Renita Oktavia

I read so I write

September 21, 2019

Fiksi Atau Non Fiksi, Kupilih Satu yang Pasti

Bismillah

Memilih satu di antara dua–fiksi atau non fiksi, nyatanya menyisakan tanda tanya. Apakah aku benar-benar menyukainya ataukah semata hanya pelarian saja?

Sebagaimana kutipan yang mengatakan bahwa ketika kau dihadapkan pada dua pilihan yang menyita perhatian, maka pilihlah yang kedua. Mengapa? Karena jika kau benar-benar mencintai yang pertama, tentunya kau takkan jatuh cinta pada yang datang setelahnya.

Ah. Memang benar adanya.

Lalu kini, mana yang sebaiknya kupilih, fiksi atau non fiksi?

Jatuh Hati pada Tulisan Non Fiksi

Kalau ditanya, mengapa jatuh hati pada tulisan non fiksi, saya bingung menjawabnya. Mengapa? Entahlah, tidak butuh alasan ketika harus mencintai sesuatu, bukan?

Menulis non fiksi … rasanya lebih mudah saja. Saya hanya perlu membaca, mempersiapkan banyak referensi, menelaah, lalu mengembangkannya sendiri. Tentu saja, dibumbui agar tak basi.

Demi menyalurkan hasrat yang menggelora pada non fiksi, saya pun menulis di blog, untuk kali pertama. Itu pun semasa masih duduk di bangku kuliah semester pertama. Saya menuliskan tulisan-tulisan berisi opini pribadi hingga materi perkuliahan. Dari situlah saya belajar mengolah kata. Segala keluh kesah tertuang di sana. Curhatan receh ala anak kuliah pun bertebaran di ruang maya.

Saat itu, tidak pernah terpikirkan untuk serius menulis. Sampai akhirnya saya menikah dan ada sesuatu yang ‘hilang’. Aktivitas nge-blog pun tersita.

Baca: Merencanakan Umur Kedua dengan Menjadi Narablog

Kehidupan setelah menikah, rupanya berhasil mengubah diri saya. Rajin mengikuti kajian Muslimah hingga mencatat hal-hal berfaedah. Saya pun merasa tergugah. Hingga memutuskan untuk membuat tulisan yang lebih terarah.

Dan di sinilah … saya menulis hasil belajar dan pemikiran seorang ibu muda. Selain menulis di blog, saya memberanikan diri menulis di beberapa media online seperti Plukme (sekarang sudah berhenti), IDN Times, Estrilook (khusus segment Muslimah), dan Good News From Indonesia. Namun, lebih sering di blog, sih hahaha.

Ya … gimana ya, saya bukan seorang sosialita yang selalu up-to-date perkembangan trend lifestyle, saya juga bukan seorang ahli masak apalagi influencer dengan jutaan follower. Tidak. Saya hanya seorang Research Associate Pengembangan Hubungan Sosial Masyarakat, atau dalam keadaan normal, saya disebut sebagai Ibu Rumah Tangga biasa. Di rumah, saya dikelilingi dengan buku-buku agama yang sengaja disediakan oleh suami tercinta. Jadi bagaimana mungkin saya menulis di luar tema yang telah diciptakan sedemikian rupa oleh lelaki pujaan saya, hahaha.

Pada tahun ini pula, memoar perjalanan menjadi seorang ibu, pendidik, proses hijrah, dan tulisan dakwah telah terangkum manis dalam empat buku antologi non fiksi saya. Satu buku non fiksi bersama komunitas perempuan menulis, saat ini alhamdulillah sedang dalam proses layout.

Blurb tulisan saya di proyek Komunitas Perempuan Menulis.

Bukunya masih bisa dipesan. Hijrah Journey sedang PO kedua sampai 25 September 2019.

Mulai Melirik ke Fiksi yang Unik

Meski berkutat dengan tulisan non fiksi, kadang terbersit untuk menulis fiksi. Kali pertama menulis fiksi ketika ada tantangan 30 DJ2 yang diselenggarakan oleh Onepeach Media dan Amateur Writer Indonesia. Sebenarnya tidak harus menulis fiksi sih saat itu, tapi saya menantang diri saya sendiri untuk menyulam kata, menyampaikan pesan yang mungkin tak tersampaikan lewat jenis fiksi.

Alhamdulillah, saya berhasil menyelesaikan tantangan dan tulisan terbaik saya masuk dalam antologi Kubiarkan Kau Terus Bercerita.

Yang ini juga masih bisa dipesan.

Ketagihan menulis fiksi, di bulan ini, saya berhasil membukukan senandika yang telah mengendap di draft. Alhamdulillah, antologi keenam dan ketujuh saya telah lahir.

Fresh from the oven. Bisa dipesan juga.

Bagaimana rasanya menulis fiksi? Jujur saja, sebagai seseorang yang terbiasa menulis opini dan memoar, saya masih merasa kesulitan menorehkan tulisan fiksi. Tidak mudah menghadirkan imajinasi tingkat tinggi demi menulis fiksi. Bahkan, ketika saya harus menuliskan satu cerpen mix genre, saya gevoelig (baca: sensitif alias baper)ketika mereka adegan dan dialog-nya di dalam kepala.

Saya angkat topi bagi teman-teman yang piawai menulis puisi dan jenis tulisan fiksi lainnya.

***

Fiksi atau non fiksi, bagi saya, semua harus sesuai porsi. Adakalanya, di saat ketidakwarasan melanda jiwa, tulisan semacam puisi atau fiksi mini, mampu menjadi salah satu pengobat hati.

Di sisi lain, hidup itu butuh asupan gizi untuk bekal di kemudian hari. Karena itu, saya merencanakan umur kedua hingga detik ini melalui tulisan-tulisan non fiksi. Sesuatu yang Insya Allah bisa menjadi penolong saya ketika mati.

Demikianlah, fiksi dan non fiksi saling melengkapi dalam kehidupan saya.

Barakallahu fiik

SHARE:
Random Thought 10 Replies to “Fiksi Atau Non Fiksi, Kupilih Satu yang Pasti”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

10 thoughts on “Fiksi Atau Non Fiksi, Kupilih Satu yang Pasti

    Author’s gravatar

    Mbak ren selalu keren nulis keduanya 😍😍🤗🤗🤗

      Author’s gravatar

      Masya Allah, baru ku-post, udah ada tamu xixixi. Jazaakillah khair mbak Rin ❤❤. Ku-check yah blog-mu. Sebenarnya aku sering mampir kemarin tu, cuman karena kolom komentar tertutup, kuurungkan untuk berkomentar ria 😁😁

    Author’s gravatar

    aku baru tahu ada istilah yang mengatakan kalau ada dua pilihan maka pilih yang kedua. tapi, kalau ada dua bukankah artinya yang pertama adalah cinta pertama kemudian yang kedua adalah pelakor/pebinor/? hehe tidak usah dianggap serius. semoga bahagia dengan pilihannya saat ini.

      Author’s gravatar

      Ahahhahaha itu quote dari Johny Deep ‘Jack Sparrow’, Mas.

    Author’s gravatar

    Hwaa hidup non fiksi yaay..

    Author’s gravatar

    Fiksi dan non fiksi, ku pilih satu yang pasti.. Keren.. Semangat kaak

    Author’s gravatar

    Duh…jatuh cinta sama tulisannya mbak..wa fik Barakallah mbak. Kayaknya bakal sering mampir belajar kesini deh

    Author’s gravatar

    Semangat, Kak..

    Saya sulit nulis non fiksi yang apik macam akak punya 💐💐💐

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *