Renita Oktavia

I read so I write

September 10, 2019

Inspiring Power dari Generasi Terbaik Sepanjang Masa: Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu

Bismillah

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika salah seorang di antara kalian menafkahkan emas sebesar bukit Uhud, itu belum menandingi satu mud dari pencapaian mereka. Bahkan setengah mud pun belum.” (Muttafaq ‘alaih)

Ungkapan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut menggambarkan betapa agung para sahabat di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga beliau sungguh tidak rela apabila di antara mereka ada yang dicela. Sanjungan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini tidaklah berlebihan, sebab Allah Ta’ala berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 100:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.”

Siapakah para sahabat ini, apa saja sih kontribusi nereka untuk Islam, sehingga Allah Ta’ala dan Rasul-Nya menorehkan tinta emas untuk sejarah kehidupan mereka dalam ayat-Nya dan hadits Rasul?

***

Izinkan kali ini saya mengajak kalian menelusuri jejak para generasi terbaik umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana seri sebelumnya, pada seri Sahabat ini, akan terbagi menjadi beberapa bagian. Semoga dengan mempelajari Sirah Nabawiyyah, bertambahlah kecintaan kita kepada mereka. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Selayaknya kita mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Salafush shalih dengan kecintaan yang paling jujur dan paling dalam.

Kecintaan terhadap mereka tidak akan pernah menghasilkan kesedihan dan kesengsaraan. Dan kecintaan terhadap mereka, hanya akan didapat dengan mempelajari perjalanan hidup mereka dan mengambil teladan darinya.

Saya akan memulainya dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Mengapa saya memilihnya? Karena beliau mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semenjak beliau kecil hingga akhir hayatnya.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu

Anas bin Malik atau lebih sering dipanggil dengan Unais (Anas kecil). Unais adalah panggilan kesayangan yang ditujukan untuk beliau.

Siapakah ibunya? Adalah al-Gumaisha, atau dalam beberapa riwayat ada yang menyebut bahwa nama ibunda Anas adalah ar-Rumaisha. Wanita luar biasa yang telah mengisi dada Anas dengan rasa cinta teramat dalam kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jika kecintaan Anas kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangatlah dalam, bahkan sebelum beliau bertemu dengan Nabi yang mulia, tentu ibundanyalah yang sering menggambarkan sosok Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebuah pelajaran penting bagi para ibu, yakni mengenalkan figur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sekalipun mungkin belum pernah bertatap muka.

Unais selalu menginginkan bertemu dengan Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia pun berharap dapat menemui Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Makkah atau Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam-lah yang datang ke Yatsrib.

Bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Keinginan Unais pun terwujud. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar ash-Shiddiq pun menuju ke Yatsrib (baca: Madinah). Seisi kota menyambutnya dengan penuh suka cita. Tua muda, bahkan anak-anak kecil, termasuk Anas, ikut berjejal memadati jalan-jalan penuh berkah yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan shahabatnya.

Kaum wanita dan para gadis remaja pun tak mau ketinggalan. Mereka yang biasa berdiam di dalam rumah, ikut berhamburan keluar menaiki atap-atap rumah mereka sembari bertanya-tanya, “Yang mana yang bernama Muhammad? Yang manakah dia?”

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tidak pernah melupakan hari tersebut. Hari di mana ia kali pertama berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hari di mana impiannya terwujud, berdekatan dengan orang yang dicintainya. Hari paling bersejarah yang terus melekat dalam ingatannya selama seratus tahun lebih.

Setelah beberapa lama berada di Madinah, seluruh kaum Anshar memberi hadiah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ibunda Anas, al-Ghumaisha binti Milhan, datang bersama putranya menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia mengatakan bahwa ia tak memiliki apapun untuk dijadikan hadiah. Ia hanya memiliki anak laki-lakinya, yaitu Anas. Ibunda Anas pun menyerahkan putranya yang saat itu berusia sepuluh tahun untuk berkhidmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat berbahagia. Tangannya yang mulia mengusap lembut kepala Unais. Beliau pun menganggap Unais sebagai keluarga.

Berkhidmat kepada Manusia yang Mulia

Kebersamaan selama sepuluh tahun bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat membekas dalam dada Anas. Berada di bawah bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, telah membuat Anas mengenal kepribadian agung Beliau yang tidak diketahui orang lain. Ia mampu memahami hadits dan mengenal akhlaq Beliau. Ia dilimpahi kasih sayang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, melebihi kasih sayang seorang ayah ke anaknya. Jiwanya disucikan dengan keluhuran perangai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sungguh semua itu membuat dunia iri kepada Anas.

Anas bin Malik pun bercerita tentang betapa baiknya akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau orang yang lapang dada dan begitu besar kasih sayangnya.

Ia berkata bahwa suatu hari ia pernah diminta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengerjakan suatu keperluan. Dia pun menunaikan tugasnya. Namun, saat berada di pasar, ia bertemu dengan beberapa anak, ia pun bermain bersama mereka. Ia terlupa dengan tugasnya. Sampai akhirnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di belakangnya dan sambil tersenyum, Beliau berkata, “Wahai Unais, sudahkah kamu pergi seperti yang aku perintahkan?”. Anas yang salah tingkah pun langsung pergi sesuai perintah Beliau.

Begitulah Rasul yang Agung tersebut. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menanyakan alasan mengapa Unais melakukan dan meninggalkan sesuatu. Terkadang, sebagai ungkapan kasih sayang, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil Anas dengan sebutan Unais. Dan terkadang Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggilnya dengan sebutan, “Wahai anakku ….”

Hati dan jiwa Anas pun dipenuhi dengan nasihat dan petuah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satunya adalah sabda Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunnahku, barangsiapa menghidupkan sunnahku maka dia mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku maka berarti ia bersamaku di surga. Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu, maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu mendoakan Anas, “Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya, berkahilah dia padanya.”

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun menjadi orang yang paling banyak harta dan keturunannya. Umurnya pun diberkahi Allah Ta’ala. Ia menjadi rujukan kaum Muslimin tentang perkara agama dan hukum-hukum di luar jangkauan pemahaman mereka.

Petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun ia hidupkan, ia sebarkan sabda-sabda Beliau di kalangan manusia, bahkan setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat. Ia sangat bersungguh mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia mencintai apa yang Beliau cintai, ia membenci apa yang Beliau benci.

Dua Hari yang Tak Lekang dari Ingatan

Seumur hidupnya, selama 103 tahun, ingatannya tak pernah lepas dari masa-masa saat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dua hari yang selalu ia kenang, yaitu saat pertemuannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan saat Beliau wafat.

Ketika mengingat hari ia pertama kali berjumpa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia sangat begembira dan bersuka cita. Matanya berbinar saat menceritakannya. Namun, saat mengingat perpisahannya dengan Beliau, ia sangat bersedih, sehingga orang-orang yang mendengarnya turut bersedih dan menangis.

Anas selalu mengulang setiap sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia pun banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengatakan bahwa ia ingin bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhirat kelak.

“Aku adalah pelayan kecilmu, Unais.”

Kalimat itulah yang ingin ia sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kelak di hari Kiamat.

Saat menjelang detik-detik terakhirnya, Anas selalu mengucapkan La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah. Ia juga berpesan agar jasadnya dikuburkan bersama tongkat kecil milik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu … Allah Ta’ala telah melimpahkan kebaikan untuknya. Memiliki seorang ibu yang salehah. Sepuluh tahun berada di bawah bimbingan dan didikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Semoga Allah Ta’ala membalas beliau dan ibunya atas segala jerih payah dan kontribusinya untuk kaum Muslimin dengan segala kebaikan. Aamiin Allahumma Aamiin.

Hikmah kisah

Hikmah apa yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu?

1. Orangtua hendaknya menanamkan kecintaan anak terhadap figur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sejak mereka kecil.

2. Bolehnya meminta anak berguru kepada orang yang berilmu.

Referensi:

Mereka Adalah Para Shahabat: Kisah-Kisah Manusia Pilihan dari Generasi Terbaik Umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam oleh DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

Barakallahu fiik

Photo credit:

khazanah.republika.co.id

Edited with Canva

SHARE:
Sirah Nabawiyyah One Reply to “Inspiring Power dari Generasi Terbaik Sepanjang Masa: Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

One comment on “Inspiring Power dari Generasi Terbaik Sepanjang Masa: Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu

    Author’s gravatar

    Kisah ini mengingatkan aku pada liqo atau kholaqoh yang terdiri dari 5-9 orang murid yang dibimbing oleh 1 orang Murabbi .. Selalu ada qultum tentang kisah dari sahabat Rasulullah sallallahi ‘alaihi wassalam, atau ulama lain di zaman yang berbeda.

    terimakasih sudah menuliskanya disini. hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *