Renita Oktavia

I read so I write

Oktober 24, 2019

Sewindu

Bismillah

Sewindu terpasung rindu membuat hati kian tak menentu. Hingga hari ini kuputuskan untuk menuntaskan deru yang menggebu. Aku bak jentayu menantikan hujan, meratap dan terus mengiba bilakah hujan sudi bertandang.

Kereta malam membawaku mengarungi hamparan kenangan. Terekam dalam benak adegan-adegan yang membekas dalam ingatan. Senyumku merekah persis bak Shibazakura yang mekar di pertengahan bulan April.

“Ayah sudah memberikan restu pada kita, Ra. Aku semakin yakin, kamu benar-benar mencintaiku, ‘kan?”

Kutatap mata elang lelaki itu. Tampak di matanya betapa cinta meruah di dalam sana. Aku yakin, ia pun melihat hal yang sama di mataku.

“Setelah aku jatuh ke dalam pelukanmu dan bersedia menua bersamamu, engkau masih meragukan cintaku?” Aku mendelik.

“Tidak, Ardian. Aku tidak mencintaimu, tapi sangat mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Sehari saja aku terbangun tanpamu, aku merasa seakan seluruh udara ditarik paksa dari paru-paruku,” tegasku dengan raut muka serius. Netra kami bersirobok. Lekat. Lama.

Laki-laki itu tertawa. Terlihat jelas deretan gigi putih yang mempesona. Ia pun mengacak-acak rambutku dan merengkuh diriku ke dadanya. Ah, dia memang pandai membuatku menimbun asa padanya.

***

Dua jam berlalu. Aku bergegas turun dari kereta begitu ia berhenti di stasiun terakhir di kota kelahiranku. Ojek online yang telah kupesan beberapa menit yang lalu rupanya telah siap mengantarku kembali pulang. Dinginnya udara malam tak pernah menyurutkan nyali sebagian orang untuk tetap berpeluh mengais rupiah demi rupiah.

Motor matic itu berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman orangtuaku. Segera kurogoh saku celana jeans dan kuulurkan satu lembar uang seratus ribuan. Kuminta ia mengambil kembaliannya. Aku malas bergumul dengan udara malam jika harus menunggu abang ojek menyerahkan apa yang menjadi hakku.

Segera kulangkahkan kaki memasuki rumah. Aku lelah. Pun tak kuasa ingin bertemu orang tua yang kusayang. Kedatanganku disambut pelukan hangat Ayah dan Ibu. Keningku selalu menjadi tempat bersemayamnya kecupan penuh kasih dari mereka berdua.

Ibu menggandeng tanganku menuju ruang tamu. Sementara Ayah membawakan barang-barangku.

Kursi tua dengan ukiran khas Jepara, terlihat masih cantik dan terawat baik. Jemariku menelusuri setiap detailnya. Tak ada debu tersisa di sana. Tentu saja, karena Ibu tak bisa melihat perabotan di rumah ini kotor dan berdebu.

Kuletakkan tas kecil yang sedari tadi kutenteng dan mendudukkan diri di kursi, menyandarkan bahu, dan memejamkan mataku sejenak.

Kupicingkan mata, kulirik jam dinding di ruang tamu itu masih menunjukkan angka 10. Ah, masih terlalu sore. Ibu datang membawa tiga cangkir teh dan sepiring singkong rebus. Aku beringsut memperbaiki posisi dudukku. Aku berbincang dengan Ayah dan Ibu sambil sesekali menikmati secangkir teh hangat. Ibu selalu tahu teh macam apa yang sesuai dengan lidahku.

“Makanlah yang banyak biar badanmu terlihat lebih berisi, Nak,” kata ibu sambil menyodorkan singkong rebus kesukaanku. Kuambil satu yang asapnya masih mengepul.

“Apa kau masih memikirkan Ardian?” Kali ini Ayah mulai menelisik.

Aku tersenyum. Bagaimana mungkin Ayah bisa mengetahui isi pikiranku.

“Aku baik-baik saja, Ayah. Aku hanya terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”

“Tak baik terlalu larut dalam tumpukan tugas. Cobalah sesekali melihat indahnya dunia dari belahan bumi lain.” Ibu tak mau kalah.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kami pun bergeming, terpaku dengan pikiran masing-masing.

“Kak Rara!” Aku menoleh ke arah suara. Arumi, adikku, tiba-tiba saja muncul dari dalam kamar Ayah dan Ibu.

“Kapan datang? Kok tidak menelepon dulu? Udah duduk di sini aja, sih,” celotehnya.

“Kamu ngapain di kamar Ayah?” tanyaku.

“Merapikan barang-barang Ayah dan Ibu. Nggak terasa, sewindu sudah mereka berpulang ya, Kak. Aku rindu.” Parit kecil di matanya kini mulai terlihat.

Aku masih bergeming. Bergumul dengan batinku sendiri. Dadaku sesak. Rasanya seperti ada ribuan beban yang menyeruak begitu saja. Bulir-bulir berdesakan memaksa keluar dari sudut mataku.

🍃🍃🍃

Cerpen ini merupakan tantangan pekan ketujuh di ODOP. Menulis cerita dengan 10 paragraf utuh, tanpa memgesampingkan paragraf pembuka yang memantik rasa penasaran pembaca, alhamdulillah telah kutuliskan. Entah bagaimana hasilnya, tlah kuserahkan kepada Yang Maha Kuasa. 😁😁

Barakallahu fiik

Photo credit: pinterest

SHARE:
Random Thought 2 Replies to “Sewindu”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

2 thoughts on “Sewindu

    Author’s gravatar

    Aduh ini mah bikin Speechless. tadinya mau nulis komentar “keren kak, semangat” tapi gue pikir sayang rasanya kalau tulisan seapik ini hanya dikomentari seperti itu. meski kenyataanya memang begitu, Keren! asli keren.

    Tadinya gue pikir bakal jadi cerita yang alurnya maju beberapa tahun kedepan lantas terjadi perselisihan diantara Ra-dengan Dian (Radian) bukan! Ra dengan Adrian. hehe

    Tapi ternyata BInggo! nyesek. ceritanya bikin dada sesak.

    BuRen telah sukses membawa gue tertarik membaca dengan paragraf pertamanya, dan membuat masuk kedalam cerita di paragraf-paragraf selanjutnya. sebelum di akhir, BuRen berhasil menjebakku. mempercayai kalau sedang terjadi sesuatu diantara Ra-Dian.

    Keren Bu, Semangat! hehe

    Author’s gravatar

    Kirain tentang cinta, bisa nggk ketebak ceritanya.mantap jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *