bersedekah saat wabah

Sedekah Saat Terjadi Wabah

Sebagaimana kita tahu bahwa dengan bersedekah, berarti seorang Muslim telah membuktikan kejujurannya dalam beragama. Keikhlasan seorang Muslim untuk bersedekah–merelakan sebagian hartanya–tentu bukan perkara mudah. Harta adalah sesuatu yang begitu dicintai manusia. Memberikannya untuk orang lain membutuhkan kejujuran dalam diri sendiri apakah ia rela atau sebaliknya.

Kita pun tahu bahwa keikhlasan menyedekahkan apa yang kita cintai, nilainya sangat tinggi di sisi Allah Ta’ala. Perhatikan ayat ini:

“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai.”

(QS. Ali Imran: 92)

Adapun keutamaan bersedekah … sungguh kita pun telah hafal di luar kepala mengenai hal tersebut. Sebagaimana yang saya tulis dalam Bersedekah pun Harus Dipaksa , setidaknya ada lima keutamaan sedekah, yakni:

  • Sedekah tidak akan mengurangi harta,
  • Sedekah yang dilakukan secara diam-diam akan memadamkan murka Allah,
  • Sedekah bisa menyelamatkan seorang hamba dari siksa api neraka,
  • Malaikat akan mendoakan siapa saja yang gemar bersedekah,
  • Sedekah merupakan amal yang paling utama.

Pertanyaannya, bagaimana jika bersedekah saat terjadi wabah?

Bersedekah saat terjadi wabah

Saat membaca QS. Al-Balad, terutama pada ayat ke-11 sampai dengan ayat ke-14, apa yang terlintas dalam benak kita?

Saya teringat bagaimana suami mengulang surat tersebut setiap kali kami salat berjemaah semenjak terjadi wabah. Kadang, di sela-sela waktu luang membersamai buah hati, suami memberikan pengajaran mengenai tafsir surat tersebut.

Kami memang terbiasa berbincang dan berdiskusi. Tujuannya untuk mendidik si kecil juga sih. Bahkan, ‘Aashim suka sekali dibacakan QS. Al-Fil, hingga dia merengek minta dibelikan burung ababil. 😀

Nah, terkait dengan QS. Al-Balad tadi, perhatikan deh ayat 11 – 14 berikut ini:

Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.

(QS. Al-Balad: 11 – 14)

Kalau kita membaca tafsir QS. Al-Balad ayat 11 – 14 tersebut, kita akan mengetahui bahwa Allah telah memberi segala kenikmatan di dunia, meringankan beban kita dengan harta, dan berbagai hal lainnya. Namun, manusia enggan bersusah payah untuk mendapatkan kebaikan yang lebih banyak di akhirat, padahal untuk meraih surga, seseorang harus berjuang keras, bersusah payah, dan memiliki kesabaran ekstra.

Berbeda dengan meraih neraka, kita tidak perlu bersusah payah. Ingatlah hadis berikut:

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”

(HR. Muslim)

Jalan menuju surga itu terjal. Mendakinya pun membutuhkan perjuangan keras. Tidak ada yang bisa melampauinya kecuali mereka yang benar-benar tulus ikhlas dan niat yang jujur untuk melewati jalanan tersebut.

Lalu pada ayat ke-12, Allah Ta’ala mengajukan pertanyaan, “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” Ini merupakah salah satu cara menarik perhatian dan bentuk pengangungan. Bukankah dalam beberapa surat, Allah juga bertanya dengan kalimat serupa?

Pada ayat tersebut, Allah bertanya rintangan apa saja yang harus dilewati untuk bisa masuk surga? Jawabannya ada dalam ayat ke-13, yaitu memerdekakan budak laki-laki atau perempuan.

Dalam Tafsir Juz ‘Amma, Ustaz Firanda hafizahullah mengatakan, “Islam adalah agama yang menganjurkan pemeluknya untuk membebaskan budak. Jadi, hal ini tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Nasrani bahwa Islam itu agama yang menganjurkan perbudakan.”

Terakhir, pada ayat ke-14, “Atau memberi makan pada hari kelaparan”.

Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, menafsirkan, memberi makan pada hari kelaparan maknanya masa terjadinya kelaparan, karena terkadang manusia tertimpa wabah kelaparan, baik karena sedikitnya hasil pertanian, atau dikarenakan wabah penyakit yang menimpa tubuh mereka.

Wabah kelaparan seperti ini, atau sedikitnya hasil pertanian karena pohon-pohon tidak berbuah, kebun-kebin tani tidak tumbuh sehingga hasilnya pun sedikit dan terjadilah kelaparan, dan orang-orang mati kelaparan, barang kali mereka akan meninggalkan negeri mereka.

Saatnya kita renungkan perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah, “Sungguh sedekah itu memberikan pengaruh yang ajaib dalam mencegah bala, menangkal ‘ain dan juga keburukan hasad. Andaikan itu bukan karena sedekah, sungguh kejadian-kejadian yang terjadi pada umat-umat terdahulu dan sekarang sudah cukup menjadi bukti.”

Ketika terjadi wabah seperti ini, bersedekah mampu menolak bala’ dan meringankan kehidupan saudara kita. Bersedekah saat kita lapang, tentulah gampang dilakukan. Namun, bersedekah di kala sempit, sungguh bukan perkara mudah. Di sinilah tantangannya.

Untuk itulah, selagi masih sehat, paksakan diri untuk bersedekah. Mulai saja dari para kerabat, tetangga, dan teman yang saat terjadi wabah mendadak berjualan. Tidak ada ruginya kok. Satu yang pasti, saat kita bersedekah dalam keadaan seperti ini, Insya Allah pahala yang didapat pun berlipat ganda.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata,

Wahai Rasulullah, sedekah mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat engkau masih sehat, saat engkau takut menjadi fakir, dan saat engkau berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, barulah engkau berkata, ‘Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan.

(Muttafaqun ‘alaih)

Selamat bersedekah dan mendulang pahala.

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: pherrus

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment