Oktober 3, 2019

Melindungi Buah Hati dari Malnutrisi

Bismillah

Bagi seorang ibu, masalah malnutrisi yang terjadi pada buah hati, memang kerap menghantui. Anda mungkin mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa, pada era teknologi seperti ini, anak-anak masih terjangkit kekurangan gizi?

Definisi Kurang Gizi

Kekurangan gizi pada anak, biasanya terjadi ketika kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi dalam jangka waktu yang lama. Saya teringat pesan yang disampaikan seorang bidan selama saya menjalani proses kehamilan. Bahwa kasus kekurangan gizi dimulai ketika seorang anak masih bayi, bahkan sejak ia berada dalam kandungan, kemungkinan tesebut bisa saja terjadi. Untuk itulah, seorang ibu hamil harus memperhatikan asupan gizi seimbang selama kehamilan.

Pemenuhan gizi anak pun, tetap harus dipantau, setidaknya sampai anak berusia 2 tahun. Sesuatu yang mungkin jarang diperhatikan, karena risiko kekurangan gizi pada anak dengan rentang usia 0-2 tahun bisa berakibat fatal.

Dalam kelas WAG bertema “Kesehatan Anak” yang saya ikuti beberapa waktu silam, dijelaskan bahwa pada umumnya, kekurangan gizi pada anak ditandai dengan:

1. Berat badan kurang (underweight) atau cenderung stagnan selama beberapa bulan,

2. Kurus (wasting),

3. Pendek (stunting), dan

4. Kekurangan vitamin dan mineral.

Gizi buruk juga dapat menyebabkan anak menjadi lebih hiperaktif dan mudah marah, lho.

Jadi, Bu, kalau selama pemeriksaan rutin di Posyandu, timbangan BB si kecil tidak mengalami kenaikan selama beberapa bulan, kita patut waspada, ya. Jangan sampai ada persepsi “Tidak masalah kalau BB anak tidak naik, selama dia masih aktif dan lincah”. Pernyataan seperti itu SALAH, karena anak sehat itu berat badannya naik, tinggi badannya naik, lingkar kepala pun sesuai dengan standar yang ada di buku KMS.

Penyebab Malnutrisi

Masalah malnutrisi yang dialami oleh sebagian besar bayi dan anak di Indonesia, tentunya tidak terlepas dari beberapa faktor. Dilansir dari Kompas, dr Saptawati Bardosono, Msc, spesialis gizi klinik dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan bahwa penyebab gizi buruk di Indonesia adalah:

1. Faktor ekonomi

Keadaan ekonomi yang sulit, kurangnya penghasilan, dan mahalnya harga bahan makanan, membuat sebagian orangtua tidak berdaya dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

2. Faktor pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan orangtua juga dinilai memengaruhi tingkat malnutrisi anak. Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya memberikan asupan makanan bergizi, membuat orangtua mengabaikan pemenuhan gizi.

3. Faktor sanitasi

Sanitasi yang buruk, tentu akan membuat anggota keluarga tidak nyaman. Akibatnya, pengolahan bahan makanan pun menjadi tidak sehat.

4. Faktor perilaku orangtua

Sebagian orangtua menganggap bahwa mereka-lah yang lebih tahu kondisi anak. Akibatnya, mereka cenderung mengabaikan keterlibatan dokter dan ahli medis untuk berkonsultasi mengenai tumbuh kembang sang buah hati.

Status Gizi di Indonesia

Pemerintah sendiri mengakui bahwa masalah gizi buruk di beberapa wilayah Indonesia timur masih tinggi. Namun, secara nasional, sudah mengalami perbaikan yang cukup signifikan.

Kita ambil contoh data yang dirilis oleh BPS pada tahun 2010. 10,51% balita (0-59 bulan) di Indonesia mengalami gizi buruk pada tahun 1998, perlahan jumlahnya menurun hingga mencapai 6,30% pada tahun 2001. Lalu, pada tahun 2005, prosentase balita dengan gizi buruk mengalami kenaikan menjadi 8,80%.

Bersumber dari riset yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan pada tahun 2018, tren balita yang mengalami masalah gizi, turun menjadi 17,7% dari tahun 2007 yang berkisar di angka 18,4%. Angka 17,7% tersebut meliputi jumlah balita yang mengalami gizi buruk sebesar 3,9% dan sisanya, 13,8% menderita gizi kurang.

sumber: databoks.katadata.co.id

Berdasarkan grafik tersebut, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 menargetkan bahwa bayi yang mengalami gizi, hanya mencapai 17% saja. Memang belum terlihat tuntas, tetapi kita patut bernapas lega. Harapan kita, tentunya, masalah gizi pada anak dan balita akan menurun tajam.

Masalah gizi ini memang tidak main-main ya, Bu. Mengingat bahwa 1000 hari pertama seorang anak merupakan usia emas bagi tumbuh kembang anak. Jika kita salah sedikit saja dalam membersamai mereka, tentu harapan masa depan Indonesia akan kandas begitu saja. Namun, kabar bahagianya, nih, Pemerintah telah berupaya menekan jumlah balita yang mengalami masalah gizi. Salah satunya adalah dengan pemberian makanan tambahan yang kaya zat gizi.

Lalu, sebagai seorang ibu, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk melindungi buah hati dari masalah gizi?

Upaya Melindungi Buah Hati dari Masalah Gizi

Selain memengaruhi proses tumbuh kembang anak, kekurangan gizi juga menyebabkan perkembangan motorik, kognitif, sistem pertahanan tubuh, dan mental menjadi tidak optimal. Anak-anak pun menjadi rentan infeksi dan penyakit kronis.

Namun, tidak perlu khawatir, Bu. Kita bisa mengupayakan pencegahan gizi buruk, kok.

1. Mengatur pola makan bergizi

Anak-anak membutuhkan nutrisi seimbang lewat asupan makanan. Nutrisi seimbang, maksudnya adalah anak mendapat pasokan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang memadai.

Seberapa banyak porsi nutrisi seimbang bagi anak? Bisa dilihat pada slogan Isi Piringku di bawah ini:

sumber: theasianparent.com

Jangan lupa, biasakan untuk membatasi pemberian junk food pada anak.

2. Memantau kondisi anak secara berkala

Memeriksakan kondisi kesehatan anak secara berkala pun tidak kalah pentingnya. Apalagi jika selama beberapa bulan, berat badannya tidak mengalami kenaikan.

Pastikan pula bahwa berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak telah sesuai dengan standar kesehatan yang ada di buku KMS.

3. Menerapkan pola hidup sehat

Orangtua adalah teladan bagi anak. Untuk itu, membiasakan pola hidup sehat pada anak, dimulai dari orangtua. Konsistensi menerapkan pola hidup sehat memang terkadang gampang-gampang susah. Namun, percayalah, Bu, akan lebih susah tatkala anak tidak tahu bagaimana menjaga kesehatan. Jadi, bersabarlah.

***

Malnutrisi pada anak memang cukup membuat ciut nyali. Namun, bukan berarti semua tak dapat dicegah dan diatasi. Intinya, pemberian makanan bergizi dan pola hidup sehat, Insya Allah akan membuat anak luput dari malnutrisi.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fiik.

Photo credit: youandkids.com

SHARE:
Random Thought 0 Replies to “Melindungi Buah Hati dari Malnutrisi”