Ingin Terdengar Seperti Orang Bule? Lakukan 3 Hal Ini!

Bismillah

Belajar bahasa Inggris itu bisa dibilang gampang gampang susah. Akan terlihat gampang kalau kita tekun dan sering berlatih. Susah … jika kita malas meng-update diri dengan latihan.

Nah, kebanyakan para pembelajar bahasa Inggris sering bertanya-tanya dalam hati, “Gimana sih caranya biar lancar ngomongnya kayak bule?”. Biar terdengar seperti penutur aslinya, sebenernya butuh waktu dan banyak latihan. Cara terbaik untuk menguasai bahasa Inggris ya tinggal di negara yang berbahasa Inggris ? Kalau gak mampu ya…cukup dilakukan di mana aja semampu kita. Yang penting latihan.

Okay, hari ini karena saya orangnya baik hati, tidak sombong, dan gemar menabung, saya akan memberi tips buat teman-teman agar kalau pas kita bicara bahasa Inggris bisa terdengar seperti penutur aslinya.

Tips Agar Terdengar Seperti Bule

1. Pelajari Idiom dan Slang (common English Expressions) 

Native speaker, sama halnya dengan kita di Indonesia, mereka memiliki ungkapan-ungkapan unik yang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal ungkapan “bekerja keras membanting tulang”, maka dalam bahasa Inggris pun ada istilah “fight tooth and nail”. “Naik pitam” dengan “go ballistic”, dan sebagainya. 

Begitu juga dengan slang, misal kita bisa bilang “you’re shitting me” kalau kita tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang lain. 

2. Berlatih pronunciation 

Ini juga penting, istilah Jawanya, biar kita tidak kelihatan medok. Ada salah seorang kawan saya, ketika berbicara dalam bahasa Inggris, aksen Kartasura-nya kelihatan banget ? Ini yang harus dihindari.

Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam pronunciation: 

Pertama, connecting words. Artinya, dalam mengucapkan dua kata atau lebih, kita menyambungkannya sehingga terdengar seperti satu kata saja.

Kita bisa menyambungkan kata yang huruf terakhirnya konsonan dengan kata berikutnya yang huruf awalnya juga konsonan. Jika seperti ini, maka konsonan pada kata pertama dihilangkan.

Misal:

BlacK Coffee

> biasanya kita akan mengucapkan “black coffee” tapi karena kita ingin mengaitkan kedua kata tersebut, maka pengucapannya berubah menjadi “bla coffee”

WhaT Do you do

> di situ ada huruf t dan d, jika sambung maka pengucapan huruf “t” dihilangkan. Kita tidak boleh bilang, “whaT do you do?” tapi “wha do ye do?”. Kenapa “ye”? Kalau kita bicara agak cepat maka huruf “o” pada kata “you” akan terdengar seperti “e”. Coba deh.

Menyambungkan konsonan dengan vokal.

Misal:

Not at all

> pengucapan huruf “t” pada kata “not” langsung dimasukkan ke kata berikutnya. Pengucapannya tidak lagi “not at all” tapi “not-at-all”. Ingat, American English biasanya mengucapkan huruf “t” terdengar seperti “d”.

Kedua, memadatkan kata

Tidak semua suku kata dan huruf dalam suatu kata dibaca. 

Misal:

Comfortable 

banyak orang mengucapkan kata ini dengan “com-fort-able”. Tapi para native speaker tidak mengucapkan demikian, mereka bilang “comftabil”. Huruf O dan R pada kata FOR tidak diucapkan. 

Every

kata “every” tidak diucapkan “ev-er-y” tapi “e-vry”.

Ketiga, memadatkan huruf

Dalam memadatkan huruf, sama seperti point di atas, 

Misal:

CounTRy

jika ada huruf “T” dan “R” bersamaan, maka cara membacanya berubah menjadi “chr”. Jadi, “country” dibaca “counCHRy”.

HunDRed

jika ada huruf “D” dan “R” seperti ini, maka cara membacanya berubah menjadi “jr”. “Hundred” dibaca “hunJRed”

DiD You

jika ada huruf “D” dan “Y” bertemu, maka cara membacanya bukan “did you” tapi “dije”. Huruf “D” dan “Y” dibaca seperti “j”.

Pronunciation ini sangat tricky, pengucapannya pun sangat cepat dan beragam. Untuk bisa benar-benar menguasainya, harus banyak latihan ya. Saya dan teman-teman membutuhkan waktu sekitar dua tahun hanya untuk belajar pronunciation saja.

3. Belajar collocation

Selain belajar idioms dan prounciation, afa baiknya kita juga belajar mengenal collocation. Apa sih collocation?

Collocation adalah dua kata atau lebih yang biasanya digunakan secara bersamaan sehingga terbentuk satu kesatuan makna.

Collocation ini dipakai baik dalam spoken maupun written English. Kalau kita salah menggunakan collocation, biasanya si native speaker akan mengernyitkan dahi sambil bilang, Well, it doesn’t sound right. We don’t say it that way in English ….

Yang bikin tambah bingung adalah TIDAK ada aturan atau semacam grammar rules terkait collocation ini. Jadi sepenuhnya bergantung sama intuisi. 

Kenapa harus belajar collocation? 

– Agar kita terlihat lebih natural dalam berbicara dan lebih mudah dipahami,

– Agar kita punya banyak cara dan kaya kosakata dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita,

Contoh collocations:

Kita mengenal “fast food” tapi bukan “quick food”. Ada “fast train”,  tapi “quick train” tidak ada. Beberapa orang biasanya melakukan “a quick shower”, tapi tidak pernah “a fast shower”. Ada “a quick meal”, tapi tidak ada “a fast meal”. 

Okay, itu saja dari saya. Selamat berlatih ya.

Barakallahu fiik

Photo credit:

Schoolweb

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

3 Comments

  1. Mantap banget mbak..
    Aku jadi malu sendiri, lulusan Inggris tapi udah lupa sama materinya hahaha.

    Mungkin karena ambil literature dulu, jadi ingatnya gimana bikin kritik or review terhadap sebuah karya sastra… 😀 😀

    Keep writing and sharing mbak.

Leave a Comment