I Feel Sorry for….

Bismillah
 
 
Setiap orang pasti pernah merasakan penyesalan hebat dalam hidupnya. Entah menyesal karena salah memilih pasangan hidup, menyesal karena tak mampu berbakti kepada orang tua, menyesal karena telah menyakiti orang lain, atau menyesal karena telah banyak berbuat dosa. Apapun itu, tentu memberi pelajaran berharga untuk kita.
Masalahnya adalah apakah semua rasa penyesalan tersebut membuat kita terpuruk dan tak bisa move on? Manusia memang tak pernah luput dari berbuat kesalahan dan dosa. Namun, manusia yang paling baik adalah mereka yang segera menyadari kesalahannya lalu bertaubat kepada Allah Ta’ala. Terlalu lama terpaku pada rasa penyesalan tanpa ada usaha memperbaiki diri justru malah semakin memperburuk keadaan kita. Kita jadi nyesek yang kemudian tanpa tersadar kita berucap, “Ah, seandainya begini begitu tentu tidak akan begini begitu.
Pernah seperti itu?
Sobat, ucapan “Seandainya dulu aku begini tentu akan begitu” ternyata nggak boleh lho. Kenapa? Karena kata “andai” itu akan membuka celah bagi syaithan untuk membuat kita semakin nyesek dan semakin nggak berguna yang ujung-ujungnya menyalahkan takdir Allah. Padahal sebagai seorang Mukmin, kita harus meyakini bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah, semua sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz.
 
 
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad Shahih)
Di satu sisi, penyesalan memang terlihat buruk jika kita terus berkubang di dalamnya. Di sisi lain, penyesalan bisa menjadi penyebab diterimanya taubat. Tentunya, tidak hanya menyesal saja, ada faktor-faktor penentu lainnya, yaitu berhenti dari perbuatan dosa dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Itu jika ia melakukan perbuatan dosa kepada Allah. Jika perbuatan dosa dilakukan terhadap sesama maka wajib baginya untuk mengembalikan kerugian untuk orang yang telah didzaliminya jika dia mampu dan meminta maaf.
Saya pribadi, tentu saja pernah merasakan penyesalan luar biasa, yaitu ketika saya tidak bisa menemani kedua orang tua saya di detik-detik terakhir dalam kehidupan mereka. Ibuk saya rahimahallah meninggal tanggal 18 Desember 2014, sesaat menjelang Shubuh.  Saya dan suami menginap di rumah sakit, bergantian menjaga ibuk. Suami membangunkan saya agar bersiap-siap shalat Shubuh. Ketika saya kembali dari Masjid, ibuk saya rahimahallah telah berpulang.
Kemudian, bapak saya rahimahullah yang meninggal tanggal 15 Desember 2016. Saat itu saya berada di Salatiga dan bapak di Cepu. Bapak saya memang sudah sangat sepuh (baca: tua), beliau lah yang menghibur saya ketika hamil dan menghabiskan waktu di Cepu.
Jangan ditanya bagaimana rasanya. Saya terguncang hebat. Butuh waktu lama bagi saya untuk tidak menangis ketika bercerita tentang kedua orang tua saya. Saya sangat menyesal kala itu. Tapi kemudian saya berpikir, kalau saya terus begini, orang tua saya dapat apa di sana? Saya nggak boleh selemah ini. Saya masih bisa berbuat baik untuk mereka, saya masih bisa bersedekah atas nama mereka, saya juga masih bisa menjadi istri yang baik agar mereka mendapatkan pahala karena beliau berdua lah yang telah mendidik saya. Bukankah orang tua akan mendapat pahala atas segala sesuatu yang ia usahakan dalam mendidik anak?
Selain itu, saya juga menyesal karena terlambat mengenal Sunnah. Kabar baiknya adalah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, better late than never. Saya sangat bersyukur karena meski terlambat, saya sekarang diberi kemudahan oleh Allah untuk belajar agama dan semoga saya bisa istiqamah di jalan ini. Aamiin Allahumma Aamiin.
Apa lagi yang membuat saya menyesal? Saya menyesal karena terkadang belum bisa menahan amarah di hadapan si kecil. Ini yang selalu saya tangisi. Saya masih terus belajar untuk mengelola emosi.
Jadi, sobat, menyesal boleh saja, asal jangan terlalu lama berada di dalamnya sampai-sampai kita lupa bahwa ada penyesalan yang maha dahsyat yang akan terjadi jika kita berbuat sia-sia selama hidup. Kelak kalau kita sudah mati, kita akan menyesal karena tidak memanfaatkan waktu untuk beribadah kepada Allah.
Ada satu perkataan yang sangat baik yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika kita ditimpa sesuatu yang tidak kita senangi. Kalau dulu mungkin kita suka berucap “seandainya”, maka sekarang gantilah dengan ucapan berikut:
قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ
 
Qodarullah wa masyaa a fa’al
 
Artinya:
“Allah sudah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan.” (HR. Muslim)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.” (HR. Muslim)
Dah gitu aja, Ferguso. Semoga yang sedikit ini bermanfaat.
Barakallahu fiik
Photo credit:
canva

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

2 Comments

Leave a Comment