November 2, 2019

Sewindu

Bismillah

PART 5 SAAT TERBUNCANG

Opening ada di sini.

Part 1 bisa dibaca di sini.

Part 2 bolehlah dibaca di sini.

Part 3 di sini.

Part 4 tengoklah di sini.

πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Apa yang akan kau lakukan saat kau terbangun dari tidur dan menemukan cindur matamu terlelap dalam dekapan? Bahagiakah? Ah, apakah perlu tertawa untuk bahagia yang meledakkan jantung dalam tubuh? Sedangkan air mata sudah lebih dari gema jerit histeria.

Ada satu yang kusuka saat terbangun di pagi buta, yakni menatap hangat kedua netranya yang penuh pijar cinta. Kusempurnakan itu semua dengan dua cangkir kopi hangat di tangan kami berdua.

Mmm … aku juga menyukai sentuhan kecil bibirnya di keningku. Lalu harum tubuhnya menyelusup masuk penciumanku saat ia merengkuhku. Ya, ritual pagi yang selalu kami nikmati bersama.

Hey, aku sengaja membiarkan sinar hangat mentari menerobos kamar kami. Berdua menatap embun yang jatuh di dedaunan, kemudian menyesap kopi yang aromanya menguar memenuhi ruangan.

Kuberi tahu satu hal. Meski terkadang aku terlihat dewasa pada saat-saat tak terduga, aku bisa begitu manja di hadapannya. Aku akan duduk di pangkuannya kala ia berkutat dengan kertas di atas meja kerja. Atau sesekali mengecup lembut bingkai bibirnya lalu saat ia hendak membalas, aku berlari menghindarinya. Kami akan tertawa, kemudian berpelukan.

Aku tak kan melepasmu.

Aku ingin menua bersamamu.

Berdua menghabiskan sisa umurku.

Hanya untukmu.

Itu yang kubaca setiap kali mas Ardian merengkuhku.

***

Sore itu, aku kebingungan mencari ponselku. Aku berjalan ke sana kemari mencarinya.

“Kau nyari apa, Sayang,” tanyanya keheranan.

Didera rasa panik luar biasa, aku tak mampu berkata-kata. Kupegangi kepalaku sambil mengatur aksara.

“Kamu kenapa, Ra?” Ia terus memandangku. Dituntunnya aku ke sofa. Sesaat kemudian ia bawakan segelas air mineral di meja.

“Minumlah,” pinta mas Ardian. Aku menuruti kata-katanya. Ia lantas bersimpuh di kakiku, memegang erat jemariku.

“Kamu kenapa?” Sekali lagi ia bertanya sambil mencium tanganku.

Entahlah. Aku seperti bukan diriku. Beberapa hari terakhir, aku sering merasa tak mampu melakukan aktivitas keseharianku. Bahkan terkadang aku tak tahu jalan pulang saat berbelanja sendiri ke supermarket. Aneh, kan?

“Mas tahu di mana ponselku?” Aku mulai bisa menguasai diri.

Mas Ardian mencoba menghubungi ponselku. Tersambung. Ia mencarinya di setiap sudut rumah. Nihil.

“Mas gimana sih? Kalau ponselku hilang, aku tidak bisa menulis dan mengirim email. Ada tenggat yang harus kuselesaikan, Mas!” Aku murka. Suasana hatiku berubah. Aku menjadi sangat membenci suamiku. Aku mendengus, meninggalkannya sendiri di ruang makan.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur di kamarku. Aku menangis sejadinya. Tiba-tiba mas Ardian memelukku dari belakang.

“Maafkan aku, Sayang. Aku baru saja menemukan ponselmu di dalam kulkas,” tuturnya sambil mengecup pipiku. Kubalikkan badan dan kuraih ponsel yang ia genggam.

“Kok bisa di dalam kulkas, Mas?” tanyaku penasaran.

“Kamu lupa menaruhnya di sana, Sayang,” tegasnya.

Sejak saat itu, entah mengapa aku harus rutin memeriksakan diri ke dokter. Mas Ardian selalu menolak berterus terang setiap kali kutanya ada apa dengan diriku. Anehnya, aku harus selalu meminum obat.

“Kamu baik-baik saja, Ra. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu hanya perlu istirahat dan mengurangi kegiatanmu yang padat,” ungkapnya, lagi-lagi ia memelukku.

Terkadang aku merasa bersalah pada suamiku. Setiap saat, ia benar-benar harus menjagaku. Tak jemu ia mengingatkan ketika aku memakai baju yang sungguh sangat tidak enak dipandang mata. Atau ketika aku salah memasukkan garam ke dalam kopinya.

Suamiku tak pernah sekali pun mengeluh saat aku mengulang cerita yang sama setiap kami bercakap. Ia akan selalu mendengarkan lalu membenamkanku dalam pelukannya yang hangat.

***

Kring … Kring … ponselku berdering. Nomor adikku terpampang di sana. Kuangkat.

“Assalamu’alaikum. Ya, Arumi. Ada apa?” tanyaku singkat karena memang aku baru saja meminum obat.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah, Kak.” Kudengar isak tangis di seberang sana.

“Kamu kenapa, Arumi? Apa yang terjadi?” cecarku. Kepanikan menjalar di tubuhku.

“Ayah dan Ibu, Kak ….” Arumi terus menangis. Kulihat Mas Ardian mendekat dan duduk di sampingku.

“Iya, Ayah dan Ibu kenapa?” sergahku. Perasaanku tak enak. Kugenggam erat jemari mas Ardian.

“Mereka qadarullah meninggal, Kak. Tadi ibu tiba-tiba saja jatuh di kamar mandi. Ibu tak tertolong dan Ayah … begitu tahu ibu meninggal, penyakit jantungnya kambuh. Ayah sempat dirawat, tapi Ayah tak mampu bertahan, Kak.” Tangisnya masih bisa kudengar.

“Innalillahi wa inna’ilaihi rojiuun.” Mataku memanas. Dadaku sesak. Duniaku terasa berhenti berputar.

Apakah perlu air mata untuk menangisi sesuatu yang mengiris, menusuk, dan melumatkan hati? Sedangkan diam sudah lebih dari lolongan panjang menyayat.

Apakah perlu membuka suara untuk mengatakan apa yang terpendam? Sedangkan tubuh telah lebih dari kata-kata, kalimat-kalimat berlaksa aksara penuh makna.

To be continued ….

πŸƒπŸƒπŸƒ

Ditulis untuk memenuhi tantangan pekan ke-8 ODOP yaitu membuat lima episode cerita bersambung.

Barakallahu fiikum

Photo credit: petslady[dot]com

SHARE:
Random Thought 0 Replies to “Sewindu”