Gloomy

Bismillah

Tulisan ini hanyalah fiksi semata. Ditulis kala tak tahu harus menulis apa dalam rangkaian ODOP.

🌿🌿🌿

Entah harus bagaimana kamu menyebut dia yang pernah singgah di hatimu. Mantan kekasihkah? Sedangkan kalian tak pernah bernaung di dalamnya. Saudarakah? Sedangkan hati kalian selalu bergetar kala bertemu dan bertatap mata. Orang lainkah? Sedangkan benih-benih cinta telah lama berpendar memasuki setiap aliran darah kalian berdua.

Kali pertama kamu mengenalnya, ia-lah sosok yang selama ini kamu impikan. Seseorang yang mampu melembutkan hatimu, membuat kamu memahami bagaimana mencintai sampai detik ini. Seseorang yang bersamanya ingin kau habiskan sisa hidupmu, entah bagaimana caranya.

Bayangan itu berkelebat dalam anganmu. Gadis ayu berkerudung merah jambu yang menyita hari-harimu. Kau mengenalnya lewat sebuah ruang percakapan di internet. Kamu ingat betul bagaimana perjumpaan pertama kalian. Kedua matamu tak bisa berhenti menatap lalu merekamnya dalam setiap lembar halaman dalam pikiranmu. Hatimu berdegup kencang saat menyelami kedua mata itu. Kamu mencoba mencari tahu keberadaanmu. Adakah kau di sana?

Waktu bergulir dan kamu membiarkan ia terlepas dari genggamanmu. Bahkan saat ia mencoba menanyakan perasaanmu padanya, kamu hanya diam membisu. Kamu merasa takut kehilangan dirinya tapi kamu tak mampu mengungkapkan. Kau lantas menghukum dirimu sendiri dengan mengatakan kepadanya bahwa kau mencintai gadis lain, bukan dirinya. Hatimu hancur kala mengatakannya. Ia pun demikian. Tapi kau tidak tahu, ‘kan?

Lalu, kau memberi tahunya tentang pernikahanmu, kau berlaku sangat kejam terhadapnya. Kau biarkan ia larut dalam kesedihan selama bertahun-tahun berharap ada namanya dalam hatimu. Kau biarkan ia berjalan sendiri mengobati perihnya luka kehilangan kekasih hati. Kau biarkan ia pergi membawa setumpuk kenangan dan surat-surat yang kau tuliskan untuknya. Ia pergi menyeka air matanya sendiri.

Hingga saat kau begitu merindukannya, kau tak pernah berhenti berlari mengunjungi tempat penuh kenangan kalian. Kau mencoba mencari jejaknya. Namun sayang, kamu telah benar-benar kehilangannya. Kamu menggila. Setiap kali gawaimu bergetar dengan nomor baru di sana, kau bergegas meraihnya.

“Hurrin,” katamu.

Kau selalu menyebut namanya, bahkan saat kau terlelap dalam nestapa.

Sampai suatu saat, ia benar-benar menghubungimu. Entahlah, kamu bahkan tidak pernah bisa berganti nomor. Kamu selalu berharap ia akan mendatangimu.

Kegilaan karena mencintai sosoknya membuatmu tak mampu menahan perasaan. Selama hampir dua puluh tahun kalian memendam cinta, malam itu kau nyatakan padanya bahwa kau pernah sangat mencintainya. Kau akui kesalahanmu. Kau ingin menempatkan kenangan itu kembali.

Terlambat. Usai sudah semua cerita kalian. Ia terus menggigil dalam tangis. Berharap waktu dapat diputar kembali. Lukanya kembali menganga. Kau … kembali melukainya.

Lirih kau katakan saat senja menyapa.

“Aku … tetap mencintaimu dalam anganku

Walau di hatiku bersemayam sembilu
Walau di hariku berselimut pilu
Kamu … tetap kekaguman terindahku …”

It brings a lump to your throat and you wallow it in your sadness.

Dan pusara itu terdiam.

Photo credit: ottokim

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

4 Comments

Leave a Comment