Oktober 31, 2019

Sewindu

Bismillah

PART 2 SEBUAH RAHASIA

Cerita sebelumnya di sini

Jangan menatap matanya, Rara. Jangan. Sebab engkau akan menemukan duka bercampur cinta di dalam sana.

Kutata kembali kursi yang tadi sempat kuhentak. Derit suaranya hampir-hampir memekakkan telinga. Beberapa orang nampak memandang ke arahku penuh tanda tanya. Ah, peduli amat.

Lelaki itu melepaskan ikatan tangannya.

“Sonia … Sonia telah lama berpulang, Ra.” Suaranya terdengar serak seperti menahan sesuatu di dalamnya.

Kualihkan pandangan ke arahnya.

“Innalillahi wa inna’ilaihi rojiun. You must be kidding,” ucapku setengah tak percaya.

Why should I?” Sorot matanya mengisyaratkan luka. Kami terdiam. Otakku tak mampu menyusun kata.

Sonia … haruskah aku bahagia mendengarnya? Sedangkan kepergianmu membuat lelaki yang kucinta teramat terluka.

Bayangan beberapa tahun silam saat aku bercakap dengan Sonia, wanita paling beruntung yang berhasil memenangkan cinta Ardian, berkelebat. Ya, ia memintaku bertemu dengannya.

***

“Namaku, Sonia,” katanya sambil mengulurkan tangan waktu itu.

Kau pernah melihat Farahanim Razak, selebgram dari negeri Jiran? Kira-kira seperti itulah wajah Sonia dan pilihan berbusananya. Hanya saja, Sonia lebih menyukai jilbab lebar hingga jantung lelaki mana pun yang melihatnya, akan berdebar.

Keadaan yang kontras sekali denganku. Gaya kasual dengan celana jeans dan jilbab modis membuatku terlihat boyish. Pantas saja, Ardian tak menjatuhkan pilihan padaku. Seleranya teramat tinggi.

Aku balas uluran tangannya. “Rara,” kataku singkat. Kupaksakan senyuman meski aku hampir sekarat melihatnya.

To the point saja, ya, Ra,” ucapnya.

“Memang ada apa, Mbak?” selidikku.

Wanita itu tampak menghela napas dalam-dalam.

“Mas Ardian pernah menceritakan semua tentangmu kepadaku. Ia bahkan masih menyimpan nomor ponselmu. Masihkah kau mencintainya?” Jelas kulihat bagaimana alis matanya sedikit terangkat.

Sial. Mendengar nama Ardian disebut saja, sudah membuat hatiku tak karuan.

Otakku terus berputar, mencari selaksa kata agar tak menyakiti hati wanita berparas lembut ini.

“Sejak awal, tidak ada yang istimewa di antara kami. Jadi, Mbak nggak usah khawatir.” Aku berusaha meyakinkannya meski hatiku mengingkari.

Dia terdiam lalu mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya. Dahiku mengernyit. Sepertinya aku mengenali sampul surat yang warnanya memudar sedikit.

“Ini salah satu surat yang kutemukan di tumpukan dokumen suamiku.” Sonia menyodorkannya tepat di bawah cangkir kopiku.

“Aku sudah membaca suratmu dan aku tahu betapa kalian telah lama merajut cinta tanpa mampu menyadarinya,” ucapnya, tenang. “Kau hebat, Rara. Kau masih terus mencintainya hingga detik ini saat ia telah melangkah bersamaku.”

“Semuanya tidak ada artinya lagi bagiku, Mbak. Cerita kami telah usai,” sanggahku.

Wanita itu mengemasi barang-barangnya.

“Jika memang telah usai, usah kau hadir kembali dalam kehidupan kami,” ucapnya sambil berdiri, lalu melangkah pergi.

***

“Ra …,” suara lelaki itu membuyarkan lamunanku.

“Sonia sakit apa, Mas?”

Kedua matanya tampak jauh menerawang. Helaan napasnya pun terdengar berat.

Seberat itukah penderitaanmu, Mas? Sesedih itukah dirimu ditinggal Sonia? Apakah engkau merasakan hal yang sama saat aku menghilang dari kehidupanmu beberapa waktu silam?

“Sonia meninggal pasca persalinan, Ra. Dua hari kemudian, putri kecil kami menyusul ibunya.” Bahu lelaki itu terguncang. Betapa aku ingin meringankan kesedihan hatinya.

“Maaf, Ra. Tak seharusnya aku bersikap seperti ini di hadapanmu,” ujarnya sembari sibuk menyeka bulir bening di sudut matanya.

“Kau tak ingin menikah lagi, Mas?” tanyaku.

“Ra, andai aku bisa semudah itu melupakanmu, tentu aku akan menikah dengan selainmu.” Mata elangnya menatapku tanpa berkedip sedikit pun. Aku salah tingkah dibuatnya.

“Saat aku kehilangan Sonia, hanya engkaulah yang menghiasi pikiranku. Hanya kamu, Rara Paramastri.”

Aku terdiam. Mataku terpejam.

“Kuakui aku salah, Ra. Aku salah karena tak mampu mengungkapkan betapa hatiku selalu tak menentu saat engkau jauh dariku. Aku jatuh cinta padamu sejak kali pertama berjumpa denganmu di awal kita kuliah dulu.”

“Kalau kau mencintaiku, mengapa kau menikahi wanita itu, Mas? Mengapa kau buat aku tersiksa dengan perasaan semu?” tajam kutatap matanya.

Lagi. Dia menggenggam tanganku.

“Karena saat itu kaubilang kau hanya menganggapku kakak sekaligus sahabat bagimu, Ra. Aku bisa apa?”

Tahan, Ra. Jangan menangis di hadapannya.

“Sekian waktu aku mencari keberadaanmu, Ra. Aku tersiksa kehilanganmu–“

“Dan entah mengapa selalu ada jalan bagi kita untuk saling menemukan,” tukasku.

Untuk sesaat, kami bergeming.

“Aku menginginkanmu, Ra. Aku ingin menebus kesalahan.”

Senja kian temaram, wajahnya lindap tergantikan malam. Burung-burung telah kembali pulang ke sarang, tempat segala harapan teranyam.

To be continued ….

🍃🍃🍃

Ditulis untuk memenuhi tantangan pekan ke-8 ODOP yaitu membuat lima episode cerita bersambung.

Barakallahu fiikum

Photo credit: playbuzz[dot]com

SHARE:
Random Thought 0 Replies to “Sewindu”