Renita Oktavia

I read so I write

November 21, 2019

Meronce Blog Niche

Bismillah

Bagi sebagian orang, menulis blog bukanlah perkara mudah. Terlebih jika harus memutuskan kira-kira blog niche seperti apa yang hendak diusung. Atau bisa juga, blog niche sudah ditentukan, tetapi tidak tahu bagaimana kelanjutannya.

Memilih blog niche yang tepat memang gampang-gampang susah. Selaksa blog niche mungkin berjejalan di kepala. Namun, tak jarang, memunculkan satu ide saja, susahnya bukan kepalang.

Memulai Blogging

Saya mengenal dunia blogging ketika duduk di bangku kuliah, tepatnya delapan belas tahun silam. Saat itu, saya merasa penat dengan perkuliahan, hingga tanpa sengaja saya membaca sebuah artikel di majalah Intisari tentang blogging.

Didorong oleh rasa penasaran, saya mencoba membuat blog. Jangan tanya bagaimana saya mengisinya kala itu, yang jelas, blog saya tak ubahnya seperti digital diary seorang mahasiswi.

Kalau tidak salah ingat, saya menamai blog saya dengan Diary of Renita. Di situ saya menuliskan kegiatan saya sebagai mahasiswi dibumbui dengan beberapa tulisan berbahasa Inggris.

Mengapa tulisan berbahasa Inggris? Ya, karena saya mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Lucu kan kalau setiap hari berkutat dengan bahasa Inggris, tetapi tidak mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan?

Dari dunia blogging pula, saya mengenal beberapa rekan yang akhirnya merasa dekat karena satu kesamaan.

Jika ditanya apakah saya tergabung dalam komunitas blogger kala itu? Jawaban saya, tidak. Saya belum begitu paham berkomunitas. Yang saya pahami hanyalah saya suka blogwalking danbertukar pikiran dengan sesama blogger.

Mulai Memilih Blog Niche

Kesibukan menjalani skripsi, sembari bekerja sebagai guru les dan penerjemah di rental komputer, membuat saya tak mampu lagi menulis setiap kegiatan di blog. Perlahan, blog saya mati suri. Saya pun telah lupa bagaimana cara kembali ‘pulang’ ke rumah virtual saya.

Tahun berganti hingga akhirnya saya tak lagi sendiri. Ya, saya memutuskan untuk hijrah dan menikah.

Kehidupan pernikahan membuat diri saya jauh berbeda. Terlebih ketika saya harus resign lalu mengikuti suami pindah kerja ke tempat baru. Saya pun mulai belajar agama dengan mengikuti beberapa taklim.

Berkutat dengan buku catatan taklim, saya sempat berpikir untuk mengabadikannya. Rasanya sayang jika ilmu itu harus saya pendam sendiri, mengapa saya tidak membagikannya untuk orang lain?

Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis ulang apa yang telah saya dapatkan. Di mana? Tentu saja, di blog.

Blog kedua saya pun ‘lahir’. Saya memberinya nama Pendidikan Wanita. Mengapa? Karena seorang wanita harus tahu bagaimana agamanya. Bukankah ia akan menjadi seorang ibu yang harus mengajar anak-anaknya?

Blog Berbasis Dakwah dan Bahasa Inggris

Kalau saya ditanya, “Apa sih blog niche-mu?”, maka jawaban saya adalah dakwah  based blog combined with learning English for Indonesians.

Mengapa saya memilih niche tersebut? Sederhana saja, saya ingin tulisan saya menjadi ‘umur kedua’ bagi diri saya.

Ada yang bertanya, “Apa maksudnya ‘umur kedua?”

Bukankah kita tahu bahwa jasad para ulama telah terkubur, tetapi karya mereka bertahan sampai lebih dari 1100 tahun? Saya ingin terus ‘hidup’ meski jantung saya tak lagi berdegup.

Saya ingin bisa memberi manfaat bagi orang lain. Tulisan-tulisan bertema Islami di blog ini, ditulis bukan tanpa alasan. Saya paham bahwa tidak semua orang suka belajar agama. Untuk itulah, saya ingin membuat tulisan yang ketika orang membacanya, ia telah (tanpa sadar) belajar agama.

Bagaimana dengan bahasa Inggris? Sebagai seorang guru bahasa Inggris yang tak lagi berkutat dengan dunia pendidikan, saya tidak ingin kehilangan kemampuan saya. Lewat menulis-lah, saya ingin mengabadikan apa yang telah saya peroleh dari English Speaking Group. Dengan kata lain, I learn by writing.

***

Tidak mudah menulis tentang dakwah. Meski blog niche seperti ini jarang dilirik para blogger, saya terus meyakini bahwa tidak ada yang sia-sia ketika kita menulis apa yang kita suka.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: unsplash.com

SHARE:
Random Thought 3 Replies to “Meronce Blog Niche”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

3 thoughts on “Meronce Blog Niche

    Author’s gravatar

    Masya Allah. jadi ingat Imam At Thabari yang katanya setiap hari menulis 40 lembar. dan sudah membukukan banyak ilmu karena tulisannya itu. dan betul kata Bu Ren, meski Imam At Thabari sudah ratusan tahun meninggalkan dunia, tapi karya beliau masih hidup sampai sekarang. sama hal dengan ulama-ulama lainnya.

    Author’s gravatar

    Saya juga kuliah jurusan bahasa Inggris. Sastra Inggris. Tapi, baru mulai nulis blog rajin sejak ikut odop. Termasuk membaca tulisan mbak.. terima kasih

    Author’s gravatar

    wah super sekali, semoga tetap konsisten yaaa, semangat bermanfaat 🙂

    blognya rapi dan enak dibaca 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *