Ingin Berdebat? Dua Hal Ini Harus Diingat

Bismillah

Sobat, seiring canggihnya internet dan media sosial, orang cenderung lebih mudah melakukan banyak hal. Salah satunya adalah berdebat, tentunya dengan topik yang beragam. Kita bisa melihat bagaimana ‘serunya’ perdebatan ini. Kita ambil contoh tentang ASI vs Susu Formula. Saking sengitnya perdebatan, sebagian orang merasa sakit hati karena direndahkan. Sedangkan yang lainnya merasa di atas angin karena menganggap dirinya sempurna.

Perdebatan yang tidak ada ujungnya, sama halnya dengan sedih yang tak berujung … oh salah … itu judul lagu. Debat yang tak ada ujungnya ini kemudian berubah menjadi debat kusir. Debat kusir ini sangat merugikan, sekalipun pada awalnya kita berniat untuk berdiskusi. Terlebih jika diskusi dilakukan di media sosial. Berat sekali, Sob. Lebih berat daripada rindunya Dilan ke Milea.

Dua Hal yang Harus Diingat

Nah, jadi gini, Sob. Saya cuma ingin mengatakan bahwa sebelum kita berdebat, ada dua hal yang harus diingat:

Pertama, jika ingin berdebat dengan orang bodoh, please jangan sia-siakan waktu kita hanya untuk mereka. Waktu kita terlalu berharga, Sobat. Mereka belum punya cukup ilmu untuk memahami apa yang kita sampaikan, sekalipun itu kebenaran yang kita bawa.

Dan ini yang sering saya lakukan. Saya sering menjumpai tulisan-tulisan yang menggiring pembaca ke arah penyimpangan agama. Saya tahu seseorang itu bodoh, kalau tidak boleh saya bilang dungu, tapi saya enggan berkomentar lebih jauh dan lebih dalam. Kenapa? Yassalaaam … kalau saya berkomentar lebih dalam, padahal dia bodoh, apa bedanya saya dengan dia?

Kedua, jika kau berdebat dengan orang pintar, untuk apa kau berbusa-busa membantahnya? Sedangkan kau tahu, ia jauh lebih pandai dan lebih memahami suatu permasalahan daripada kamu. Kenapa juga kau sia-siakan waktumu menjadi bahan tertawaan orang pintar yang melihat kebodohanmu?

Ingat pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita untuk menjauhi debat, meskipun kita berada di atas kebenaran. Mengapa? Karena dengan menjauhinya, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuk kita di Surga.

***

Berdebat hanya akan membuat penat. Namun, jika terpaksa berdebat, sampaikan saja kebenaran dengan secukupnya tanpa harus memperdebatkannya. Serta bersabarlah ketika menghadapi orang bodoh dan pintar. Terkadang memang, bukan sikap kita yang keras, melainkan hati sebagian orang yang belum terbuka menerima kebenaran.

Semoga kita tidak terpancing dalam sebuah perdebatan panjang yang tidak ada manfaatnya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Barakallahu fiik

Photo credit:

pixabay.com/mohamed_hassan

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

4 Comments

Leave a Comment