November 3, 2019

Mengenal Retno Jumirah, Penulis Di Atas Sajadah Merah

Bismillah

Tantangan ODOP (One Day One Post) telah memasuki pekan kedelapan. Itu artinya, para peserta bersiap-siap merayakan kelulusan. Namun, bisa juga kegagalan, jika tak mampu bertahan.

Siapa bilang mengikuti ODOP hanya tentang bahagia? Penat, jenuh, bosan, dan rasa ingin menyerah, tentu tak mau enyah. Begitu pun diri ini. Sempat merasa penat hingga semua ide rasanya tersumbat. Tapi menyerah … tentu saja tidak mudah. Delapan pekan bukanlah waktu yang singkat. Segenap energi, waktu, dan pikiran telah terhisap, lalu jika menyerah? Alamak, sia-sia sudah.

Pekan kedelapan ODOP ditutup dengan dua tantangan sekaligus. Bak pelari marathon, saya menyiapkan berbagai jurus. Tidak mudah lho menulis cerita bersambung sebanyak lima episode lalu berlanjut dengan menulis biografi rekan lain.

Bingung hendak menulis biografi siapa, tiba-tiba seorang kawan mengirim private message di WA. Kami bercakap-cakap hingga sampailah obrolan kami tentang tantangan pekan kedelapan ODOP. Ya, alhamdulillah kami berada dalam satu gerbong yang sama, Komunitas ODOP. Yang lebih mengejutkan adalah ternyata kami pernah sebuku dalam Kubiarkan Kau Terus Bercerita. Akhirnya kami sepakat menuliskan biografi satu sama lain.

Sang Penulis Di Atas Sajadah Merah

Namanya Retno Jumirah. Gadis manis yang bulan ini Insya Allah merayakan hari lahirnya, adalah seorang pendidik di salah satu SMP IT di Kalimantan Selatan. Pemilik blog “Perjuangan Baru” juga menceritakan bagaimana ia menghabiskan hari-harinya.

Kesenangannya dalam dunia literasi membuat Retno mengikuti berbagai kelas menulis online. Sebut saja KMO Indonesia Menulis. Siapa yang tak kenal komunitas menulis terbesar tersebut? Pencinta literasi tentu akan memahami betapa KMO adalah salah satu tempat aktualisasi diri.

Tak hanya puas berada di KMO Indonesia Menulis, Retno juga memilih bergabung dengan kelas menulis online Grup Rumpi Menulis. Yang tak kalah menarik adalah di sela-sela kesibukannya berkutat dengan mengajar, ia kini mengikuti 30 hari menulis bersama Nulis Keroyokan di Gerbong Aksara.

Berkomunitas memang telah menjadi suatu keharusan bagi seorang penulis. Berkomunitas akan membuat seorang penulis terlihat jauh lebih berkualitas. Dan Retno telah membuktikannya. Ya, lihat saja beberapa buku antologi yang telah berhasil ia terbitkan.

Menulis Antologi

Bagi seorang penulis, memiliki buku yang berisi karyanya adalah suatu kebanggaan tersendiri. Demikian pula dengan Retno. Simak saja beberapa antologinya berikut ini:

1. Di Atas Sajadah Merah (Seniman Publisher, 2018)

2. Tanah Airku (TMH publishing, 2019)

3. Kubiarkan Kau Terus Bercerita (Onepeach Media, 2019)

4. Dim Perjuangan (Simpel Publisher, 2019)

5. Kolaborasi Aksara (dalam proses terbit)

Motivasi Berkarya

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang memiliki motivasi tersendiri dalam menjalani kehidupan. Halnya dengan Retno Jumirah. Salah satu kutipan yang mencambuknya untuk terus berkarya adalah:

“Saat berkarya, tak mengenal latar belakang seseorang, walau kadang terlihat tak berharga di mata orang lain.”

– Retno Jumirah

Sesuatu yang sangat menohok, bukan? Kita mungkin tak memiliki value di hadapan khalayak, tapi bukan berarti kita harus berhenti berkarya dan berprestasi, kan?

Ah, satu lagi. Jangan pernah merutuki diri sendiri, sehebat apapun orang lain di luar sana dan serendah apapun kita bagi dunia, kita tetap istimewa di mata orang-orang tercinta. Sebuah pelajaran penting bagi kita semua.

Ingin tahu bagaimana tulisan Mbak Retno yang memikat itu? Silakan follow media sosialnya di:

Facebook: Reira ya Rj

Instagram: retno_rj

🍃🍃🍃

Untuk Mbak Retno, sukses selalu dalam menjalani setiap episode kehidupan. Semoga Allah Ta’ala memudahkan segala urusanmu di dunia dan akhirat. Aamiin Allahumma Aamiin.

Barakallahu fiikum.

Photo credit: IG pribadi Retno Jumirah

SHARE:
Random Thought 0 Replies to “Mengenal Retno Jumirah, Penulis Di Atas Sajadah Merah”