Renita Oktavia

I read so I write

November 3, 2019

Sewindu

Bismillah

PART 6 DULU, KINI, DAN NANTI

Opening ada di sini.

Part 1 bisa dibaca di sini.

Part 2 bolehlah dibaca di sini.

Part 3 di sini.

Part 4 tengoklah di sini.

Part 5 silakan dibaca di sini.

🍂🍂🍂

Namaku Ardian Bramantya.

Lelaki yang dipilih Rara dalam lipatan masa. Rara pasti sering menyebutku dalam tulisannya, kan?

Pertemuan pertamaku dengannya, bagiku, sangat istimewa. Tak ada yang lebih membahagiakan selain bisa berdekatan dengan Rara, kekasihku. Berdua kami mengurai segenap rasa lewat sepucuk surat. Ya, aku sering mengiriminya surat setiap bulan. Lalu di akhir pekan, aku akan membuat kejutan dengan meneleponnya di kontrakan.

Entahlah, benih-benih cinta itu tumbuh begitu saja. Aku merekam dengan mataku bagaimana Raraku tertawa, berjalan, dan bertutur kata. Bertongkat tebu dengannya kala itu, sungguh tak kan kulupa.

Sampai akhirnya, di satu waktu, ia mengatakan bahwa ia hanya menganggapku sebagai kakak dan sahabat. Rara sudah menceritakannya di sini, kan?

Kusembunyikan luka demi luka agar aku tak kehilangan dirinya. Tidak. Aku tidak sanggup kehilangan Rara, maka sungguh tak mengapa jika ia hanya menganggapku sekadarnya.

Bahkan saat aku memilih Sonia, hanya wajah Rara yang terus menggoda. Rasanya ada sesuatu yang membuncah, sesuatu yang membuatku ingin merengkuhnya.

Aku tahu Rara terluka, lebih tepatnya sangat terluka, karenaku. Aku kehilangan dia. Dan aku gila … aku gila karena tak mampu mendengar kabar darinya, aku gila karena aku merindukannya.

***

Mas, ini aku, Rara.”

Setelah sekian lama, aku bisa mendengar suaranya. Aku hampir melompat kegirangan karenanya.

Tanpa membuang waktu, kuakui semua perasaanku saat ia menanyakan apakah aku mencintainya. Kehilangannya justru membuat rasa cintaku bertambah besar untuknya.

Rara, maafkan aku. Engkau masih saja mencintaiku meski kau tahu aku tak bisa bersamamu kala itu.

Purnama berganti dan Raraku masih sendiri. Hingga saat Sonia harus pergi, aku benar-benar depresi. Aku tak mampu berpikir lagi. Namun, bayangan Rara berkelebat. Hanya dia yang mampu memahami diri ini.

Senja itu, aku menemuinya. Ah, wajah ayunya tak pernah berubah, masih sama seperti saat aku pertama kali menemuinya. Kau tahu? Ia selalu berpikir bahwa aku tidak mencintainya hanya karena ia merasa tak cantik dan postur tubuhnya yang mungil tak menarik. Ah, justru karena itulah, dia sangat menawan, membuat hatiku tertawan tak karuan.

Menatap netra Rara membuatku candu. Pijar hangat di dalamnya seolah memberiku harapan baru. Itulah sebabnya, setiap kali ia berbicara, aku menatap matanya lekat. Lama.

Rasanya sungguh melegakan saat kukatakan padanya aku ingin pulang.

“Oh, baiklah.” Itu yang ia katakan sembari bersiap-siap membawa tas kecilnya.

Ah, Rara. Dia memang sepolos itu. Sangat menggemaskan. Padahal di hatinyalah, aku ingin pulang, merenda asa, menyulam bahagia.

***

15 April 2010

Hari pernikahanku dengan Rara. Dia terlihat sangat memesona. Aku bisa membaca gurat kegundahan di wajahnya. Ya, karena memang ini pertama kali baginya.

Rara … wanita yang entah hatinya terbuat dari apa. Dadaku selalu berdesir kala mengingatnya. Darinya aku belajar bahwa perpisahan hanyalah jeda untuk menyatukan cinta.

Aku mencintainya. Dalam setiap tetes air mata yang tumpah hanya untuknya.

Aku mencintainya. Singgah di lain hati, tapi tetap saja seperti masih berlari, seperti ada yang belum usai.

Aku mencintainya. Sahabat yang menjadi belahan jiwa.

***

2011

Rara terlihat berubah. Ia mulai lupa pada hal-hal kecil yang sering ia lakukan setiap harinya. Seperti ketika ia menaruh ponselnya di dalam kulkas, meracik garam di dalam kopiku, mood swing yang berubah drastis, dan beberapa hal ganjil lainnya.

Ia juga sering mengulang cerita yang sama setiap harinya. Aku pun memutuskan untuk membawanya berobat. Diagnosa dokter benar-benar menohok. Rara terkena Alzheimer, sesuatu yang sama sekali tak kusadari.

Semuanya begitu mengejutkan. Menyesakkan dada. Terlebih ketika ia harus kehilangan kedua orang tuanya. Dia terlihat lebih sering murung dan tidak mengenaliku lagi. Baginya, Ardian yang ia kenal adalah Ardian di awal perkenalan. Kenyataan yang sangat pahit dan memanaskan mataku.

***

2019

Sewindu … waktu yang cukup panjang yang menguras hati dan perasaanku. Dia pun menginginkan kembali ke rumah orang tuanya. Rara sudah cerita di sini juga, kan? Jangan berpikir kalau aku tak menemaninya. Bagaimana mungkin kubiarkan ia pergi sendirian?

April 2019 … Rara semakin memburuk. Pada stadium lanjut, keadaannya benar-benar membuat dadaku sesak. Rara, istriku, hanya mampu terbaring di tempat tidur. Aku harus menyaksikan wanita terkasihku semakin rapuh. Ia bahkan tak mampu lagi menelan makanan sehingga paru-parunya terinfeksi. Perawatan terbaik pun tak mampu membantunya pulih. Aku terus mencoba meyakini bahwa mungkin inilah saatnya ia pergi.

Terbayang bagaimana wajah tirusnya, tubuh mungilnya yang semakin kurus, dan rambutnya yang setiap hari kusisir. Mataku kerap kali memanas dan berkaca-kaca ketika melakukannya. Selalu ada cinta meruah untuknya. Untuk semua derita dan kepahitan yang ia tanggung selama hidupnya.

Hingga senja itu datang dan aku harus merelakan kepergiannya, meski aku berharap ia mampu bertahan sebentar saja.

Senja hampir tenggelam dan aku tidak pernah lelah menanti Rara menempelkan pipinya yang lembut dan berkata, “Aku mencintaimu, dulu, kini, dan nanti.”

Aku hanya perlu menyambut uluran tangannya, kan? Sosok wanita yang kucintai tanpa tepi. Aku telah menepati janjiku, menghabiskan sisa hidupku bersama Rara, wanita yang kukenal lewat percakapan dunia maya.

End.

🍃🍃🍃

Ditulis untuk memenuhi tantangan pekan ke-8 ODOP yaitu membuat lima episode cerita bersambung.

Barakallahu fiikum

Photo credit: pinterest

SHARE:
Random Thought 16 Replies to “Sewindu”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

16 thoughts on “Sewindu

    Author’s gravatar

    sebentar…
    kok dadaku sesak ya, padahal tak ada riwayat asma di catatan medisku. oh ya? ada yang mengekstrak irisan bawang kah di blog ini? loh kok, tiba ada yang mancing tangis keluar. hehehe

    Dudududu Bu Ren ini cakap sekali sih…
    di part ke 6 ini sudah kuduga kalau Rara akan hilang, meninggal. soalnya yang nutup adalah Adrian, suaminya.
    andai saja cerita ini bisa lebih lama di koyak, menggali moment-moment bahagia yang lebih dalam antara Rara dan Adrian, mungkin akhirnya lebih menyayat.

    Eh, segini saja sudah cukup menghayat, apalagi kalau ditambah lagi ya.

    untuk permainan Alurnya 10+ Buat BuRen. mantaaapo. Barokalloh

    Author’s gravatar

    Makasih, Pak. Memang kurang panjang ini, author-nya udah keburu pengen nyelesein tantangan wkwkwkw. Ntar Insya Allah kalau jadi novel, akan digali lebih dalam, 😁

    Author’s gravatar

    Bener-bener ujian rumah tangga. Apakah masih tetap setia atau pilih pergi jika pasangan terkena alzheimer di usia muda, saat seharusnya tengah asyik membangun keluarga.

    Author’s gravatar

    Duh ceritanya sedih yaa …
    Berhubung baca langsung bab 6 jadi gak tau proses kena Alzheimer dalam 11 tahun.

    Author’s gravatar

    Rara bikin aku sedih. Ini benar-benar ujian rumah tangga yang sulit.

    Author’s gravatar

    Kalimat favoritku, nih…. Perpisahan hanyalah jeda untuk menyatukan cinta….

    Author’s gravatar

    Ya Alloh sedih amat mba padahal baru aja baca part ini 🙁 Alzheimer memang bikin orang terdekatnya justru yang sakit dilupakan begitu 🙁

    Author’s gravatar

    MasyaAllah risetnya pasti telaten banget, ya. Membuat novel tema begini luar biasa. Sukses dg novelnya, Mbak 💖

    Author’s gravatar

    Keren, udh lma bgt nggak pernah baca fiksi kyk gini. Ceritanya dalam.

    Author’s gravatar

    Duh ceritanya bikin sedih tuh. Seandainya lebih panjang lagi pastilah lebih asyik. Tapi apapun itu saya salut sama kepiawaian mbak menulis fiksi.

    Author’s gravatar

    Endingnya sedih banget mbaaak. Tapi keren cerbungnya. Saya selalu salut dengan mereka yang pintar meracik kata membikin cerita fiksi.

    Author’s gravatar

    Wah, pas baca pas bagian terakhir. Duh, terharu dengan kesetiaan Adrian mendampingi dan mencintai Rara.

    Author’s gravatar

    Padahal baru baca part ini saja, belum baca part-part awal tapi kok aku udah ikutan nyesek yaaa…. menghanyutkan.. aaahhhhh gimana kalo aku baca semua partnya? bisa nangis bombay deh aku… huhuhuu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *