Renita Oktavia

I read so I write

Oktober 31, 2019

Sewindu

Bismillah

PART 1 SEPOTONG HATI YANG DILANDA SEPI

Apa jadinya kala hatimu tertawan cinta, tetapi tak mampu mengungkapkannya? Kau terus memendam asa, melangitkan satu nama yang itu-itu saja.

Hingga selaksa purnama mengganti masa, kau berhasil mendapatkan ia yang kaucinta sepenuh jiwa. Bahagia membuncah memenuhi dada.

Namun, kehidupan, tak selamanya bicara tentang rona bahagia. Adakalanya nestapa memilih datang … meluluhlantakkan segenap cerita.

Tidak. Ini tak hanya tentang Ardian, lelaki dengan wajah rupawan. Atau tentang Sonia, wanita dengan sejuta pesona. Ini tentang rumus cinta bahwa satu ditambah satu sama dengan tak terhingga dan dua dikurangi satu sama dengan nol.

***

Kala itu, senandung senja tengah mendayu sendu. Lelaki berkumis tipis dengan bibir yang setiap gerakannya menciptakan senyum manis, duduk di hadapanku.

Kami menikmati secangkir kopi sembari memandang liuk sekumpulan burung terbang menari.

Sesekali kulirik ia yang sibuk menatap warna jingga yang tergores pada langit senja. Ah, sepuluh tahun berlalu dan ia tetap memesona seperti dulu.

“Kau tahu ke mana burung-burung itu terbang, Ra?” tanyanya memecah keheningan.

Aku menggeleng perlahan lalu menyesap kopiku. Mata elangnya menatapku dalam-dalam. Tatapan yang entah bagaimana membuat hatiku berdesir selama beberapa tahun ini.

“Mereka kembali ke sarang, Ra. Mereka kembali pulang,” ucapnya. Ia menghela napas. “Ra …,” lanjutnya.

“Ya.”

“Aku ingin pulang ….” Ia meraih jemariku.

“Oh, baiklah,” tukasku sembari bersiap-siap membawa tas kecilku. Kali ini tangannya menggenggam tanganku.

“Ra, bukan itu maksudku, tapi–“

“Tapi apa?” potongku.

“Aku ingin pulang ke hatimu, Ra. Masih adakah tempat itu untukku?”

Jantungku hampir saja meloncat. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya, berusaha meracik kata.

“Aku tahu sulit bagimu menerimaku setelah puluhan tahun berlalu. Tapi, izinkan aku pulang. Izinkan aku, sekali lagi merajut cinta bersamamu.”

Aku terdiam. Apa yang harus kukatakan? Tangannya begitu mudah terselip pada genggaman tangan yang lain. Sedangkan aku, sepenuh masa memberinya pendampingan, sama sekali tak ia acuhkan.

“Bukankah kau mencintai istrimu?” telisikku.

Lelaki di hadapanku mendesah. Seketika itu pula ia menundukkan kepala. Entah apa yang ada di pikirannya.

“Maksudmu Sonia?”

“Iya. Wanita yang katamu dulu berhasil membuatmu jatuh cinta hingga kaulupa kepada siapa engkau berbagi semua mimpi dan asa. Hingga kau tak sadar bahwa hanya aku tempatmu bersandar!” cecarku.

Kali ini aku merasa sangat kesal. Kesal melihat sikapnya.

“Sonia tak lagi mampu menjalankan peran sebagai istri,” jawabnya lirih.

Aku memicingkan mata.

“Oh, jadi hanya karena ia tak bisa melayanimu, lantas kau ingin meminta hatiku kembali?” Napasku tersengal.

“Ra, kamu kenapa? Kamu marah? Dengarkan dulu penjelasanku,” sergahnya.

“Nggak bisa, Mas. Aku bukan wanita murahan yang kapan saja bisa kauminta menemanimu.” Aku berdiri dan bersiap-siap pergi.

“Ra ….” Tangannya meraih pergelangan tanganku. “Duduklah sebentar lagi, biar kuselesaikan apa yang ingin kusampaikan. Lalu setelah itu, kau boleh pergi,” katanya mengiba.

Kuturuti keingainannya kali ini. Aku membuang muka. Enggan bertatap mata dengannya.

To be continued ….

🍃🍃🍃

Ditulis untuk memenuhi tantangan pekan ke-8 ODOP yaitu membuat lima episode cerita bersambung.

Barakallahu fiikum

Photo credit: pinterest.com/Giovana Melo

SHARE:
Random Thought 2 Replies to “Sewindu”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

2 thoughts on “Sewindu

    Author’s gravatar

    Jreng Jreng.. mulai cerita udah marah-marah aja nih. tapi ternyata itu yang biikin aku jadi penasara, ada apa? setelahnya, ternyata kata demi kata yang tertenun menjadi kalimat, berhasil membuat imajinasiku menyala. wah, jadi makin penasaran serius.

    ohya. ini FlashBack dari sewindu yang sebelumnya Kah? atau ceritanya baru lagi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *