September 29, 2019

Siapa yang Edan? Kita Atau Sang Zaman?

Bismillah

“Saiki jaman e jaman edan rek, lek ra edan ra keduman.”

(Sekarang zamannya saman edan, kalau gak ikutan edan, gak kebagian)

“Hari ini gue sial banget! Selalu aja kayak gini!”

“Wooo lha pantes aku apes terus, iki wulan Suro”

(Pantas aku sial terus, ini bulan Suro)


Sepele, Tetapi Bermasalah

Pernah mendengar kalimar-kalimat tersebut?

Saya teringat perkataan ustadz Arifin Badri hafidzahullah mengenai hal ini. Perkataan-perkataan seperti “zaman edan” dan semisalnya, kelihatannya sepele tapi secara hukum bisa menimbulkan masalah besar, lho. Kenapa? Bukan zamannya yang edan, zaman tidak pernah edan, yang edan itu manusianya!

Zaman kita saat ini tentu saja sama persis dengan zaman para Nabi dan orang shalih dari generasi terbaik.

Mataharinya masih sama dengan matahari yang menerangi kita saat ini.

Bulan yang menyapa mereka juga masih sama dengan bulan yang saat ini menyapa kita hari ini. Bulan yang selalu didengungkan dalam sajak-sajak romantis kita.

Malam-malam yang setia menemani mereka juga masih sama dengan malam yang menemani kita.

Salahnya dimana?

Yang beda itu ya sikap dan perilaku kita dengan orang saleh zaman dahulu. Mereka, para Nabi dan orang-orang saleh, mencatat lembaran sejarah kehidupan mereka dengan tinta emas. Sedangkan kita? Kita hanya bisa berbuat dosa dan memenuhi lembaran kehidupan kita dengan maksiat.

Tahu, nggak sih, bahwa kebiasaan mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik dan hal tersebut dibenci oleh Allah Ta’ala?

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

“Anak keturunan Adam menyakiti-Ku, mereka berkata: dasar zaman sial. janganlah engkau berkata: zaman sial, karena sejatinya Aku-lah yang menciptakan dan mengatur masa/ zaman. akulah yang memutar malam dan siang. Bila Aku telah menghendaki niscaya Aku akan menggenggam ( menghentikan) perputaran keduanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari sini jelas bahwa Allah-lah yang mengatur waktu, mengatur pergantian siang dan malam. Apabila kita mencela waktu dengan mengatakan, “Oh ini zaman edan”, “Oh ini bulan sial!” maka itu sama saja dengan mencela Rabb kita. Kita ini siapa sih kok berani-beraninya mencela Rabb yang menciptakan dan memberi banyak kenikmatan pada kita?

Did you know? Mencela waktu bisa menyebabkan kita masuk dalam dosa besar dan termasuk dalam syirik akbar, yaitu syirik yang bisa membatalkan keislaman seseorang! Nah lo.

Kriteria Mencela Waktu

Mencela waktu juga ada kriterianya, lho.

1. Jika tujuannya hanya untuk mengabarkan saja tanpa ada maksud mencela, maka yang seperti ini boleh.

Misal: “Hari ini aku sangat lelah karena panas banget”.

Sebagaimana Nabi Luth ‘Alaihissalam berkata dalam:

“Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud: 77)

2. Mencela waktu karena menganggap waktu-lah yang menjadi penyebab sesuatu itu baik dan buruk.

Kalau seperti ini, sudah termasuk syirik akbar, karena meyakini ada pencipta lain selain Allah.

3. Mencela waktu karena seseorang yakin Allah Ta’ala-lah penyebabnya, karena waktu-lah yang menggerakkan sesuatu yang tidak disukai.

Sekalipun hal ini tidak termasuk syirik akbar, tetap saja dihukumi dosa besar. Kenapa? Karena mencela Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin seorang hamba mencela Rabb-nya hanya karena ia tidak sabar dengan cobaan dan ujian. Ia tidak mencela Allah secara langsung, jika ia mencela Allah secara langsung dan terang-terangan maka ia terjatuh dalam kekafiran.

***

Perhatikanlah lisan kita ketika mengucapkan segala sesuatunya, Sobat. Jangan hanya bisa membebek lalu ikut-ikutan menyalahkan waktu dan Rabb kita.

Perbaiki kualitas diri dan jangan melempar kesalahan pada zaman yang kita huni saat ini.

Semoga kita bisa senantiasa menjaga lisan kita agar tidak terjatuh dalam perbuatan yang dimurkai Allah Ta’ala. Aamiin Allahumma Aamiin.

Wallahu a’lam.

Barakallahu fiik.

Referensi:

muslimah[dot]or[dot]id

SHARE:
Aqidah 0 Replies to “Siapa yang Edan? Kita Atau Sang Zaman?”