Renita Oktavia

I read to write

September 24, 2019

Hawa, Iblis, dan Hoaks

Bismillah

Iblis masuk ke dalam surga bersama dengan ular. Lalu iblis keluar dari perut sang ular ketika telah berada di dalam surga. Dia lantas menuju pohon larangan bagi Adam dan Hawa. Kali pertama sang iblis memengaruhi Hawa. Dia membawa pohon itu ke separuh nyawa sang Adam.

‘Lihatlah pohon ini, baunya harum, rasanya lezat, dan warnanya indah.’ Dia terus membujuk dan mempengaruhi Hawa, hingga Hawa pun mengambil pohon itu dan memakannya.

Kemudian baru menggoda Adam.

Kata Hawa, ‘Makanlah, aku sudah makan, tidak ada masalah apa-apa.’

Adam pun makan dari pohon itu. Tiba-tiba pakaiannya terbuka dan terlihatlah kemaluan mereka. Mereka telah melakukan dosa.

Cuplikan kisah di atas adalah saat bagaimana iblis menggoda Adam dan Hawa meski sang iblis telah diusir dari surga. Imam al-Qurthubi menjelaskannya dalam kitab tafsir beliau.

Kisah yang patut direnungkan dan diambil hikmahnya, terutama bagi kita, para perempuan pada umumnya dan perempuan penulis khususnya.

Wanita dan Hoaks

Kalau melihat kisah bagaimana Adam dan Hawa keluar dari surga, tentunya kita berpikir seandainya Hawa tidak percaya kepada iblis, tentu mereka akan kekal berada di dalam surga.

Pertanyaannya, mengapa wanita lebih mudah percaya (dan menyebarkan) hoaks?

Wanita itu lemah akal dan agamanya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.” (HR. Bukhari)

Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa makna wanita kurang akalnya adalah dalam hal persaksian dan penjagaan dirinya sendiri, maka ia harus bersama wanita lainnya. Sering kali, seorang wanita itu lupa. Ia pun terkadang menambah dan mengurangi dalam persaksiannya.

Adapun yang dimaksud dengan kurang agamanya adalah ketika seorang wanita dalam keadaan haidh dan nifas, dia meninggalkan shalat dan puasa. Namun, ia tidak meng-qadha salat-nya.

Jadi, dari sini jelas terlihat betapa wanita terkadang terlupa dengan menambah atau mengurangi apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat.

Wanita Hanya Mengandalkan Perasaan

Pemikiran wanita itu didominasi oleh perasaan. Berbeda dengan pria yang lebih mengandalkan logika. Hal ini diperkuat melalui penelitian yang menyebutkan bahwa wanita cenderung menggunakan otak kanannya. Otak wanita lebih mengaitkan memori dan keadaan sosial.

Wanita juga mampu menyerap informasi lima kali lebih cepat daripada pria. Maka, tidak mengherankan jika seorang wanita begitu mudah menyimpulkan segala sesuatu, bergosip, dan bercerita panjang lebar.

Adapun lelaki, otaknya tidak didesain untuk terkait dengan perasaan dan emosi. Mereka sangat jarang memutuskan satu masalah dengan menggunakan perasaan karena memang mereka lebih suka melihat sesuatu yang mudah.

Mengabaikan Cek dan Ricek

Karena lebih mengandalkan perasaan, sebagian kaum wanita akan mengabaikan pentingnya cek dan ricek. Mereka cenderung tidak berpikir panjang. Akibatnya, mereka percaya berita-berita bohong. Bahkan mungkin mereka ikut andil dalam penyebaran berita tersebut.

Cek dan ricek ini sangat penting, lho. Jangan sampai kita sudah sibuk menyebarkan suatu berita, eh ternyata berita tersebut tidak terbukti kebenarannya. Atau justru malah semakin memperkeruh suasana.

Baca juga: Adab Menerima dan Men-share Berita

Sebagian wanita kan biasanya gitu, ya? Ketika ada gosip atau berita heboh, mereka menelan semuanya mentah-mentah. Lalu words of mouth pun bekerja secara efektif.

Bijak Menerima dan Menyebarluaskan Berita

Ada satu kaidah penting yang harus kita pahami sebagai seorang perempuan penulis bahwa tidak semua berita itu layak kita share. Jangan sampai kita mendapat julukan sebagai seorang pendusta hanya karena kita bermudah-mudahan share berita yang tidak jelas kebenarannya.

Sikap tergesa-gesa dalam menyebarkan satu berita pun akan berdampak buruk. Mengapa? Karena akan menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran.

Lalu, bagaimana cara bijak menerima dan menyebarluaskan berita agar kita tidak termakan hoaks?

1. Cek dan ricek kebenaran berita

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat: 6)

Ketika ada satu berita yang sampai kepada kita, alangkah baiknya kita memeriksa kembali kebenaran berita tersebut dengan bertanya kepada orang yang lebih mengetahuinya.

Betapa saat ini, orang cenderung grusa-grusu dalam men-share berita tanpa mempertimbangkan apakah berita tersebut benar atau tidak. Kabar buruknya, ketika telah tersebar dan ternyata bohong, tidak ada klarifikasi perihal kebohongan berita.

2. Manfaat

Setelah mengetahui kebenaran atas suatu berita, apakah kita boleh mengunggah dan membaginya? Meski telah terbukti benar, sebaiknya kita tidak gegabah men-share begitu saja.

Pastikan bahwa berita tersebut bermanfaat bagi orang lain. Namun, jika justru menimbulkan keresahan dan kegaduhan, maka sebaiknya kita diam atau menunggu saat yang tepat untuk menyampaikannya.

3. Segala sesuatu kelak akan dimintai pertanggungjawaban

“Tulisan (hukumnya) sebagaimana lisan”

Tidak semua hal harus kita bagi dan kita komentari. Mengapa? Karena sebagaimana lisan, tulisan dan segala macam komentar kita pun kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Terlebih jika menulis dan berkomentar tanpa disertai ilmu.

Jika berprinsip seperti ini maka kita akan lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan berita, terlebih jika berita tersebut tidak terbukti kebenarannya.

***

Sebagai perempuan penulis, memilih dan memilah bahan tulisan adalah kewajiban yang tidak bisa disepelekan. Mengemas karya dalam tulisan pun ada kaidahnya. Tentu saja, agar tidak menyesal sesudahnya.

Terkadang, memang, cukuplah bagi kita menyampaikan satu berita kepada orang tertentu saja. Dan ada kalanya, menyimpan berita tersebut untuk kita konsumsi diri sendiri, akan lebih membawa kebaikan.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fiik

Sumber: konsultasi syariah | hello sehat

Photo credit: pinterest

PS. Tulisan ini di-remake dari salah satu tulisan saya di GNFI dengan perubahan seperlunya.

SHARE:
Adab, Random Thought One Reply to “Hawa, Iblis, dan Hoaks”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

One comment on “Hawa, Iblis, dan Hoaks

    Author’s gravatar

    Barokalloh Kak. terimakasih tulisannya.
    sudah lama enggak membaca kisah diusirnya Nabi Adam AS dari surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *