Renita Oktavia

I read to write

October 17, 2019

Bermain Peran

Bismillah

🌿🌿🌿

Kau dan aku … sebenarnya tengah bermain peran. Mementaskan adegan demi adegan. Meski tanpa berakhir dengan riuh rendah tepuk tangan.

Kau dan aku … tanpa tersadar semakin kecanduan. Candu memainkan perasaan.

Seperti saat kaudatang menghampiriku kala hujan membelenggu. Kaupeluk erat tubuhku seolah kau benar-benar membutuhkanku. Padahal kutahu, kau sedang melawan rasa kehilangan sosok yang bertanam kasih denganmu.

Lalu ketika kita terlibat dalam percakapan demi percakapan. Bukan. Bukan karena berbincang denganku sangat menyenangkan. Kau hanya sekadar melepas rasa kesepian.

Masih ingatkah kau saat kita bertemu 15 April tahun lalu? Kaukecup keningku, seolah kau tak ingin melepasku. Padahal setelah itu, perpisahan terucap dari bibirmu.

Hingga saat kaukatakan lewat sebuah pesan singkat pagi itu, “Aku rindu.” Kutahu … itu bukan untukku, tapi untuknya yang telah lama meninggalkanmu.

Aku yang terus berpura-pura bahwa aku adalah segalamu. Aku bermain peran dengan mencintaimu teramat dalam. Aku yang tenggelam, mencoba membuatmu lupa bahwa kau sedang pura-pura saja.

Bersamamu, aku begitu menghayati peran yang kumainkan. Hingga kulupa bahwa kelak panggung ini akan membawaku pada kesedihan dan juga … kehilangan.

🌿🌿🌿

Selamat menikmati setiap peran dalam panggung drama kehidupan. Mainkan peranmu meski tiada tepuk tangan di dalamnya.

Ditulis untuk mereka yang meski tahu bagaimana akhir cerita, mereka memutuskan untuk bertahan dan terus berjalan.

Barakallahu fiik.

Photo credit: ottokim

SHARE:
Random Thought One Reply to “Bermain Peran”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

One comment on “Bermain Peran

    Author’s gravatar

    Selamat menikmati setiap peran dalam panggung drama kehidupan. Mainkan peranmu meski tiada tepuk tangan di dalamnya.

    mengingatkan kisah-kisah dahulu yang aku pernah menjadi lakon didalamnya, kadang aku menikmati lakon itu. seringnya… terpaksa kunikmati, seperti pepatah berbahasa sunda “betah ku butuh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *