Renita Oktavia

I read so I write

September 28, 2019

[Book Review] Autumn Leaves:  Kisah di Balik Daun Musim Gugur

Bismillah

Judul buku: Autumn Leaves: Kisah di Balik Daun Musim Gugur

Pengarang: Fissilmi Hamida

Penerbit: NEA Publishing

Tahun terbit: 2019

Tebal buku: 424 halaman

ISBN: 978-623-91008-2-7

Apa yang akan engkau lakukan tatkala cinta lamamu datang menawarkan cinta sempurna, justru tepat pada saat cinta halalmu terus memberi luka dan nestapa? Ke mana kira-kira cintamu akan bermuara?

Novel Autumn Leaves ini berkisah tentang Bianina, seorang gadis asal Indonesia yang sedang mengais masa depan di Britania Raya. Berbagai kisah pun tak luput darinya. Dimulai dari Bagas Andromeda, pujaan hati yang tak peka. Hingga Raja Ali Khan, potongan masa lalu yang masih memberikan asa.

Bianina Lituhayu, si gadis penangis yang membuat Raja Ali Khan jatuh hati, dibuat gamang oleh dua lelaki. Di satu sisi, ia ingin dipahami dengan kata-kata yang menyentuh hati. Di sisi lain, Bagas tak mampu membaca betapa riuh hati Bianina karena terpisah benua.

Tak hanya itu, Nina, begitu ia disapa, mengalami peristiwa Islamophobia. Rentetan kejadian pun bermunculan. Bermula dari bom Paris yang membuat hatinya teriris karena semua mata memandangnya sebagai teroris. Ia berusaha melawan stigma. Terlebih ketika ia membaca sebuah survei yang dilakukan oleh Bristol Post, salah satu media di kota Bristol, yang mengatakan bahwa 1 dari 5 muslim Bristol adalah pendukung kaum ekstremis. Nina menangis demi membaca komentar-komentar yang tertulis di sana.

Beratnya beban akademis yang ia hadapi dan masalah yang datang bertubi-tubi, membuat ia sempat depresi. Keinginan untuk bunuh diri pun terbersit, tetapi urung karena ia seorang Nina yang hatinya mudah bangkit.

Novel dengan Diksi Manis

Jujur saja, saya bukan tipe orang yang mudah jatuh hati membaca novel, kecuali jika novel tersebut memiliki sesuatu yang unik. Kali pertama membaca blurb novel ini di laman Facebook mbak Mimi, saya tak kuasa menahan godaan.

Pemilihan diksi yang manis dan mendayu, sepertinya memang menjadi bakat mbak Mimi dalam menulis prosa ungu. Setiap kalimat selalu berakhir dengan rima yang cantik. Lihat saja potongan kalimatnya:

“Aku sendiri tak tahu kenapa aku tergelitik untuk muncul setelah lima tahun berlalu. Masih adakah rasa itu? Tentu saja. Bahkan rasa itu memang tak pernah alpa dari hatiku. Untukmu.” (Autumn Leaves halaman 382)

Kalimat-kalimat seperti inilah yang telah berhasil menyita perhatian saya. Mengapa? Karena selama ini, saya belum menemukan novel serupa dengan gaya bahasa yang luar biasa memikat.

Review novel Autumn Leaves Fissilmi Hamida
sukses bikin baper, kan?

Novel Berlatar Surakarta dan Kota-Kota Cantik di Britania

Meski novel ini didominasi oleh kota cantik Bristol, jangan salah, Autumn Leaves juga menyajikan Surakarta sebagai latar cerita. Ya. Pertemuan Raja dan Nina bermula dari sebuah perhelatan akbar di Surakarta. Sebuah pertemuan yang menjadi konflik dalam novel manis ini.

Sebagai seorang yang pernah bercita-cita melanjutkan kuliah di negeri orang, saya terpukau dengan latar novel Autumn Leaves. Mbak Mimi tidak hanya pandai mendeskripsikan setiap detail bangunan yang ia sematkan, tetapi juga menyihir pembaca untuk merasa seolah-olah berada di sana.

” … Di tengah perjalanan, aku kembali berdecak kagum. Ada sebuah bangunan super megah–yang kemudian kutahu bangunan itu adalah Bristol Cathedral–yang dikelilingi pepohonan dan kursi-kursi taman yang menawan. Di depannya, ada lembah hijau dengan puluhan orang tengah duduk di sana, dan saat musim semi tiba akan ada bunga-bunga cantik beraneka warna bermekaran mengelilinginya. Di sisi kiri, ada air mancur dan sungai buatan yang ikut menambah pesona.” (Autumn Leaves halaman 23)

Membacanya seolah ada di depan mata, bukan?

Cinta dan Islamophobia Hadir di Sana

Meski berkisah tentang ketidakpekaan seorang suami–sesuatu yang dikeluhkan sebagian istri–novel ini menyuguhkan betapa berat beban yang harus dihadapi seorang Muslimah tatkala ia mencari ilmu di negeri Sang Ratu. Ia tak hanya disibukkan dengan berbagai macam hal-hal akademis, tetapi juga bagaimana membawa diri sebagai seorang Muslimah sejati.

Autumn Leaves mengajarkan bahwa di mana pun kita berada, jangan pernah takut dengan berbagai stigma dan anggapan dunia tentang Islam. Autumn Leaves membuat kita sadar bahwa kebaikan sekecil apa pun, sangatlah bernilai untuk membela agamamu. Bahwa dakwah itu tak hanya bermodalkan dalil, tapi juga adab dan sikap.

Orang tidak akan memandang seberapa banyak buku yang telah kita baca, tetapi seberapa baik sikap kita terhadap sesama. Rasanya memang percuma kalau kita berbusa-busa membacakan isi kitab, tapi adab tak punya.

Menghadapi dunia yang memojokkan Islam, tak butuh daftar panjang dalil, tapi hanya butuh akhlaq. Ya. Hanya akhlaq. Itulah yang (mungkin) ingin disampaikan penulis, mengingat Islamophobia semakin merajalela.

Keunggulan Autumn Leaves

Selain penyajian diksi yang manis nan romantis, novel ini menyuguhkan sisi Britania yang eksotis. Penulis novel membalut setiap kejadian menjadi lebih nyata, seperti ketika Nina dikejar orang tak dikenal di kala malam, hingga menyisakan trauma tersendiri baginya. Peristiwa itu terasa hadir di depan mata pembaca.

Autumn Leaves sarat dengan pesan cinta; bukan hanya cinta seorang laki-laki dan perempuan, melainkan juga cinta terhadap sesama.

Autumn Leaves layak dibaca oleh laki-laki dan wanita yang mendamba cinta tak biasa dari pasangannya. Karena memang kebutuhan wanita sebagai seorang istri adalah diperhatikan setulus hati, dipuji bak permaisuri, dan dihujani dengan kata-kata puitis. Terlebih, ada sebagian suami yang tidak peka dengan perasaan istri, hingga saat laki-laki lain dari masa lalu datang, sang suami akan bingung bukan kepalang. Alih-alih introspeksi diri, yang ada hanyalah menyalahkan sang istri.

Kelemahan

Well, saya kok belum menemukan kekurangan dari novel ini. Desain cover minimalis, tetapi manis. Penggambaran karakternya sangat kuat. Jenis kertas dan font yang enak untuk dibaca. Pun demikian dengan layout-nya.

Ah, mungkin satu kelemahannya. Akhir cerita yang sungguh di luar dugaan, padahal saya sudah menghabiskan tisu berlembar-lembar hahaha. FYI, untuk novel setebal ini, saya hanya butuh waktu 2 hari untuk ‘melahapnya’, sebuah pencapaian luar biasa, bukan?

Untukmu yang sedang dilanda duka, galau menentukan kepada siapa hatimu bermuara, bacalah Autumn Leaves: Kisah di Balik Daun Musim Gugur.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fiik.

PS. Thank you, mbak Mimi, for writing this lovely novel.

SHARE:
Random Thought 10 Replies to “[Book Review] Autumn Leaves:  Kisah di Balik Daun Musim Gugur”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

10 thoughts on “[Book Review] Autumn Leaves:  Kisah di Balik Daun Musim Gugur

    Author’s gravatar

    Wah, jadi kepengin baca… 😍

    Ceritanya seperti nyata, karena memang mba Mimi pernah tinggal (atau masih?) di Inggris sana ya, jadi mengenal dengan baik setiap latar yang ia paparkan dalam novel tersebut…

    Hanya bisa dibeli secara online kah bukunya? 🙏

    Author’s gravatar

    Iya, Mbak. Beliau pernah tinggal di sana dan sekarang di Jogja. Ada reseller-nya kalau gak salah, Mbak. Di FB Mbak Mimi ada.

    Nyesel kalau gak beli novel ini. Novel Canting yang sebelum ini juga bagus banget, cuman aku belum beli xixixi

    Author’s gravatar

    Wah, review-nya detil euy. Bikin yang isi dompet yang baca tertarik untuk memunculkan diri, pingin barter sama si buku ini. 😂

      Author’s gravatar

      Wah Masya Allah, tulisanku dikomentari mbak Afin 😍😍😍❤❤❤. Ayolah beli novelnya, tapi jangan lupa untuk menyiapkan tisu, ya, hahahahah.

      Makasih banget udah mampir, Mbak Afin 🌹🌹

    Author’s gravatar

    Pingin tau juga bukunya. Sering denger namanya. Terimakasih telah berbagi 😊👍

      Author’s gravatar

      Sama-sama, Mbak Steffi 😘😘. Terima kasih sudah mampir 🌹🌹

    Author’s gravatar

    Jadi banyak pembelajaran dan hikmah pastinya ya mbak..gimana suami harus memperlakukan istri ..layak dibaca nih

      Author’s gravatar

      Betul, Mbak Sakifah. Tapi bacanya harus berdua sama suami biar doi tahu 😁😁

      Terima kasih atas komentarnya, Mbak 😘😘😘🌹🌹🌹

    Author’s gravatar

    Masyaa Allah, konfliknya mengangkat topik yang luar biasa nih, akan rumit sepertinya kalau sudah ada sapaan dari cinta masa lalu (?) dan, of course, Islamophobia…. Iyakah Umm?

    Suka dengan review-nya! Thank you, Ummu ‘Aashim 💓

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *