Lima Prinsip Dasar Parenting Islami yang Wajib Orang Tua Ketahui

Bismillah

Menurut Anda, apa hadiah terbaik dari orang tua yang pantas diterima seorang anak? Mainan mewahkah? Liburan keliling dunia? Atau belajar di sekolah paling mahal? Ternyata, semua itu tidak ada artinya. Lalu, apa, dong, hadiah terindah tersebut? Mendidik anak sesuai dengan fitrahnya merupakan kado terbaik dari orang tua untuk buah hati tercinta.

Siapa yang tidak ingin memiliki anak saleh dan salihah? Semua orang tua mengupayakan berbagai hal agar bisa mewujudkan harapannya. Namun, sebelum menerapkan upaya tersebut, kita perlu meningkatkan kualitas diri lebih dahulu. Salah satunya dengan mengikuti teori parenting.

Seiring perkembangan zaman, kita bisa mengakses banyak teori parenting. Tidak mengherankan jika sebagian orang tua merasa kesulitan menerapkan teori parenting yang pas untuk putra putrinya.

Anak merupakan amanah yang diberikan Allah Ta’ala. Mendidiknya dengan baik adalah kewajiban. Terlebih lagi, anak merupakan investasi akhirat yang kelak bermanfaat.  Berikut ini lima prinsip dasar parenting Islami yang harus diketahui orang tua:

1. Anak Terlahir di Atas Fitrah

Dalam teori atribusi psikologi disebutkan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh dua hal, yakni faktor dari dalam diri mereka sendiri dan faktor lingkungan sosial individu. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan dalam sabda beliau bahwa seorang anak itu terlahir dalam keadaan fitrah, tidak berdosa, dan apa pun yang ia lakukan tidak dipengaruhi oleh apa yang ada di dirinya.

Dengan demikian, ketika seorang anak melakukan perbuatan yang kurang baik, ia hanya meniru apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan dari lingkungan sekitar.

2. Orang Tua Menjadi Teladan Bagi Anak

Saat anak belum baligh, mereka masih belajar tentang konsep baik dan buruk. Orang tualah yang bertanggung jawab mendidik dan memberitahu anak untuk memilih teman yang baik.

Jika anak dibiarkan tanpa ada bimbingan dari orang tua, anak akan meniru apa pun yang ia temui. Untuk itulah, orang tua wajib menjadi teladan terbaik bagi buah hatinya.

3. Mendidik Anak dengan Kasih Sayang

Salah satu ciri pemimpin berkualitas adalah ia menyayangi orang-orang yang ada dalam tanggung jawabnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammerupakan teladan terbaik sepanjang zaman.

Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiarkan anak kecil bermain di punggungnya ketika beliau bersujud. Beliau tahu bahwa memang demikianlah anak-anak, bermain adalah kesukaan mereka. Kasih sayang dan sentuhan fisik tidak seharusnya hilang setelah anak dewasa, tentunya dengan batasan yang kita terapkan.

4. Memberi Batasan kepada Anak

Tanpa batasan dan aturan yang jelas, tentu akan terjadi kerusakan dalam masyarakat. Anak-anak membutuhkan batasan untuk mengontrol tindakan mereka.

Jika anak-anak tidak diberitahu mana batasan yang tidak boleh dilanggar, ia akan terus ‘menguji’ kita dengan segala tingkahnya. Tujuannya tentu saja untuk melihat apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Berbeda dengan anak yang sejak dini diajarkan adab dan batasan, ia akan bersikap sesuai dengan koridor syariat.

5. Mengajarkan Anak untuk Belajar Bertanggung Jawab

Mengajarkan anak belajar bertanggung jawab bisa dimulai sejak mereka masih kecil. Beri mereka kepercayaan untuk melakukan sesuatu agar kelak ketika mereka dewasa, tidak merasa kaget.

Kita bisa memulainya dengan hal-hal sederhana, seperti meminta anak membuang sampah di tempat sampah, mencuci piring, membersihkan tempat tidur, dan sebagainya. Seiring bertambahnya usia, beri mereka tanggung jawab yang lebih besar.

Itu dia lima prinsip dasar parenting Islami. Tentu akan menjadi lebih mudah jika kita bisa menerapkannya sejak dini.

Barakallahu fiikum.

Tulisan ini pernah dimuat di Makmood Publishing tanggal 8 Januari 2020.

About The Author


Renita Oktavia

A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. An editor. Also a contributor on Estrilook, Takaitu, Makmood Publishing, and Joeragan Artikel. For business inquiries, you can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

3 Comments

  1. Kadang aku lupa menempatkan anak yang lahir dalam keadaan fitrah itu. Kadang melarang ini itu padahal fitrahnya memang suka bereksplorasi. Reminder banget buatku ini. Terimakasih artikelnya mba

  2. Bagus Mbak pembahasannya. Sering kali memang kita dibuat pusing sama banyaknya teori parenting dan kadang-kadang antara teori yang satu dan yang lainnya ada pertentangan.

    Kalau teori yang ini natural banget. Aku suka. Mudah juga dipraktekkannya asalkan telaten.

  3. Masyaallah, enak sekali tulisannya dibaca, tidak mengurui dan benar-benar langsung membuka mataku yang baru punya satu anak saja rasanya sudah banyak mengeluh 🙁
    makasih mba pencerahannya 🙂

Leave a Comment