heritage loco tour

Heritage Trainz Loco Tour: Another Story from Cepu

“A few years back, it took four hours. And now, it takes a few minutes, but the memory of your teak plantation tour will last forever”

Mendengar kata “Cepu”, tentu terasa tidak asing di telinga, bukan? Ya, siapa yang tak mengenal Cepu dengan Blok Cepu-nya. Kota kecil ini rupanya tak hanya populer sebagai kota minyak, hutan jatinya pun tersohor ke penjuru negeri. Bahkan, kerajinan kayu jati di kota ini semakin diminati, tak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Meski tergolong kota kecil–lebih tepatnya kecamatan–Cepu memiliki destinasi wisata juga, lho. Apa lagi kalau bukan wana wisata, karena memang Cepu memiliki potensi hutan jati yang mempesona.

Apa jadinya kalau kita diajak berkeliling hutan jati dengan menggunakan kereta uap kuno?

Pernah naik kereta uap ini? Saya sudah, lho. Credit: phinemo

Kesempatan berwana wisata itu pun datang. Setahun yang lalu, tepatnya, saat liburan Idulfitri, saya dan suami mengunjungi salah satu destinasi wisata baru, yakni Depo Loko Tour di kota kelahiran saya tersebut. Kami sengaja ke Depo dalam rangka mengenang masa kecil sekaligus menyenangkan buah hati kami.

Tarif Loko Tour

Tiket masuknya tergolong murah. Kita hanya butuh merogoh kocek lima ribu rupiah per orang dewasa dan dua ribu rupiah untuk balita. Adapun untuk loko tour-nya, dikenakan biaya 15 ribu per orang. Untuk loko kereta Drensine biayanya sekitar Rp 50 ribu per orang dengan penumpang maksimal 6 orang dewasa. Untuk loko tour Kereta Ruston dari Depo ke TPK Batokan yang kami naiki saat itu, beroperasi setiap hari dengan penumpang per gerbong maksimal 25 orang, dikenakan tarif Rp 15 ribu per orang.

Kita juga bisa menyewa loko tour ini dengan harga paket sewa Rp 750.000,- per gerbong. Untuk harga sewa, tergolong mahal, karena memang perawatan loko tua tidaklah murah. Suku cadangnya sudah langka dan masinisnya hanya satu orang, karena tidak mudah menjalankan loko tua terbahan bakar kayu.

Sekilas Tentang Loko Tour

Bengkel Traksi atau biasa dikenal dengan Depo Loko Tour, menjadi tempat bersemayamnya loko-loko tua milik Perum Perhutani. Mereka menjadi saksi bisu penjajahan kolonial Belanda. Pemerintah kolonial Belanda dulunya menggunakan lokomotif tersebut untuk mengekspoitasi dan mengangkut hasil hutan di wilayah Cepu.

Berdiri kokoh selama 107 tahun, bukanlah hal yang mudah bagi Bengkel Traksi yang dilengkapi dengan rel kereta api. Sejarah mencatat bahwa jaringan rel kereta yang dibangun pada tahun 1915, merupakan jaringan rel terpanjang di Jawa, bahkan Indonesia! Bagaimana bisa? Jaringan rel KA yang dibangun di dalam kawasan hutan jati Cepu membentang sepanjang 300 kilometer.

Depo yang saat ini masih berdiri menatap zaman tersebut mempunyai sembilan lokomotif tua yang tersimpan rapi, di antaranya:

1.  Lokomotif empat bersaudara buatan Berliner Maschinebau-Actien Gesellschit (BMAG), masing-masing diberi nama Tujuh Belas, Agustus, Bahagia, dan Madjoe. Lokomotif Madjoe, ditempatkan di Kantor Pusat Perhutani Jakarta.

2. Dua buah lokomotif langsir uap buatan Du Croo dan Braun.

3. Satu lokomotif Hanomag tahun 1922.

4. Satu Drensin buatan Jepang, merk Honda.

5. Satu Drensin modifikasi dari jenis Colt T120

6. Lori onthel.

Pesonanya sempat memudar. Namun, sejak tanggal 17 Januari 2017, Pemerintah daerah memutuskan untuk menghidupkan kembali wisata kereta uap di Cepu. Hasilnya cukup memuaskan, antusiasme warga pun tak terbendung.

dokumen pribadi

Kenangan Bersama Kereta Uap

Masih lekat dalam ingatan, beberapa waktu silam, saat itu saya masih duduk di kelas 1 SD. Kali pertama saya mengikuti a day out on the Cepu forest railway. Saya menaiki kereta uap yang berbahan bakar kayu jati. Ya, loko uap yang diberi nama Loko B (Bahagia) tersebut sudah sangat tua karena dibuat di Jerman pada tahun 1928.

Pada tahun 1990-an, loko tour sedang berjaya, tidak hanya diminati wisatawan lokal, tapi juga wisatawan mancanegara. Kebanyakan turis asing tersebut berasal dari Belanda dan Jerman. Saya mengetahuinya karena pada saat itu ada rombongan mahasiswa yang sedang OJT di Cepu, mereka mencoba loko tour dan berbincang dengan para bule tersebut.

Kereta tua Ruston “Bahagia”. Credit: infoblora

Keperkasaan kereta tua memang membekas dalam ingatan saya. Betapa tidak, dulu ia membawa saya mulai dari bengkel Traksi di kantor KPH Cepu, sampai ke Gubug Payung, yang terletak di Monumen Hutan Jati Alam, BKPH Pasar Sore KPH Cepu, Desa Temengeng, Kecamatan Sambong, Blora.

Jarak 25 kilometer saat itu tidak menjadi penghalang bagi sang loko tua untuk membahagiakan Renita kecil. Namun, saat ini, ia hanya mampu membawa penumpangnya sekitar dua kilometer.

Ya, loko tour saat ini hanya mampu berjalan dua kilometer, dimulai dari Depo KPH Cepu di desa Ngelo sebagai starting point of loco tour lalu melewati jembatan Batokan menuju ke Center of Nursery dan log yard. Setelahnya, kereta Ruston akan kembali ke Depo. Jarak yang sangat singkat dibandingkan dengan apa yang pernah saya alami semasa kecil.

Peta loko tour. Dokumen pribadi

Sepanjang perjalanan, suara lengkingan kereta tua menyeruak memecah keheningan. Kami seolah dibawa kembali ke masa-masa penjajahan. Sensasinya sungguh tak terlupakan. Bahkan setelah pulang kembali ke rumah, masih terbayang kereta tua yang dulu sempat mengukir masa kecil saya.

Suasana di dalam kereta. Dokumen pribadi

***

“Makhluk” tua yang masih tetap bertahan menantang zaman itu mungkin tak lagi seperkasa dulu. Menghidupkannya kembali, tentu membutuhkan usaha dan biaya yang cukup besar. Namun, dengan segenap tanggung jawab dan kasih sayang, upaya merawatnya patut mendapat acungan jempol.

Kelak, anak cucu kita akan mampu menyaksikan betapa loko-loko tua tersebut tak hanya sekadar seonggok besi tua di hutan jati, tetapi lebih dari itu. Besi tua yang masih berlari akan menjadi saksi betapa kehidupan selalu datang silih berganti.

Suara kereta tua terus menyeruak, seolah ia hendak mengatakan, “Renita, kemarilah, berlarilah bersamaku seperti dulu.”

Barakallahu fiik.

Photo credit: dokumen pribadi

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

35 Comments

  1. ternyata selain di Museum Ambarawa, wisata lokomotif juga bisa ditemui di cepu, blora ya. jika ada kesempatan, ingin sekali kesana Bu Ren, saya ini termasuk penyuka hal-hal yang punya hubungan dengan jaman dahulu, setelah membaca reviewnya Bu Ren, jadi pengen ke sana eum. bisaaan me reviewnya nih

Leave a Comment