Bolehkah Menambah Nama Suami di Belakang Nama Istri?

Bismillah

Ada suatu fenomena menarik di kalangan sebagian kaum Muslimin. Apa itu? Para wanita yang telah menikah, menambahkan nama suami tepat di belakang nama istri. Pernah menjumpai hal tersebut?

Maksudnya gimana, nih?

Misal, ada wanita bernama Zainab. Ia kemudian menikah dengan seorang laki-laki bernama Zein. Nah, Zainab ini menambahkan nama “Zein” tepat di belakang namanya, sehingga berubah menjadi “Zainab Zein”.

Dampak Meniru Tradisi Barat

Ada sebagian Muslimah yang menisbatkan nama suami di belakang nama mereka. Kalau ditanya tujuannya apa? Konon katanya sih sebagai bukti cinta dan kasih sayang pada pasangannya. Awww … padahal bukti cinta yang paling nyata itu ada di sini.

Tanpa mereka sadari, membubuhkan nama suami di belakang nama istri, dalam hukum Islam, sangat terlarang. Bahkan bertentangan dengan syariat.

Inilah bahayanya meniru budaya yang bertentangan dengan syariat Islam. Mereka begitu terpukau dengan budaya Barat.

Hukum Menambahkan Nama Suami di Belakang Nama Istri

Ustadz Arifin Badri hafidzahullah dalam salah satu rubrik di konsultasi syariah mengatakan bahwa menambahkan nama suami di belakang nama istri tersebut tidak boleh. Mengapa? Karena itu budaya orang Barat yang menyelisihi aturan nasab dalam Islam.

Hukum Islam sangat jelas, bahwa hanya boleh menambahkan nama ayah di belakang nama laki-laki atau perempuan. Apa tujuannya? Sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.

Bayangkan, seorang ayah yang bersusah payah mencari nafkah halal untuk istri dan anak-anak. Ayah-lah yang menjaga dan melindungi keluarganya. Ia juga dimintai pertanggungjawaban yang amat berat atas keluarganya, tetapi anak-anak perempuannya menisbatkan diri mereka pada para suami. Di manakah letak penghormatan kepada sang ayah?

Ada hadis yang berisi ancaman keras bagi orang yang memilih nasab orang lain daripada nasab ayahnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, Malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang Sunnah”. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Nah, kebiasaan meniru orang kafir ini perlu dihindari. Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang meniru kebiasaan suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka (HR. Abu Dawud, Hasan).

Lalu, bagaimana jika menggunakan panggilan seperti Ibu Ahmad?

Jika hanya sekedar panggilan, misal Aisyah menikah dengan laki-laki bernama Ahmad dan ia dipanggil “Ibu Ahmad”, maka hal ini tidak masalah. Mengapa? Karena tidak mengganti nama orang tuanya. Yang tidak boleh itu jika namanya berubah menjadi “Aisyah Ahmad”.

Hikmah

Bukti cinta itu tidak selamanya harus menambahkan nama suami, kok, dears. Dan bagi para suami, tidak perlu berbangga diri jika istri memakai nama kalian. Mengapa? Karena saat akad nikah, semua orang tahu siapa pasangan kita, jadi tidak perlu ada penisbatan nama kepada suami.

Lagipula, antara suami istri tidak ada hubungan darah, jadi mengapa harus menisbatkan diri pada suami? Bisa jadi, sang suami kelak akan meninggal atau seorang istri bercerai dengan suaminya, istrinya pun akan menikah dengan laki-laki lain. Lalu apakah ia akan terus mengganti nama belakangnya dengan nama setiap lelaki yang menikahinya? Tidak masuk akal, kan?

Nah, jika ada yang mau menikah atau pun yang sudah menikah lalu menambahkan nama suami di belakang nama kalian, mulai sekarang udahan ya. Jangan menambahkan nama suami.

Semoga bermanfaat, ya.

Barakallahu fiik

Referensi:

1. konsultasisyariah[dot]com

2. islamqa[dot]info

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

7 Comments

  1. Alhamdulillah. Semoga Alloh senantiasa memberkahi kita . Aamiin

    Gini Kak, soal contoh Zainab Zein ini, pernah ku baca dari sumber lainnya, itu tidak termasuk ke haram .
    Yang haram itu kan menisbatkanya ya . Mungkin kalau Zainab Binti Zein padahal Zein tidak sedarah dengan Zainab maka itu jelas Haram.

    Apakah betul seperti itu menurut penelusuran Kakak setelah baca komentar ini ?

    Jazakillah khoir

    1. Hehehe pasti gak baca sampai selesai.

      Saya ngasih contohnya adalah Zainab menikah dengan Zein. Lalu Zainab menambah namanya menjadi Zainab Zein, nah ini yang tidak boleh. Tapi berbeda ketika si Zainab dipanggil “Nyonya Zein” karena hanya sekedar panggilan, bukan penisbatan.

      1. hehe. bukan begitu kak, saya perjelas … Kakak kan bilang “Saya ngasih contohnya adalah Zainab menikah dengan Zein. Lalu Zainab menambah namanya menjadi Zainab Zein, nah ini yang tidak boleh” setahuku ini termasuk diperbolehkan, yang bakal jadi tidak boleh adalah Zainab binti Zein ada penggunaan kata Bintinya itu Kak.

        nah bagaimana dengan itu ?

        1. karena Binti berarti menisbatkan atau menganggap bahwa Nama di depan binti misal Zainab ( Zainab binti Zein) adalah anak dari Zein padahal kan bukan.

          kalau Zainab Zein itu gapapa. sama hal dengan Ani Yudhoyono . sumbernya :

          https://islam.nu.or.id/post/read/75432/hukum-pencantuman-nama-suami-di-belakang-nama-istri

          hehe. gppa ya Kak, kita kan diskusi jadi wajar kalau ada perbedaan pendapat, adapun perbedaan ini bukan suatu masalah buat kita, selama ada dalil dan buktinya bisa dipertanggung jawabkan ya kita bisa sama-sama saling menghormati, dan ini namanya toleransi kan. hehe

          Salam literasi Kak

          1. Kalau aku pribadi, meskipun mungkin ada yang mengatakan boleh, maka sebagai bentuk kehati-hatian, tidak mencantumkan nama suami. Toh di buku nikah sudah jelas siapa nama suami kita.

            Kalaupun ada yang mencantumkan, ya silakan. Hanya saja, dikhawatirkan beberapa generasi setelahnya akan menganggap bahwa nama suami fulanah adalah nama ayah fulanah.

            Jadi, kalau ingin lebih berhati-hati, sebaiknya tidak mencantumkan. Itu kalau aku, gak tahu kalau mas Anang 😁

Leave a Comment