Empat Tips Berbisnis Kuliner Ramadan Kala Corona Melanda

Bismillah

Bulan Ramadan identik dengan berbagai sajian khas andalan. Tak ayal jika bisnis kuliner pun berjejalan. Setiap orang mencoba peruntungan.

Tak terkecuali Ramadan tahun ini. Hanya saja, ada yang berbeda. Ya, kali ini Ramadan datang kala Corona melanda. Aduhai sedihnya.

Eits … jangan salah. Pun jangan patah semangat. Bisnis kuliner yang selalu nge-hits saat Ramadan, bisa pula dijalankan, lo. Tentu saja, kita harus tetap sesuai anjuran.

Semenjak diberlakukan karantina wilayah di beberapa daerah, kegiatan perekonomian mengalami penyesuaian. Tren belanja masyarakat pun menunjukkan perubahan.

Nah, agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan berbisnis kuliner saat Corona melanda, simak tips berikut ini, ya.

Prinsip dasar berbisnis

Pada dasarnya, prinsip berbisnis adalah menyediakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Selain itu, konsep inovatif dan kreatif pun tak bisa dilepaskan dari seorang pebisnis.

Saat krisis melanda, seorang pebisnis dituntut untuk memiliki ‘indra keenam’, yaitu pandai membaca peluang pasar. Kira-kira seperti ini, “Apa, sih, yang saat ini dibutuhkan orang?”

Berawal dari pertanyaan itulah, ide-ide kreatif akan bermunculan. Lihat saja bagaimana beberapa orang saat ini berbondong-bondong alih profesi menjadi penjual masker dan hand sanitizer. Ya, karena memang itulah yang saat ini menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

Lantas bagaimana dengan bisnis olahan makanan?

Saya teringat nasihat salah seorang kawan yang telah sukses menggeluti usaha kuliner. Begini kata beliau, “Dalam berbisnis makanan, jangan terlalu terpengaruh mengikuti apa yang sedang booming. Cukup fokus saja pada bisnis yang kira-kira akan tetap dicari orang meski terjadi krisis dan bencana.”

Setelah saya pikir-pikir, benar juga, ya. Kita bisa melihat bagaimana sensasionalnya bisnis es kepal M*** dan minuman serupa. Pada awal-awal kemunculannya, semua orang terlihat begitu antusias hingga menjamurlah bisnis minuman tersebut. Namun, selang beberapa saat, gaungnya kian melemah. Akhirnya, kini nyaris tak berbekas.

Pertanyaannya adalah jika bisnis minuman hits itu tak lagi terdengar sebelum datangnya Corona, apakah mungkin akan bertahan saat krisis seperti ini? Tidak, kan?

Tips bisnis kuliner Ramadan kala badai Corona

Bertahan dalam situasi yang kurang menyenangkan merupakan suatu keharusan. Tidak ada jalan lain karena bagaimana pun juga the show must go on, huh?

Untuk itulah, sebelum kita memulai bisnis kuliner pada bulan Ramadan yang penuh ujian ini, ada baiknya mengingat empat tips berikut:

1. Tetap fokus pada apa yang benar-benar dibutuhkan banyak orang.

Selama Ramadan, orang cenderung membutuhkan produk olahan makanan berupa gorengan, frozen food, minuman, dan kue.

Ditambah lagi, saat pandemi seperti sekarang ini, orang juga membutuhkan berbagai minuman rempah untuk menjaga stamina tubuh, seperti wedang uwuh, jahe, lemon, dan lain sebagainya.

2. Amati tren konsumsi calon customer.

Tak bisa dipungkiri, tingkat konsumsi masyarakat cenderung tinggi meski mereka berada di tengah-tengah pandemi. Hanya saja, bedanya, saat ini mereka lebih menyukai pembelian produk secara online.

Oleh sebab itu, sebagai pebisnis kuliner, kita harus memaksimalkan penggunaan gawai guna mendukung bisnis kuliner yang dijalankan. Pelanggan pun memilih makanan yang bisa dibawa pulang (take away) daripada dine in food (makanan yang dimakan di tempat).

Apa pasal? Tentu saja, penerapan physical distancing (jaga jarak) memaksa setiap orang untuk membatasi diri berada dalam keramaian.

Selain pemilihan pembelian secara online, di tengah pandemi seperti ini, orang juga cenderung memperhatikan kebersihan makanan. Wajar, sih, karena memang gaya hidup sehat kini menjadi tren tersendiri. Untuk meyakinkan konsumen mengenai kebersihan produk yang ditawarkan, kita bisa memberikan informasi terkait suhu tubuh si penjual dan abang kurir pengantar makanan. Manfaatkan media sosial untuk mengedukasi pembeli.

Perlu diingat bahwa keterlambatan mengantar makanan yang telah dipesan bisa menimbulkan kesan negatif dalam diri pembeli. Usahakan untuk tepat waktu mengirimnya, ya. Minimal 2 jam sebelum berbuka puasa.

3. Stok bahan dasar makanan melimpah.

Sebagai seorang pebisnis kuliner, berniaga di tengah pandemi memang menjadi tantangan tersendiri. Salah satunya dengan memastikan stok bahan dasar makanan terpenuhi sehingga bisnis kuliner tetap berjalan.

Terlebih, pada saat Ramadan, harga bahan dasar makanan cenderung mengalami kenaikan. Kita harus pandai memperkirakan ketersediaan bahan dengan jumlah pesanan. Jangan sampai pesanan membludak, tetapi jumlah bahan olahan makanan tidak banyak.

Perhatikan pula faktor pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang akan mempengaruhi distribusi penyaluran bahan dasar makanan.

4. Jaga kualitas produk.

Memilih dan memproses bahan makanan dengan kualitas terbaik hendaknya menjadi prioritas utama seorang pebisnis kuliner. Bahan dasar makanan dengan harga murah, tentu akan mempengaruhi kualitas produk.

Ditambah lagi, pandemi yang sedang berlangsung detik ini, memaksa kita harus ekstra hati-hati dibandingkan sebelumnya. Bukankah menjaga kualitas dengan tetap mematuhi protokol kesehatan menjadi tanggung jawab kita?

Berkaitan dengan itu, pastikan kualitas produk kita benar-benar memenuhi standar kesehatan, termasuk proses pengepakan.

Nah, bagaimana? Sudah siap berbisnis kuliner pada bulan Ramadan tahun ini? Selamat mencoba, ya.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: Canva

#inspirasiramadan

#dirumahaja

#flpsurabaya

#BERSEMADI_HARIKE-2

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment