Oktober 9, 2019

Tentang Liburan dan Kematian

Bismillah

Liburan dan kematian … dua hal yang sangat bertentangan. Mungkin memang begitu adanya. Liburan menawarkan suka cita. Sebaliknya, kematian menorehkan luka. Benarkah demikian?

Liburan membuat kita sejenak bernapas lega. Terbebas dari jebakan rutinitas itu-itu saja. Terlepas dari penat yang semakin menyiksa. Adapun kematian … ia pemutus segala kenikmatan. Kematian membuat napas berhenti di kerongkongan.

Liburan adalah saat terbaik untuk berkumpul bersama orang-orang tercinta. Bercengkrama, berbagi tawa, dan menyuguhkan bahagia. Sedangkan kematian, ia membuat manusia kehilangan semuanya. Cinta, harta, dan takhta sirna tak bersisa.

Liburan merupakan moment meninggalkan kesempitan karena didera pekerjaan yang tak ada habisnya. Kematian justru meletakkan manusia di dalam lubang sempit, gelap, sendirian … selamanya.

Liburan identik dengan tawa. Adapun kematian, ia berisikan tangis dan duka yang terus berkelindan.

Liburan selalu dinanti dan kematian selalu ditakuti. Liburan disambut dengan antusias, sedangkan kematian membuat manusia cemas dan was-was.

Perspektif Islam Tentang Kematian

Islam memandang kematian sebagai saat beristirahat bagi seorang mukmin. Dengan kata lain, kematian adalah ‘liburan’ dari segala cobaan yang ada di dunia. Ia ‘berlibur’ menuju ke tempat yang abadi. Mengapa? Karena memang orientasi hidup orang yang beriman adalah akhirat.

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshari, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasulullah, maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dunia ini penuh dengan kepayahan. Seorang mukmin, tentu akan mempertimbangkan segala tindak-tanduknya untuk memperberat neraca amalan di hari Penghakiman. Apatah arti kesenangan yang diperoleh di dunia jika kelak di akhirat tak mendapat apa-apa selain siksa?

Sobat, berita kematian demi demi kematian telah menghampiri. Kita tidak pernah tahu kapan giliran kita. Hanya saja, jika hendak berlibur keliling dunia, kita sibuk mempersiapkan segala bekal dan keperluan. Lantas, bagaimana dengan ‘liburan’ kita ke akhirat kelak? Sudahkah kita persiapkan bekal yang lebih? Ataukah justru kita masih saja terlena dengan hiruk pikuk dunia?

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fiik.

PS. Tulisan ini dibuat karena melihat betapa kematian telah menyapa orang-orang terdekat. Sekaligus untuk menghibur mereka yang kehilangan.

SHARE:
Random Thought 0 Replies to “Tentang Liburan dan Kematian”