rakyat sebagai saluran dari suara-suara rakyat itu, untuk melebur daerah-daerah buatan Belanda dan menggabungkannya kedalam Republik Indonesia.

Kompak untuk menampung segala akibat yang tumbuh karenanya, dan persiapan-persiapan untuk itu harus diatur begitu rupa dan menjadi program politik dari pemerintah yang bersangkutan dan dari pemerintah RIS. “


Mosi integral yang digagas Natsir pun berhasil menyelamatkan Indonesia dari perpecahan.

Demikianlah, Soekarno dan Natsir bisa jadi berbeda pandangan dan ideologi, tetapi pemikiran mereka mengerucut pada satu titik temu. Mereka memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan bangsa.

Baik Soekarno maupun Natsir sama-sama mengakui hak umat Islam untuk memiliki cita-cita Islam dan memperjuangkannya. Dua sosok berjiwa pahlawan tersebut pun setuju bahwa Indonesia tidak akan memisahkan negara dari agama; bahwa negara dan agama sebagai satu kesatuan yang terwujud dalam Pancasila sebagai landasan negara Indonesia.

Refleksi

Membaca kisah hidup Mohammad Natsir benar-benar membuat saya takjub. Betapa seorang muslim itu menjadi benteng bagi keutuhan dan kedaulatan bangsa, sebagaimana dicontohkan oleh beliau.

Saya pun sejenak berpikir seperti ini, pendahulu bangsa ini luar biasa. Pemikirannya tentang tauhid pun sungguh di luar dugaan. Ketaatan kepada Allah membuatnya mencetuskan ide pendidikan bagi anak-anak muslim. Itu semua tentu tak lepas dari apa yang dibacanya. Ya, apa yang kita baca itulah yang akan membentuk pemikiran. Makin banyak membaca buku berkualitas, makin berkelas pula pemikiran seseorang. Sebaliknya, makin tidak bermutu bacaan kita, makin tak bermutu pula pemikirannya. Tak hanya itu, bisa jadi apa yangkeluar dari lisannya pun kosong.

Benar adanya ungkapan you are what you read.

Adapun akronim Jas Merah, hendaknya kini harus terselip Jas Mewah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah), sebuah judul buku milik Dr. Tiar Anwar Bachtiar yang Insya Allah akan menghiasi rak buku kami.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: Pinterest

Diolah dari:
Jejak Islam untuk Bangsa.

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment