Hati-Hati Menjaga Hati

Bismillah

Alhamdulillah, hari ini kakak terima raport. Masya Allah dia selalu ranking satu ...”

Cekrek. Nilai raport-nya di-upload

“Terima kasih suamiku, hari ini dibelikan cincin permata bertahtakan berlian. Romantis banget sih beibmmuuaahh”

“Habis honeymoon ke Raja Ampat nih sama suami. Bahagianya punya suami yang baik, tampan, dan romantis.”

—-

Pernah melihat yang seperti itu? Atau pernah bilang kalimat serupa?

Manusia memang identik dengan rasa pamer dan ingin diperhatikan. Wajar, kalau nggak pamer, namanya bukan manusia.

Tapi bagaimana jika seseorang kerap mengumbar kebahagiaan, kemesraan, dan prestasi anak di depan manusia?

Boleh saja mengumbar kebahagiaan dan romantisme atau apalah namanya, yang perlu diperhatikan adalah apakah dengan pamer tersebut bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain? Atau justru membuat orang lain menjadi hasad, iri, baper, dan dengki? Jika memang bisa mendatangkan manfaat, silakan, tapi tetap ikuti kaidahnya, jangan terlalu sering dan berlebihan.

Tidak selamanya apa-apa yang menghampiri kita itu diumbar ke sana kemari. Dikhawatirkan akan mendatangkan hasad dan rasa tidak bersyukur dalam diri orang lain. Bukankah setiap jasad tidak bisa terlepas dari hasad? Jangankan yang memang hatinya dipenuhi hasad, lha orang baik saja bisa terjangkit penyakit hasad.

Coba bayangkan jika kita mengumbar kemesraan kita bersama pasangan halal. Kita katakan pada seisi dunia betapa romantisnya suami kita, setiap hari kita dihujani kata-kata cinta yang bikin melayang gak karuan. Kita dibelikan perhiasan, diajak tamasya, dan sebagainya. Sementara di luar sana, ada seorang wanita yang telah menikah juga, suaminya sangat bertanggung jawab dan perhatian, cuma satu kekurangannya, ia bukan tipe suami romantis.

Bisa jadi wanita yang tak memiliki suami romantis ini akan merasa suaminya tidak baik karena tidak seperti suami si fulanah. Ia pun iri, lalu berandai-andai memiliki suami seperti suami fulanah. Lalu melakukan hal-hal di luar syariat. Atau bahkan mungkin ada yang qadarullah dalam masa penantian jodoh, hatinya bertambah sedih, lalu menginginkan suami kita. Siapa yang salah?

Atau bisa juga seorang suami yang tak pernah berhenti memuji istrinya yang cantik, salehah, pintar memasak, dan pandai menyenangkan hati suami. Lalu ada saudaramu yang qadarullah istrinya tidak secantik istrimu, tak pandai memasak, tak juga mencapai derajat salehah, tapi ia istri yang penurut, sayang terhadap anak-anaknya, rela hidup susah bersama suaminya. Kemudian si suami ini pun tak bersyukur, menuntut istrinya ini dan itu, berangan-angan memiliki istri cantik dan melupakan istri yang telah setia menemaninya.

Dan seorang ibu yang gemar memuja betapa hebat sang anak yang selalu berprestasi, setiap ada perlombaan selalu ikut serta, tak lupa sang mama mengunggah foto anaknya. Kemudian ada ibu lain yang qadarullah anaknya memiliki kecerdasan biasa-biasa saja, tapi ia anak yang patuh dan hormat terhadap orang tua. Sang ibu merasa anaknya tidak hebat, ia merasa gagal menjadi orang tua hanya karena anaknya tak pandai mengukir prestasi.

Seorang kawan bahkan pernah bercerita ke saya, betapa hatinya sangat sakit melihat beberapa kawannya mengumbar prestasi anak-anak mereka. Ia pun tak mau kalah, lalu memutuskan melakukan hal yang sama. Saya pun bilang kepada kawan karib saya ini, “Apa manfaatnya buat kamu bersikap seperti mereka? Kalau kamu meniru mereka, apa bedanya kamu dengan mereka? Santai saja. Tiap anak itu unik.”

Kalau kita ingin posting romantisme kita bersama pasangan, sewajarnya saja. Tak perlu berlebihan, sampai-sampai seluruh timeline penuh dengan celoteh kita. Dan akan lebih baik bagi kita untuk menjaga hati saudara kita.

Yang masih pacaran, tak perlu diobral. Toh belum resmi menikah. Nanti kalau putus cinta, susah hatinya. Sudah, nikah aja!

Yang sudah menikah, tak perlu terlalu sering mengekspos kemesraan bersama pasangan. Ingat, ada banyak saudaramu yang belum menikah. Bahkan ada yang rumah tangganya diuji dengan sangat hebat.

Yang sudah memiliki buah hati, tak perlu terlalu sering kau gembar-gemborkan kehamilanmu dan masa keemasan anakmu. Ingat, di luar sana ada banyak pasangan yang mengiba pada Rabb-nya untuk diberi keturunan.

Menjaga hati memang sulit, apalagi menjaga hati saudaramu. Bijaklah.

Barakallahu fiikum.

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Indscript Writing “Perempuan Menulis Bahagia”

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment