muslimah bekerja di luar rumah

Benarkah Muslimah Bekerja di Luar Rumah, Berarti Menyalahi Fitrah?

Bismillah

Genderang perang sesama ibu rupanya telah ditabuh kembali. Kali ini menyoroti muslimah yang bekerja di luar rumah. Tidak tanggung-tanggung, konon katanya muslimah yang bekerja di luar rumah, lalu menitipkan sang anak di daycare berarti dia telah menyalahi fitrah. Benarkah?

Mom war semacam ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Sayangnya, perang itu kembali didaur ulang dengan sedikit polesan ‘menyalahi fitrah’. Lebih disayangkan lagi, materi old school yang bikin jengah ini diembuskan kala pandemi melanda seantero negeri, ketika para wanita ‘dipaksa’ keluar rumah karena yen ora obah, ora mamah (kalau tidak bergerak, tidak makan).

Pandemi masih ada. Sebagian orang telah merasa kehilangan segalanya. Pantaskah melukai hati para wanita yang ikut menegakkan perekonomian dengan sebutan, “Hey, kalian, wanita yang bekerja di luar rumah, kalian telah menyalahi fitrah!”

Fatwa Bolehnya Wanita Bekerja

Dalam tulisan saya Muslimah Berbisnis : antara Kewajiban, Adab, Kebutuhan dan Keinginan, telah jelas disebutkan bahwa wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat. Apa dasarnya?

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan:  “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis karena Allah Jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja, dalam firman-Nya: “Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! Maka Allah, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“  (QS. At-Taubah:105).

Perintah ini mencakup pria dan wanita. Allah juga mensyariatkan bisnis kepada semua hamba-Nya. Oleh karena itu, seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar, dan bekerja, baik itu pria maupun wanita.

Allah berfirman (yang artinya):“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian” (QS. An-Nisa:29)”

Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita. Dari sini, jelas wanita bekerja itu diperbolehkan selama tidak melanggar syariat. Itu yang perlu kita garis bawahi.

Syarat Wanita Bekerja

Meski seorang wanita diperbolehkan bekerja, mengembangkan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya, dia tetap harus mematuhi syarat yang ditetapkan syariat.

Apa saja syarat wanita bekerja berdasarkan syariat?

  1. Mendapat izin dari wali atau suami. Jika seorang suami tidak mampu memberi nafkah kepada sang istri, hak memberi izin ini gugur.
  2. Bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiat perempuan, seperti guru, dokter, perawat, penata rias selama tidak melanggar syariat, berdagang, penjahit, penenun, petani, polisi (sebatas pada pekerjaan yang dilakukan wanita), dan sebagainya.
  3. Pekerjaannya harus halal, bukan termasuk perbuatan maksiat dan mencoreng kehormatan keluarga.
  4. Menutup aurat.
  5. Tidak ikhtilat (berduaan dengan laki-laki nonmahram).
  6. Tidak berdandan secara berlebihan.
  7. Tidak membuatnya melalaikan kewajiban dalam rumah tangga, seperti mendidik anak, mengurus suami, dan sebagainya.

Syarat-syarat tersebut tidak untuk membatasi gerak seorang muslimah, tetapi demi menjaga kehormatannya.

Wanita Bekerja = Hanya Memikirkan Dunia?

Dalam mom war seru kali ini, ada salah satu komentar yang begitu mencuri perhatian. Intinya, wanita yang bekerja itu hanya mementingkan dunia. Hahaha. Saya ingin tertawa saat membacanya.

Andai semua orang bisa berpikir realistis. Saya heran dengan sikap sebagian orang. Mereka selalu menginginkan dokter wanita, perawat wanita, guru wanita, semuanya serba wanita untuk anak perempuan mereka. Namun, giliran ada wanita bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan umat, mereka berteriak lantang, “Itu menyalahi fitrah!”

Menyalahi fitrah bagaimana, Ferguso? Menyalahi fitrah itu jika seorang wanita bekerja di luar tabiatnya sebagai wanita! Jika mereka masih bekerja di ranah wanita dan tidak melupakan kewajiban mendidik anak, that’s normal!

Kannn, saya jadi esmosi wkwkwkw.

Saya paling tidak suka dengan pemikiran saklek ala mereka. Seolah Islam itu mengekang perempuan, padahal TIDAK! Sekali lagi, TIDAK! Hal seperti ini yang nantinya akan membuat kaum pembenci Islam makin berpeluang untuk mengolok-olok.

Duhai Ukhti wa Akhi, ketahuilah, mereka yang bekerja di luar rumah itu tidak hanya memikirkan dunia. Selama suami dan mahram mereka rida, selama mereka mampu menjaga aurat, selama mereka bekerja di ranah wanita, kenapa kalian kebakaran jenggot?

Apa yang kalian inginkan? Agar mereka berdiam diri rumah mendidik anak seperti kalian? Tidak tahukah kalian bahwa selepas bekerja, para ibu itu masih memikirkan bagaimana membersamai anak?

Apa yang kalian inginkan?

Mereka memiliki ilmu luar biasa yang dibutuhkan umat ini, lalu jika ada kesempatan untuk mengamalkannya, kenapa kalian halangi?

“Mereka bisa mengamalkannya untuk anak mereka di rumah.”

“Selesaikan dulu urusan domestik, lalu bekerja sosial hingga wafat.”

“Tunggu sampai anak berusia 15 tahun, temani mereka. Setelah itu, silakan berkhidmat untuk umat.”

Begitu jawaban kalian? Oke, lantas bagaimana jika kerabat perempuan kalian hendak melahirkan, tetapi tidak ada dokter dan perawat perempuan? Bukankah menurut kalian, muslimah yang bekerja di luar rumah itu menyalahi fitrah dan mementingkan dunia?

Urusan domestik, bagi seorang ibu dan istri, tidak akan pernah selesai meski telah berkalang tanah!

Anggaplah punya dua anak. Anak pertama telah berusia 15 tahun, lalu anak kedua berusia 10 tahun, berarti sang ibu harus menunggu selama 25 tahun hanya untuk mengabdi pada negeri. Kira-kira berapa usia sang ibu? Woi, mana ada institusi yang mau menerima pegawai perempuan berusia tidak produktif?

“Ya, bikin institusi sendiri.”

Wooo, memangnya semudah itu?

Muslimah di Tengah Wabah

Ketahuilah, hidup ini tidak mudah, terlebih di tengah wabah. Jadi, tolong jangan lagi membuat keributan dan kerumitan untuk saudarimu. Kita tidak sedang berada di dalam kapal yang sama.

Kapal kita berbeda. Kalian, yang berpendapat muslimah pekerja berarti menyalahi fitrah, hidup di dalam kapal mewah. Kalian tak perlu berpeluh hanya demi menyantap sesendok nasi.

Adapun saudari kalian yang berada di perahu kecil, harus berjuang sekuat tenaga agar tidak tenggelam di tengah badai ketidakpastian. Mereka melakukan segala yang mereka bisa.

Ketahuilah, andai mereka bisa memilih, mereka pun tak ingin keluar rumah. Akan tetapi, sekali lagi, keadaan memaksa mereka demikian. Kalau kalian menghendaki seluruh muslimah di dunia ini berada di rumah, tolong beri jaminan bahwa suami-suami mereka telah memberikan penghidupan yang layak! Jangan asal menghakimi muslimah bekerja, tetapi kalian lupa bagaimana menasihati kaum lelaki!

Tidak bisakah kalian menahan lisan agar tidak menyakiti saudarimu? Beban mereka sungguh berat, kalian tidak mengetahuinya karena memang mereka pandai menyembunyikan duka. Jangan menghakimi sebelum kalian merasakan apa yang mereka rasakan!

Walk a mile on their shoes!

Kalian bilang kalian manusia paling beriman, tetapi mengapa miskin empati dan perasaan? Bukankah keadaan tiap orang berbeda? Sungguh,mulut kalian lancang. Merasa paling baik hingga lupa bahwa setan pun dulunya demikian.

Berhenti menyalahkan muslimah yang bekerja di luar rumah. Berhenti menghakimi. Jangan menambah beban kami karena di luar itu semua, sesungguhnya beban yang harus kami pikul teramat berat.

Kesimpulan

Muslimah bekerja di luar rumah, lalu menitipkan anak di daycare, bukan berarti dia menyalahi fitrah. Selama dia tidak melanggar syariat dan tidak menelantarkan pendidikan anak, kenapa tidak?

Keadaan setiap orang berbeda. Sebaiknya kita tidak mudah menghakimi begitu saja. It takes two tango, selalu ada alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu.

Barakallahu fiikum.

Diolah dari berbagai sumber.

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

Leave a Comment